Mana Tanah Perkuburanku?

0
902
Dian Fadillah, S.Sos

Oleh: Dian Fadillah, S.Sos
Ketua PKBM Suara Lampion Provindi, Kepri

Kubur berasal dari bahasa Arab yaitu “Kufur” berarti menanam atau memendam sesuatu. Biasanya yang ditanam di dalam tanah dan hal itu adalah jasad atau jenazah manusia atau bangkai hewan. Pada dahulu kalanya ditanam di dalam tanah merupakan tuntutan adat yang harus dilakukan untuk menguburkan seorang keturunan di sebuah lokasi perkuburan. Penguburan dilakukan apakah itu kuburan kaum, kelompok ataupun keluarga besar yang sudah disiapkan. Tempat tempat yang digunakan untuk lokasi penguburan adalah gua atau lubang dlm karang dan terkadang terpaksa dikuburkan di tempat lain kalau ia meninggal jauh dari kuburan keluarga dan ditandai dengan sebuah tugu dan pohon besar sebagai pengingat keluarga dan family. Rangkaian kegiatan waktu orang meninggal penuh dengan aneka ragam aktivitas Tangisan, ratapan dan duka cita yang dalam sesuai dengan waktu perkabungan dan pengenaan pakaian karung sampai 7 hari dan selanjutnya. Kemudian tubuh itu dibungkus dengan kain lenan yg telah diolah dan dibalut keseluruhannya dan ada juga diikuti dengan Pembalseman seperti orang orang terdahulu agar bisa dalam jangka waktu yang lama.

Kuburan-kuburan yang dipersiapkan biasanya dan kebanyakan berada di luar kota jauh dari keramaian masyarakat yg dikhususkan untuk ‘kuburan masyarakat dan biasanya tidak terlepas dari tanda timbunan batu dan tanah sedemikian rupa, sehingga tulang-tulangnya dapat dikuburkan dalam tanah yang sudah disiapkan. Sebahagian masyarakat memiliki rangkaian acara pemakaman yang berbeda beda yaitu jenazah dimandikan, di kafani, di Sholatkan dan diantarkan ke kuburan sehingga dapat memberikan kesan positif. Ada juga diikuti dengan menangis, meratap dan memukul-mukul dada sebagaimanan kebiasan di Timur Tengah, dan terdapat juga dalam Tapi penguburannya dilaksanakan selekas mungkin sesudah orang meninggal, biasanya pada hari itu juga.

Baca Juga :  Pancasila Tetap jadi Kebutuhan Primer Bangsa Indonesia

Suatu tanah perkuburan umum biasanya berada di luar kota yang dijadikan sebagai kuburan umum dan kuburan khusus bagi perseorangan atau keluarga. Banyak kelompok-kelompok tertentu yang diikuti dengan keberadaan peti jenazah tingga di bawa ke kuburan dengan dipikul di atas tandu sederhana. Permasalahan yang terjadi saat ini khususnya di Tanjungpinang Kota Gurindam tercinta bahwa Lahan kuburan yang sudah dipersiapkan lama sudah mulai penuh dan terkesan tumpang tindih saat dengan bentuh dan model yang tak terarah dan kurang terawat.

Tanah perkuburan itu juga tidak cocok lagi dilihat dari perkembangan angka kematian sudah tidak sesuai dalam konteks kezamanan dan peradaban. Menurut Badan Pusat Statistik RI bahwa jumlah penduduk di Indonesia tahun 2010 adalah 237.641.326 jiwa yang penghitungannya dilakukan setiap 10 tahun sekali, artinya Badan Pusat Statistik akan melakukan sensus penduduk pada tahun 2020 mendatang. Meskipun demikian jumlah penduduk Indonesia tahun 2017 bisa menghitung dengan melihat laju pertumbuhan setiap tahunnya karena berdasarkan data yang dikeluarkan bank dunia, yaitu laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,2%/ tahun maka jumlah penduduk tahun 2017 adalah 256.603.197 juta jiwa (Hanya sekedar hitung-hitungan kasar)

Baca Juga :  Korona Masuk, Menteri Tunda Kucuran Dana Influencer

Kondisi actual saat ini adalah kita bisa bayangkan berapa jumlah penduduk di Indonesia pada tahun 2030, bisa mencapai 300 juta jiwa sementara tanah perkuburan tidak dipersiapkan lebih banyak dengan adanya lokasi lokasi baru dan tentunya akan membuat keseimbangan antara tanah perkuburan dengan prediksi orang meninggal sehingga nanti bisa dimungkinkan adanya kesulitan masyarakat dalam menguburakn sanak keluarga yang meninggal dunia. Lokasi lokasi di Km 11, Km 7, Km 5 dan Taman Bahagia, Pohon Lanjut dirasa kurang sehingga perlu mencari lokasi lokasi baru diluar keramaianan masyaarakat dengan memanfaatkan lahan kosong dalam perkembangan nantinya. Lokasi khusus yang diperuntukkan bagi masyarakat yang meninggal harus berpikir kepadatan saat ini.

Baca Juga :  Pantang Plastik di Laut Kepri

Untuk menghindari permasalahan kekurangan tanah kuburan ada tugas penting Pemerintah Daerah saat ini adalah bahwa bagaimana membuat terobosan baru dengan mendapatkan daerah baru dan lokasi baru untuk tanah perkuburan umum atau khusus.

Hal itu penting karena itulah akhir proses yang akan dihadapi setiap manusia yang hidup di dunia. Suatu tempat terakhir yang dijadikan pemakanan atau persemayaman terakhir secara terarah. Perkuburan yang secara aturan berada di bawah dinas terkait sehingga masyarakat menjadi senang, tenang dan nyaman untuk menggunakannya tanpa harus bingung dimana akan dikebumikan atau timbul rasa was was dan takut akan digusur nantinya. Yang meninggal tidak akan tenang karena terusik dan keluarga yang ditinggalkan juga akan ketakutan merasa tidak dianggap sebagai ahli waris yang benar. Semoga Pemerintah daerah bisa melihat ini sebagai hal yang penting dan menjadikan ini tugas bersaama terutama pemerintah daerah menuju polaritas “Smart Country” di masyarakat yang membutuhkan. ***  

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here