Malas Periksa, Penderita Kanker Serviks Makin Banyak

0
460
MENTERI TINJAU STAN: Menteri Kesehatan RI, Nila Djuwita F Moeloek meninjau sejumlah stan kesehatan usai membuka Rapat Kerja Kesehatan Daerah Kepri di Nagoya, Batam, Selasa (11/7). f-martua/tanjungpinang pos

Angka penderita kanker serviks sudah semakin mengkhawatirkan. Ini akibat rendahnya kesadaran para wanita usia subur memeriksa lebih dini kemungkinan terkena kanker serviks dan kanker payudara.

TANJUNGPINANG – Selama dua tahun terakhir, sudah ada enam orang meninggal karena kanker serviks. Selain itu, ada tiga orang juga yang meninggal karena kanker payudara. Sesuai data tercatat Puskesmas di Kota Tanjungpinang, tahun 2015 pemeriksaan kanker serviks berjumlah 797 orang. Hasilnya, Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) positif 25 orang (3,1%), dan benjolan payudara 11 orang.

Pada 2016, pemeriksaan IVA mencapai 1.214 orang, dengan hasil IVA positif 25 orang (2,1%) dan benjolan payudara 62 orang. Pemeriksaan IVA ke 1.657 orang pada Januari sampai Agustus 2017 yang positif 11 orang dan benjolan payudara 19 orang.

Sedangkan data dari Rumah Sakit Daerah Provinsi Kepri, pada 2015 pasien yang dirujuk dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) ke rumah sakit, penderita kanker payudara sebanyak 48 orang, 1 orang meninggal dunia.

Kemudian, penderita kanker serviks 19 orang, 1 orang meninggal dunia. Pada 2016, pasien penderita kanker payudara sebanyak 62 orang, 3 orang meninggal dunia. Dan penderita kanker serviks 27 orang, meninggal dunia 5 orang. Agar angka penderita kanker serviks dan payudara terus menurun di Tanjungpinang, Wali Kota Tanjungpinang H Lis Darmansyah mencanangkan bulan deteksi dini kanker serviks dan payudara dengan metode IVA dan Sadanis, di Aula Kantor Kelurahan Sei Jang Tanjungpinang, Senin (2/10).

Kegiatan ini digelar oleh Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana bekerjasama dengan Kejaksaan Negeri Tanjungpinang. Kegiatan ini digelar dalam rangka hari kanker sedunia dengan tema ’Wujudkan Wanita Indonesia Bebas Kanker’.

Kata Lis, penyakit kanker menjadi masalah di dunia, termasuk Indonesia. Karena jumlah penderitanya dan angka kematiannya terus meningkat. Kanker serviks menduduki urutan ke dua. Menurut perkiraan Kementerian Kesehatan RI, saat ini jumlah wanita penderita baru kanker serviks berkisar 900-100 kasus per 100.000 penduduk. Artinya setiap tahun terjadi 40 ribu kasus kanker serviks.

Oleh karena itu, Lis mengimbau masyarakat, terutama kaum wanita, agar melakukan pemeriksaan dini kesehatan payudara dan kanker serviks secara rutin. Pemeriksaan kanker serviks bisa di rumah sakit, Puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya yang terdekat.

”Usia 70 tahun pun masih ada kemungkinan bisa terkena penyakit serviks ini. Dengan deteksi dini, kanker dapat ditemui lebih awal, sehingga keberhasilan pengobatan semakin besar untuk sembuh,” bebernya.

Kata Lis, mudah-mudahan, melalui kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat agar bersedia melakukan deteksi dini kanker serviks dan payudara. Dengan demikian penyakit ini bisa kita cegah bersama-sama dalam mewujudkan wanita Indonesia bebas kanker, khususnya ibu-ibu yang ada di Kota Tanjungpinang.

”Selamat mengikuti edukasi dan deteksi dini, semoga ilmu yang diperoleh dapat menambah wawasan sekaligus dipraktekkan dalam deteksi dini secara mandiri,” ungkapnya. Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Tanjungpinang, Hj. Yuniarni, Pustoko Weni, SH, menjelaskan bahwa program ini sudah beberapa kali dilaksanakan. Namun, namun masih ada ibu-ibu yang takut diperiksa kesehatannya.

”Memang sulit meyakinkan warga agar mereka mau memeriksakan diri. Ntah mereka malu, cemas atau takut, sampai-sampai harus dibujuk supaya rutin memeriksakan dirinya agar terhindar dari kanker serviks dan payudara, tetap tidak mau datang ke dokter,” terang Weni.

Anggota DPRD Provinsi Kepri ini, mengatakan kanker serviks dan payudara menjadi pembunuh utama para perempuan di Indonesia. Kaum perempuan harus lebih sadar kalau kanker sangat sulit untuk diobati, apalagi sudah masuk stadium lanjut. Karena itu, perempuan harus bisa mencegah penyakit ini, salah satunya dengan deteksi dini secara rutin,” pesan Weni.

Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Rustam, menambahkan, resiko kanker payudara meningkat seiring usia bertambah. Untuk wanita berusia 50-70 tahun dianjurkan memeriksakan kesehatan diri setiap tiga tahun sekali. Program deteksi dini dan sosialisasi sering lakukan, guna memberika informasi kepada masyarakat. Tetama wanita usia subur.(ABAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here