Mantan Menteri Agama Datang ke STAIN

0
73
Mantan Menteri Agama RI, Prof DR H Said Agil Hussein Al-Munawwar menjadi narasumber di semnar yang dilaksanakan Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau.

BINTAN – Mantan Menteri Agama RI, Prof DR H Said Agil Hussein Al-Munawwar berkunjung ke Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau.

Didaulat menjadi salah satu narasumber Seminar Tafsir Alquran yang dilaksanakan Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau.

Kegiatan dilaksanakan di Auditorium Razali Jaya, Selasa, (30/4) kemarin. Serta menghadirkan narasumber lainnya DR H Yusnar Yusuf Rangkuti MSc PhD.

Seminar kali ini mengambil tema Membela Alquran di Tengah Gempuran Liberalisme. Di buka Wakil Ketua I STAIN SAR, Aris Bintania M Ag dan dihadiri segenap Civitas Akademika STAIN SAR.

Ia berterimakasih atas kehadiran narasumber, yang diyakini materi yang disampaikan bisa menjadi ilmu bagi segenap civitas akademika yang hadir. Begitu juga kepada peserta yaitu mahasiswa.

Prof. Said Agil Hussein Al-munawwar mengatakan, berbicara Alquran artinya membahas kata yang tidak ada ujungnya bagaikan laut yang tidak bertepi, agar bisa menggali serta harus mempunyai seperangkat ilmu untuk mempelajarinya.

Ia menambahkan, menafsirkan Alquran itu ada syarat-syaratnya, tidak sembarangan. Salah satunya yaitu menguasai ilmu dan teksnya, di saat sudah memahami ayat-ayat Alquran itu dengan benar maka harus memaknai dengan penuh keterbukaan, karena tidak semua orang bisa menafsirkan.

“Kita bisa menghormati orang karena ilmu yang didalami, kalau kita tidak bisa menghormati orang lain itu berarti yang bersangkutan ilmunya masih sangat dangkal karena merasa diri sendiri paling benar,” ucapnya.

DR H Yusnar Yusuf Rangkuti MSc PhD yang juga Ketua Umum PB Al Washliyah mengatakan, Liberalisme adalah ideologi dan tidak berdasar pada Alquran. Saat ini masyarakat dihadapkan pada orang yang menafsirkan Alquran bukan dibidangnya, ini tantangan bersama, yang menyampaikan tidak mengerti apalagi yang mendengarkan.

“Perdamaian itu harus kita kedepankan. Rasul tidak pernah mengajarkan kita untuk bermusuhan, perbedaan itu sunnatullah. Maka tugas kita melanjutkan perjuangan pendahulu dengan melakukan penelitian, rajin menulis, apakah meringkas buku atau menterjemah, merangkum pemikiran tokoh-tokoh,” tuturnya.

Ia menuturkan, belajar itu tidak ada kata selesai. Begitu juga dalam mempelajari Alquran dan Hadits karena isi sangat luas. (dlp).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here