Mahasiswa Belajar Budidaya Ikan ke Petani

0
459
KUNJUNGAN: Mahasiswa UMRAH, Imay Jullianty (paling kiri) bersama mahasiswi lainnya saat mengunjungi petani budidaya ikan di Kampung Madong yang diketuai Amzah. F-ISTIMEWA

TANJUNGPINANG – Mahasiswi Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji (FIKP-UMRAH) turun ke petani budidaya ikan untuk belajar di lapangan.
Kegiatan itu merupakan metodologi penelitian dengan wawancara yang perlu menggandeng petani budidaya ikan.

Seperti yang dilakukan salah satu kelompok mahasiswi FIKP-UMRAH semester Lima, Imay Jullianty. Melalui kegiatan ini, lebih banyak mendegarkan dan mengetahui terkait budidaya ikan di Kampung Madong, Kecamatan Tanjungpinang Kota. Pihaknya menemui ketua petani budidaya ikan, Amza. Kelompok ini memilih membudidayakan ikan kerapu.

Dari pertemuan itu, mahasiswa mengetahui banyak hal. Diantaranya, persoalan atau kendala yang muncul untuk budidaya ikan. Seperti halnya jenis pakan, dan penyakit pada ikan serta bagaimana cara mengatasinya.
Petani budidaya ikan di Kampung Madung cukup aktif. Mampu menerangkan kepada mahasiswa, yang tujuannya bertukar informasi.

”Kami belajar pembudidayanya, terkait faktor air yang mendukung perkembangan ikan. Selain itu, apa saja jenis dan dari mana pakannya. Setelah itu, bagaimana proses penyaluran ke pasar atau jualnya setelah panen,” ujar Imay Julianty.

Ia menuturkan, kelompok Amaza memproses kembangbiakan ikan dengan bibit unggul. Menurutnya, sejauh ini persoalan bibit dan penyakit ikan menjadi kendala utama bagi petani budidaya.

Amzah mengungkapkan, masa efektif panen ikan kerapu hanya setahun sekali. Kini mendapatkan bibit unggul sulit, dan para kelompok budidaya pun terpaksa mengganti ikan membudidayakan kakap putih.

Hamza menuturkan, pihaknya sekarang membudidayakan ikan kakap putih, yang harga bibit unggulnya Rp 18 ribu per ekor. Dengan masa panennya 8 bulan.

Mereka juga memiliki kendala yaitu adanya penyakit menyerang ikan. Ini menjadi faktor berkurangnya hasil panen. Tak jarang, beberapa ikan terserang penyakit seperti kudis pada kulit ikan.

Untuk kudis, sambungnya, masih dapat diobati dengan cara tradisional atau diberi obat dari Dinas Perikanan Pmeko Tanjungpinang dan pihak Karantina. ”Penyakit yang berbabahaya bagi ikan yaitu ber lendir pada kulit. Jika ikan terjadi ikan langsung mati tanpa bisa diobati. Hingga kini belum ada obatnya, dan pihak karantina ikan juga bingung terhadap penyakit itu.

Dengan adanya mahasiswa yang datang untuk praktik, pihak kelompok budidaya ikan sangat senang dan berharap dapat menerima pengetahuan baru. Terkait hal ini, mahasiswa akan mendiskusikan kembali ke dosen pembingbing. (abh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here