Manfaatkan Gerhana Matahari untuk Wisata

0
172
Observatorium Bosscha Bandung, perwakilan ITB dan Alumni 1983 ITB memberi penjelasan kepada guru-guru yang ikut pelatihan terkait alat khusus melihat matahari. Foto : Desi Liza Purba/Tanjungpinang Pos

TANJUNGPINANG – Gerhana Matahari Cincin (GMC) akan terjadi 26 Desember 2019 nanti. Momen ini akan dimanfaatkan sebagai ajang promosi wisata Tanjungpinang.

Para guru IPA juga dilibatkan dan dilatih teknik-teknik melihat gerhana matahari sekaligus membuat alat sederhana agar bisa menjelaskannya pada siswa.

Para guru yang terdiri dari tingkat SD, SMP dan SMA sederajat di Tanjungpinang mengikuti pelatihan Astronomi dan Science Technology, Engineering Art dan Mathematioch (STEAM).

Kegiatan ini ditaja Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang dengan menggandeng narasumber perwakilan dari Observatorium Bosscha Bandung, perwakilan ITB dan Alumni 1983 ITB.

Kegiatan dilaksanakan selama dua hari, Jumat-Sabtu (23-24 Agustus) di Aula SMPN 4 Tanjungpinang. Pelatihan ini merupakan rangkaian persiapan pelaksanakaan Festival GMC yang bisa disaksikan masyarakat Tanjungpinang secara bersamaan.

Hadir dalam pembukaan pelatihan, Walikota Tanjungpinang H Syahrul didampingi Staf Ahli, HZ Dadang AG, Kepala Bappelitbang, Rully Fiandy, Kadisdik Tanjungpinang, Atmaddinata dan Kepala Dinas Pariwisata Tanjungpinang, Surjadi.

H Syahrul menuturkan, Tanjungpinang khususnya Pulau Penyengat memiliki kontribusi yang sangat besar dalam perbintangan Melayu.

”Para Cendikiawan di Pulau Penyengat pada abad ke-19 telah menulis berbagai buku perbintangan, diantaranya syair raksi oleh Raja Engku Haji Tua, Raja Ahmad Tabib dalam syair raksi macam baru, Ilmu Falakiyah tentang perhitungan dan rumus ilmu falak,” tuturnya.

Melalui pelatihan guru astronomi dan STEAM ini, ucap H Syahrul diharapkan akan semakin menumbuhkan kepedulian dan peningkatan pengetahuan tentang astronomi.

“Terimakasih kepada Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung yang telah menginisiasi acara ini serta mempercayai Kota Tanjungpinang sebagai tempat observasi gerhana matahari cincin,” singkatnya.

Surjadi menuturkan, sesuai hasil penelitian para ahli, Tanjungpinang menjadi salah satu daerah yang bisa menyaksikan GMC hampir sempurna dibandingkan beberapa daerah lainnya.

Sebagai informasi, fenomena ini terjadi ketika Bulan berada segaris dengan Bumi dan Matahari. Serta Bulan berada pada titik apogee (terjauh), piringan bulan akan tampak lebih kecil daripada piringan matahari hingga tidak menutupi seluruhnya.

Ia menuturkan, momen ini dijadikan sebagai peluang mempromosikan pariwisata Tanjungpinang. Berbagai persiapan dilaksanakan dengan menggandeng beberapa OPD salah satunya Dinas Pendidikan Tanjungpinang, Diskominfo dan Beppelitbang Tanjungpinang serta Dispar itu sendiri.

Surjadi menuturkan, pihaknya sudah menyusun beberapa agenda. Diantaranya, momen puncak Festival GMC akan melaksanakan beberapa kegiatan.

Selain melaksanakan salat bersama juga akan ada kegiatan melihat gerhana matahari secara bersama-sama dengan dipusatkan di dua lokasi. Yaitu di Taman Laman Boenda dan Pulau Penyengat.

Dituturkannya, lembaga Observatorium Bosscha Bandung akan menyediakan alat yang dapat digunakan masyarakat melihat GMC itu sendiri.

