Mahasiswa Sosiologi Teliti Budaya Suku Laut

0
1438
BELAJAR: Siswa-siswi Suku Laut sedang melaksanakan proses belajar mengajar. f-DOK TANJUNGPINANG POS

TANJUNGPINANG – Mahasiswa Sosilogi dari Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) akan melakukan penelitian terkait budaya kehidupan pada Suku Laut.
Mahasiswi Sosiologi UMRAH yang akan meneliti kehidupan budaya Suku Laut, Lastri menuturkan, banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.

Unsur- unsur sosial budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial, yang dilakukan oleh manusia pada suatu kelompok budaya. Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama suatu kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Selain itu, budaya suatu polah hidup yang menyeluruh, serta bersifat kompleks, abstrak, dan luas.

”Tahun 1908 ada sekelompok suku Melayu yang menggunakan rakit datang dari Lingga dan Dabo Singkep. Mereka datang untuk mengembangkan budaya dan adat istiadat Melayu,” ujar Lastri kepada Tanjungpinang Pos, kamarin.
Seperti pada sejarah Desa Berakit, sebelum tahun 1908 telah dihuni bangsa Tionghoa.

Baca Juga :  LDK Bentuk Karakter Kepemimpinan Mahasiswa

Terlihat dari peninggalan-peninggalannya seperti kebun karet, pembuatan kapur dan gambir serta pembuatan keramik kuno. Sehubungan dengan hal tersebut, mendarat lah sekelompok suku Melayu di Pantai Berakit yang belum diberi nama.

”Mereka mulai merintis daerah tersebut, untuk mencari sumber kehidupan dan lama-kelamaan mereka mulai mendiami daerah tersebut hingga memperoleh keturunan. Setelah itu mereka mulai menebang hutan untuk dijadikan lahan pertanian kebun kelapa,” terangnya.

”Dari kajian yang saya dapatkan, setelah sekelompok suku Melayu yang menggunakan rakit mendiami daerah tersebut, kemudian mereka memberi nama berdasarkan pulau-pulau yang ada disekitar pulau tersebut hingga mereka namakan dengan Berakit,” ucap Lastri.

Baca Juga :  KDN Bahas Kerukunan Beragama

Setelah Belanda mulai menduduki Kota Tanjungpinang, maka perubahan ekonomi masyarakat mulai membaik dengan adanya penjualan barang yang dibebaskan keluar negeri seperti hasil pertanian kelapa. Pada masa itu, masyarakat Berakit mulai membangun rumah-rumah dari hasil penjualan kelapa.

”Secara geografis, Desa Berakit merupakan wilayah daratan rendah dengan ketinggian 13 meter dari permukaan laut yang terdiri dari pesisir pantai,” ungkap Lastri. Budayanya masih terpelihara dengan baik dalam kehidupan masyarakat Desa Berakit, dilihat dari segi agama yaitu diantaranya melaksanakan Maulid Nabi, dan budaya gotong royong untuk membangun sarana umum dan rumah dengan baik.

Baca Juga :  Pemkab Natuna Kerja sama dengan BTP Bangun Pariwisata

”Bahkan menariknya, masih menyediakan bubur sura serta beberapa jenis makanan lainnya saat Ramadan,” tambahnya. Konon Suku Laut atau orang laut, mempunyai peranan penting untuk menjaga Selat-Selat, mengusir bajak laut, memandu para pedagang kepelabuhan Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Malaka, dan Sultan Johor dalam mempertahankan hegemoni didaerah tersebut. Sistem kepercayaan yang dianut suku laut masi kepercayaan animisme.(ADLY BARA)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here