Manifesto Guillermo

0
132

Tinjauan The Shape of Water Film Terbaik Academy Awards 2018

SEJAK dinominasikan sebanyak 13 kategori pada Academy Awards tahun ini, The Shape of Water besutan sutradara senior Guillermo del Toro kontan membetot perhatian khalayak. Sampai sebegitukah kedudukan prestisius untuk sebuah film khayali ihwal percintaan seorang gadis bisu dengan seekor monster amfibi? Skeptisme yang wajar. Mengingat nomine lain di kategori film trebaik adalah daftar yang tidak buruk.

Tapi tetap. Dewan juri harus memutuskan satu film terbaik pada helatan apresiasi sinema paling prestisius di kolong langit ini. Dan, kita semua sudah tahu jawabannya. The Shape of Water menggondol empat piala. Termasuk di antaranya predikat film terbaik dan sutradara terbaik. Raihan ini mengungguli Dunkirk besutan Christoper Nolan yang menawarkan keindahan visual tak biasa dalam sinema berlatar perang.

Jika Anda sudah menonton The Shape of Water, mari bersepakat ketika film habis ada pertanyaan besar: mengapa film semacam ini bisa sukses di Oscar? Jika Anda tipikal penonton yang rutin menyimak deretan film terbaik Oscar tiap tahun, tentu tidak akan heran. Namun, jika baru satu dua mencerna film-film terbaik Oscar, siap-siaplah sakit kepala. Tenang saja. Semua orang pernah mengalami hal serupa.

Kembali ke The Shape of Water. Secara ringkas, premis film ini adalah cinta ganjil manusia dengan monster. Sebuah potret cinta yang sudah berulang kali terekam dalam lanskap sinema Hollywood. Beauty and The Beast, misalnya yang baru dibuat ulang setahun lalu. Kurang lebih begitulah kisah-kisah cinta ganjil itu. Guillermo mengaku memang sedang tidak menawarkan suatu tema yang baru. Namun, bagi saya, di situlah kelihaian seorang Guillermo. Pada The Shape of Water, ia menampilkan sebuah manifesto tanpa kata.

Sebagaimana dikutip CNN Indonesia, seorang profesor dari Syracuse University sekaligus penulis buku A Place of Darkness: The Rhetoric of Horror in Early American Cinema, Kendall Phillips mengatakan ada keunikan cara Guillermo dalam mengisahkan film ini ketimbang film monster lainnya. Kehadiran monster amfibi itu dinilai Phillips berhasil memberikan kesan humanis yang mampu membangkitkan simpati dari penonton yang notabene manusia.

“Di sini kita memiliki film yang mengisahkan sebuah cerita cinta yang amat indah, tentang dua entitas yang merasa terkoneksi dan bukan bagian dari dunia, dan mereka ternyata mampu menjembatani jurang yang ada itu,” kata Phillips.

Manifesto yang coba dibangun Guillermo terwujud dalam kontradiksi yang ditumpuk-tumpuk, bertindih-tindih, berkelindang-kait dalam cerita. Kontras ini kemudian bukan berujung pada chaos, tapi harmoni. Lihat hubungan erat antara Elisa dan Giles, juga Elisa dan Zelda, yang notabene saling bersinggungan namun bisa satu suara dalam menyelamatkan nasib monster amfibi dari pembunuhan.

Cinta memang mendayu. Seklise itu. Dalam The Shape of Water juga masih muncul jenis cinta semacam itu. Namun, itu sekadar bungkus yang amat rapi dan halus dalam menyimpan pertanyaan-pertanyaan (mungkin gugatan-gugatan) Guillermo pada dunia. Saya suka melihat cara film ini diwarnai dengan gradasi kehijauan.

Mulai dari lokasi laboratarium rahasia yang jadi latar utama, dan bahkan sampai warna puding di lukisan Giles. Rasa-rasanya warna hijau yang dominan hadir di nyaris sepanjang film ini punya mengangkut manifesto Guillermo. Simbol uang? Bisa jadi. Dan memang uang serta pangkat juga loyalitas kepada atasannya yang membutakan Richard Strickland ingin segera membunuh monster amfibi itu. Namun, setinggi-tinggi nafsu kolonel itu tidak sejalan lurus dengan kisah akhir. Kongkalikong Elisa, Giles, Zelda, dan dr. Robert Hoffstetler yang memenangkan pelarian monster itu lewat keranjang cucian.