”Disediakan alat sebab tidak bisa melihat gernaha tanpa alat bantuan atau alat sebagai pelindung mata,” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos di sela-sela acara.

Ditambahkannya, momen ini sangat langka. Terakhir terjadi dengan fenomena yang hampir sama persis tahun 1963 lalu.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat turut serta menyaksikan fenomena ini. Hal ini menyangkut ilmu pengetahuan, mereka pun melibatkan para guru agar bisa menjelaskan kepada siswa. Alam Sebagai Modal Pengetahuan

Ketua tim Observatorium Bosscha Bandung, Premana W Premadi Phd menuturkan, melalui kegiatan ini, para guru mendapatkan pelatihan membuat alat sederhana melihat gerhana matahari nantinya.

Ia menilai, banyak hal dasar namun tidak banyak siswa yang tahu. Misalnya melihat mata angin, Barat, Timur, Utara dan Selatan terkadang siswa bingung. Padahal, melalui matahari dan banyangan harusnya sudah bisa tahu.

”Banyak anak-anak yang bingung, ini terlihat sederhana, pelajaran dasar namun ini modal,” tuturnya.

Dengan tegas dia mengatakan, dilarang melihat proses gerhana matahari tanpa alat khusus atau alat sederhana yang juga dilengkapi dengan filter matahari.

”Berbeda dengan puncak gerhana matahari yang terjadi sekitar tiga menitan tersebut bisa melepas alat pelindung mata. Itu tidak masalah, tetapi saat proses dan waktu biasa dilarang. Karena khawatir merusak kesehatan mata,” ucapnya.

Dituturkannya, melalui kegiatan pelatihan ini, mengingatkan kembali semangat bahwa alam menjadi sumber pengetahuan tradisional yang banyak manfaatnya.

Terkait waktu gerhana mata hari cincin sekitar tiga jam lebih, mulai dari poses sampai dengan puncak proses berakhirnya.

”Kalau puncaknya cuman sekitar 3 menitan pas di tengah hari. Tetapi masyarakat sudah bisa melihat nantinya dari proses membentuk gerhana matahari cincin sampai berakhirnya,” ucapnya.

Ia menilai, momen langka ini bisa menjadi meningkatkan kunjungan wisatan. Itu terlihat pada fenomena gerhana matahari total pada 2016 di beberapa daerah di Indonesia.

Dituturkannya, beberapa daerah yang bisa menyaksikan gerhana matahari cincin yang tepatnya diantaranya Sinabang, Sibolga, Padang Sidempuan, Duri, Siak, Padang, Batam, Tanjungpinang, Singkawang. Kemudian Kalimantan Timur bagian Utara, Kalimantan Utara bagian Selatan.

Wali Kota Tanjungpinang, H. Syahrul, S.Pd menjelaskan Tanjungpinang khususnya Pulau Penyengat memiliki kontribusi yang sangat besar dalam perbintangan Melayu,”Para Cendikiawan di Pulau Penyengat pada abad ke-19 telah menulis berbagai buku perbintangan, diantaranya syair raksi oleh Raja Engku Haji Tua, Raja Ahmad Tabib dalam syair raksi macam baru, Ilmu Falakiyah tentang perhitungan dan rumus ilmu falak”, terang Wali Kota sebelum membuka kegiatan secara resmi.

Melalui pelatihan guru astronomi dan STEAM ini, ucap Wali Kota, diharapkan akan semakin menumbuhkan kepedulian dan peningkatan pengetahuan tentang astronomi,”Terimakasih kepada Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung yang telah menginisiasi acara ini serta mempercayai Kota Tanjungpinang sebagai tempat observasi gerhana matahari cincin”, tutupny. (dlp)

Waktu terjadinya GMC 26 Desember 2019:
Awal gerhana sebagian (P1): 10:29:08 WIB
Awal gerhana cincin (U1) : 12:24:18 WIB
Maksimum: 12:26:05 WIB
Akhir gerhana cincin (U4) : 12:27:53 WIB
Akhir gerhana sebagian (P4): 14:20:04 WIB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here