Mahasiswa Stisipol Bahas Pendidikan Natuna

0
224
MAHASISWA dan mahasiswi KKN Kampus Stisipol Raja Haji Tanjungpinang kelompok Desa Air Lengit Natuna ketika berdiskusi dengan kepala sekolah MTs Babburahmah Evi Wijaya, Rabu (25/7). F-istimewa

NATUNA – Berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat, tentunya memerlukan berbagai pandangan untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi.

Seperti halnya lingkup pendidikan yang tentunya terus menjadi perhatian bagi masyarakat secara bersama-sama. Untuk itu, aktivitas Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Stisipol) Raja Haji Tanjungpinang turut membantu mencarikan solusi setiap persoalan yang ada di Natuna. Sebab, seperti yang terjadi yakni minimnya minat untuk bersekolah di Madrasah tsanawiyah (MTs) Babburahmah di Kecamatan Bunguran Tengah.

Karena calon siswa, lebih memilih sekolah SMP dari pada MTs. Hal itu disampaikan Kepala Sekolah MTs Babburahmah Evi Wijaya, Rabu (25/7) kemarin.

”Pak Evi menyampaikan hal itu ketika kami berkunjung ke MTs Babburahmah Natuna. Pada kesempatan itu, kami pun sempat berdiskusi terkait apa solusinya agar MTs diminati,” jelas Andyani Nita Ayu Rahmawati, mahasiswi Stisipol Raja Haji jurusan Sosiologi di Desa Air Lengit Kecamatan Bunguran Tengah.

Andyani bersama kelompok Kuliah Kerja Nyata dia, juga memberikan saran dalam diskusi tersebut. Saran itu dengan mengusulkan adanya batasan dari pihak berwenang yakni Dinas Pendidikan Pemkab Natuna mengenai pembatasan siswa yang masuk ke SMP.

Jika usulan itu nantinya disetujui oleh Bupati Natuna melalui Dinas Pendidikan, maka sekolah-sekolah yang ada baik SMP dan MTs juga dapat menerima siswa baru dengan jumlah yang relatif sama.

Mengingat sekolah yang berada di Desa Air Lengit Natuna itu sudah mempunyai bangunan sekolah sendiri dan sangat disayangkan jika bangunan sekolah MTs Babburahmah itu tidak dimanfaatkan dengan baik

”Karena jumlah sekolah masih sedikit, jadi yang namanya sistem zonasi tidak ada. Dengan demikian, tentunya perlu regulasi untuk menyelesaikan persoalan minimnya siswa masuk ke MTs,” terang Andyani.

Sebab, dari segi sistem pembelajaran SMP dan MTs sama saja tidak ada yang beda. Pada kesempatan itu, ia bersama 8 mahasiswa-mahasiswi lainnya juga melihat langsung beberapa fasilitas sekolah MTs Babburahmah. Walau terhitung masih kurang fasilitas, namun semangat guru-guru mengajar patut dibanggakan.

Sebab, kekurangan tenaga pengajar menjadikan guru-guru yang ada merangkap dalam mengajar dua mata pelajaran. Ini tentunya menjadi persoalan tersendiri, dan untungnya para guru bersemangat.

”Dengan kondisi terbatas, seperti di wilayah perbatasan memang membutuhkan tenaga pengajar dengan jumlah besar. Mengingat rentang kendali juga menjadi faktor utama, serta kebutuhan dasar yang memadai seperti halnya jaringan telekomunikasi dan transportasi,” sebutnya. (abh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here