Mahasiswa Dibekali Sejarah STAIN-SAR

0
120
CIVITAS Akademika STAIN-SAR Kepri saat mendengarkan pidato Ketua STAIN-SAR Muhammad Faisal terkait sejarah berdirinya STAIN-SAR dan menonton sejarah melalui video. f-istimewa

BINTAN – Pihak kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Sultan Abdurrahman (STAIN-SAR) Kepulauan Riau (Kepri), mengajak seluruh civitas akademika STAIN-SAR saksikan sejarah berdirinya kampus tersebut.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Ketua STAIN-SAR Kepri Dr. Muhammad Faisal, M.Ag dan dihadiri oleh segenap civitas akademika STAIN-SAR Kepri yang memenuhi Auditorium Razali Jaya.

Kegiatan ini dalam rangka memperingatan 1 Muharram 1441 H ini, yang dimulai dengan pemutaran video pendek sejarah Sultan Abdurrahman Mu’azzam Syah II dan awal mula berdirinya Kampus STAIN SAR Kepri, Selasa (3/9) kemarin.

Ketua STAIN-SAR Kepri, Dr. Muhammad Faisal, M.Ag juga mengisi meramahnya yang menceritakan awal mula berdirinya STAIN dan tentang Transformasi STAIN saat ini, yang berdasarkan pertimbangan para tetua dan Lembaga Adat Melayu (LAM).

Sehingga, akhirnya nama kampus adalah STAIN Sultan Abdurrahman. Muhammad Faisal juga menambahkan, bahwa transformasi tidak akan pernah bisa jika kita tidak berlandaskan konsep keilmuan.

”Dengan keilmuan, kita bisa mempelajari secara simultan apa yang didapat dikampus tercinta ini,” terang Muhammad Faisal waktu itu.

Lebih lanjut, Muhammad Faisal menuturkan, tugas dosen itu tidak hanya mengajar di kampus semata. Melainkan, tugas dosen itu ada empat dan pertama pendidikan dan pengajaran.

Setelah itu, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan ada penunjang lainnya.

”Kondisi ini harap dipahami mahasiswa, kalau dosen tidak hadir dalam proses perkuliahan berarti mereka ada tugas lain dan dosen harus memberi informasi kepada Ketua Jurusan (Kajur) dan Ketua Prodi (Ka Prodi) tentang ketidakhadiran mereka,” jelas Muhammad Faisal.

Dalam kesempatan ini juga, Muhammad Faisal turut menerangkan tentang ikon kampus yang dipakai yakni Lebah.

”Lebah banyak mengajarkan kita tentang pengalaman hidup, Lebah memiliki lingkungan sosial yang terstruktur. Masing-masing lebah memiliki peran, dan job desk masing-masing serta menguasai perannya dengan baik,” terangnya.

”Secara genetik, mereka di program untuk tidak menyalahi wilayah, yang bukan merupakan wewenangnya. Jika ini di ibaratkan ke seorang pegawai, dia mampu mengetahui perannya di tempat dimana dia bekerja dengan baik dan menguasai peran tersebut. Maka kinerjanya akan meningkat dan perlahan mengantarkannya pada kesuksesan,” ungkap Faisal.

Begitu juga jika kampus mampu menerapkan hal ini, maka tak akan ada konflik peran.

Meski memiliki peran berbeda-beda, kawanan lebah hanya memiliki satu tujuan yang sama dan begitu juga dengan kampus.

”Pemimpin harus mampu menjabarkan tujuan profesional secara jelas, sehingga para dosen dan pegawai dengan berbagai macam peran bersama-sama melangkah untuk satu tujuan pasti di masa depan,” imbuhnya.

Terakhir, Muhammad Faisal berpesan, ketepatan waktu adalah etika profesional umum yang tak jarang dilanggar oleh semua orang. Menurutnya, filosofi bagi hewan Lebah tak boleh ada kata terlambat.

Mereka bergantung pada matahari saat mencari makan, sehingga lebah akan berangkat ketika matahari terbit dan pulang saat matahari terbenam.

”Kepatan waktu adalah cara lebah untuk mendapatkan hasil optimal. Begitu juga bagi dosen pegawai.Tepat waktu juga akan memberikan hasil optimal, karena civitas akademika menggunakan waktunya dengan efektif. Selain itu dengan tepat waktu, Anda tak akan mengalami stres karena terlambat,” tutupnya. (abh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here