Manifesto lain yang coba dilontarkan Guillermo ihwal religiositas. Saya belum membaca artikel berkelindan. Namun, ketika Giles mendapati rambutnya tumbuh kembali usai diusap monster amfibi, ia sampai menyebut, barangkali ia adalah tuhan. Krisis keimanan semacam ini mewabah di seantero dunia. Tuhan kini lebih sering terganti dengan tuhan. Utamanya sesuatu yang datang tiba-tiba dan memberikan perubahan seketika. Pada mulanya Giles sendiri sempat menafikan perasaan itu, tetapi gugur keyakinannya ketika benar seusap telapak tangan monster itu mengentaskannya dari kebotakan bertahun-tahun.

Manifesto-manifesto besar yang dibungkus rapi dan halus dalam sebuah cinta ganjil. Saya menamainya ini nilai lebih Guillermo dibandingkan pembangunan struktur cerita dalam nomine lain kategori film terbaik.

Misi atau agenda atau pesan atau suara dari sebuah karya seni, boleh bertumpuk-tumpuk. Namun, tanpa balutan manis yang melingkupinya, sebagaimana Guillermo melakukannya dalam The Shape of Water, akan dikenang sebagai propaganda. Dan bahkan kredit lebih buat Guillermo yang meramu dengan jitu sekali pun dua tokohnya bisu. Di sinilah, peribahasa diam itu emas terasa benar adanya.

Pengabdi Imajinasi
Sosok Guillermo del Torro punya kekhasan unggul dibandingkan sutradara atau penulis kenamaan lain di alam Hollywood. Kemampuannya mengabdi pada imajinasi liar dalam kepala hanya milik dia dan tiada dua. Sineas Meksiko ini menolak patuh pada aturan pasar. Justru, ia memakasakan pasar takluk pada alam berpikir penuh absurditas rekaannya.

The Shape of Water bukan debutan Guillermo di bidang imajinasi yang melahirkan fantasi. Tercatat, ada enam film sebelumnya yang amat baik dan diterima publik. Sebut saja, Mimic: The Director’s Cut (1997) yang bercerita tentang wabah penyakit berbahaya di Manhattan yang disebabkan oleh salah satu jenis kecoak.

Atau yang lain, macam Cronos (1993) yang Menggunakan vampir sebagai sentranya, film ini berkisah tentang sebuah alat misterius yang didesain untuk bikin pemiliknya memiliki kehidupan abadi. Alat tersebut telah menghilang selama beberapa ratus tahun dan muncul kembali dengan risiko yang mematikan dan diperebutkan berbagai pihak.

Dan tentu tidak mungkin meminggirkan Pan’s Labyrinth (2006), Hell Boy 2: The Golden Army (2008), dan Pacific Rim (2013) yang masing-masing dari film ini menuai sambutan publik yang amat baik. Lalu tentu The Shape of Water (2017) yang seolah menjadi penyempurna dari deretan karya imajinasi Guillermo.

“Satu hal yang membuatku cukup senang adalah setelah bertahun-tahun kita melihat bagaimana film-film yang bisa dibilang tak prestisius kini memiliki kesempatan bersanding dengan film-film prestisius yang ada. Lihat saja, cerita fantasi seperti The Lord of the Rings mendapatkan tempatnya,” terang Guillermo mengenai imannya pada kekuatan lain di luar nalar kepala.

Jenis iman yang kini justru sering ditampik oleh banyak pengarang atau sineas kita hari ini. Padahal, tidak pernah kekurangan suatu pun legenda dalam alam pikir manusia Indonesia. Maka dengan keterpilihan The Shape of Water pada panggung utama Oscar tahun ini ada harapan iman terhadap kekuatan imajinasi pengarang dan sineas kita bisa semakin tebal. Sehingga, kita punya banyak pilihan di layar bioskop selain cinta-cintaan yang wagu dan menyedihkan itu.***

Oleh: FATIH MUFTIH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here