Mahasiswa dan Budaya Literasi

0
105
Jeri Nata Kusuma. Ar

Oleh: Jeri Nata Kusuma. Ar
Mahasiswa jurusan Tadris Bahasa Inggris
STAI Miftahul Ulum Tanjungpinang

Mahasiswa adalah salah satu pelajar yang tingkatannya lebih tinggi dibandingkan dari siswa . Mahasiswa sangat berperan penting dalam suatu perubahan di masyarakat. Berbeda dengan siswa, mahasiswa dituntut untuk lebih aktif di dalam ruang pembelajaran untuk menginterpretasikan apa yang diketahuinya melalui pemikirannya yang kemudian disampaikan kembali. Sesuai dengan julukan mahasiswa sebagai agent of changes, seharusnya mahasiswa mampu memberi suatu perubahan untuk sekitarnya. Dalam suatu perubahan yang dibawa oleh mahasiswa, budaya literasi tidak pernah lepas darinya.

Budaya literasi itu sangatlah penting diterapkan dalam lingkup pendidikan terutama lingkungan univerisita/kampus yang pemikirannya sudah masuk dalam taraf kematangan. Dalam KBBI, literasi merupakan kemampuan menulis dan membaca. Kemampuan tersebut harus diasah sejak dini. Namun, melihat perkembangan teknologi yang semakin pesat, membuat mahasiswa sekarang menjadi tersisihkan oleh suatu bacaan maupun tulisan. Maka mereka menganggap budaya literasi merupakan budaya kuno atau yang mereka sebut dengan jadul atau ketinggalan zaman.

Tingkat literasi pada suatu negara ini berpengaruh penting dalam wawasan suatu masyarakat di negara tersebut dan berpengaruh untuk membangun kualitas suatu bangsa. Kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan dihasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang didapat, sedangkan ilmu pengetahuan didapat dari informasi yang diperoleh dari lisan maupun tulisan.

Indonesia termasuk dalam salah satu negara yang tingkatan literasinya rendah, itu terbukti bahwa generasi sekarang lebih menyukai menonton televisi atau gadget daripada membaca buku karena membaca dapat membuat mereka menjadi bosan dan jenuh sementara jika mereka bermain gadget dan menonton televisi dapat membuat mereka menjadi senang dengan hal tersebut . Berdasarkan sensus Badan Pusat Statistik (BPS) di 2006 menunjukkan 85,9 persen masyarakat memilih menonton televisi daripada mendengarkan radio (40,3 persen) dan membaca koran (23,5 persen). Di dalam suatu ruang lingkup kampus, mahasiswa harus mempunyai kemampuan berliterasi.

Rendahnya kemampuan berliterasi juga bisa kita lihat di sosial media. Ilmu literasi tidak hanya sekedar bagai mana menulis dengan baik dan benar. Namun juga bagai mana menulis yang santun dan tidak berbohong dalam penyampaian tulisa. Maraknya hoaks, tingginya kalimat-kalimat ujaran kebencian baik berupa satire, sakarsme juga sebagai tanda minimnya pengetahuan berliterasi.

Tanpa adanya budaya literasi yang tidak ditanamkan di dalam diri seseorang seperti makan sayur tanpa garam. Karena dengan literasi kita bisa mendapatkan pengetahuan lebih. Seperti pepatah mengatakan tanpa pengetahuan hidup serasa mati, tak tahu arah tujuan. Dengan adanya budaya literasi, mahasiswa mampu mengasah daya kritis akan suatu masalah yang timbul di lingkungan sekitar.

Banyak berbagai faktor yang mempengaruhi rendahnya budaya literasi di kalangan remaja, baik dibangku kuliah maupun bangku sekolah konvensional. Kebiasaan membaca dan menulis menjadi faktor utama kenapa budaya literasi tidak diminati oleh generasi z. Dr. Roger Farr (1984) menyebutkan bahwa “reading is the heart of education”. Seharusnya para orang tua mampu membina dan mendidik anak-anaknya untuk terbiasa akan sebuah bacaan maupun tulisan, agar nantinya mereka tidak buta pengetahuan. Sebab dengan membaca kita dapat membuka jendela dunia, membuka pengetahuan seluas-luasnya untuk menuju suatu masa depan yang cerah.

Membaca merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan baru. Dengan kegiatan membaca kita dapat mengasah susunan paragraf yang benar, menggunaan diksi kata yang sesuai dengan EBI dan membiasakan diri dengan budaya literasi. Pembiasaan yang terus diasah akan membuahkan hasil nantinya, dengan adanya pembelajaran tentang literasi kita dapat mengetahui bagaimana menyusun kalimat yang benar dan sinkron.

Literasi bagi mahasiswa sangat bermanfaat untuk penyusunan tugas akhir baik skripsi, tesis, dan tugas-tugas kuliah lainnya. Tanpa kita membiasakan berliterasi kita akan kesulitan dalam penyusunan tugas akhir tersebut dan akan membutuhkan seorang pendamping. Maka dari itu budaya literasi dalam ranah mahasiswa sangat berperan penting dalam kelangsungan hidup mahasiswa dalam menempuh pendidikan.

Belum terlambat bagi kita semua untuk memulai ilmu literasi. Ayo mulaid engan menulis hal-hal yang baik dan yang bermanfaat bagi pembaca kita. Kegunaannya, selain sebagai ajang belajar bagi penulisnya juga sebagai ladang amal bagi kita sebagai bekal kelak. Dan bagi pembacanya, akan mendapatkan pengetahuan yang baik dari tulisan-tilisan yang kita sampaikan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here