Manusia Makhluk Paling Mulia

0
107
Drs. H. Muhammad Idris DM, MM, MSi

Oleh: Drs. H. Muhammad Idris DM, MM, MSi
Dekan Fakultas Ekonomi UMRAH Tanjungpinang

Allah SWT menciptakan Manusia sebagai makhluk yang paling mulai dibandingkan dengan makhluk yang lainnya. Bentuk lebih bagus, kekuatan pikirannya sangat tajam dan perasaannya sangat halus, dari waktu kewaktu menusia mengalami kemajuan-kemajuan dalam segala lapangan, baik dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi maupun peradaban dan kebudayaan.

Oleh karena itu tidak ada manusia yang hidupnya sia-sia di permukaan bumi ini, setiap manusia mempunyai kelebihan dan kehebatan. Tinggal manusia itu sendiri yang memelihara karunia Allah, bisa memanfaatkan atau tidak, kerena semua manusia diciptakan oleh Allah dengan ciptaan yang paling mulia, paling baik dan sempurna. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: “Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam betuk yang sebaik-baiknya” (AQS. At-Tiem/95 ayat 4)

Kemulian dan kehebatan manusia itu telah disaksikan oleh makhluk lain, ketika disuruh menyebut nama-nama benda yang ada di alam raya ini, manusia mampu menyebutnya satu persatu, tetapi makhluk lain tidak mampu menyebutnya, seperti jin dan malaikat.

Manusia diutus kedunia ini untuk menjadi khalifah, juga kerana kehebatan dan kemuliaan manusia itu sendiri. Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya : “Sesungguhnya telah Kami muliakan anak Adam (manusia). Kami anggkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (AQS. al-Isra’/17 : 70).

Tapi kadang-kadang manusia bangga atas karya-karyanya itu, bahkan manusia kadang-kadang menepuk dada atas hasil yang dicapai, tidak ingat dan lupa sama sekali bahwa kecerdasan itu datangnya dari Allah SWT.

Sengaja Allah memberikan kelebihan dari makhluk lainnya, namun banyak tidak tahu beryukur, tidak berterima kasih, malah mengingkari Allah, menginkari nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya.

Padahal Allah telah mengingatkan dan mengancam orang-orang yang tidak mau bersyukur dan menginkari nikmat Allah SWT. Sebagai mana ancaman Allah SWT ditegaskan dalam Al-Qur’an yang artinya : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema‘lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni‘mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni‘mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (AQS. Ibrahim/14 ayat 7)

Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya kejadian, tetapi karena dipengaruhi dan digoda oleh syaithan dan memang syaitan itu telah bersumpah untuk menjerumuskan anak-anak Adam yaitu manusia kelembah kehinaan sampai turun- temurun, maka syaitan-syaitan itu mendampingi tiap manusia.

Sebagai mana berfirman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang artinya: “Syaithan itu telah mengusai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. mereka itulah golongan syaithan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi. (AQS. al-Mujadilah/58 : 19).

Oleh karena itulah setiap saat syaitan akan mendorong manusia kepada perbutan dosa, berbuat jahat, sehingga manusia bergelimang dalam lemba dosa, karema dimana saja kita berada selalu diikuti syaitan-syaitan dan setiap saat akan menjerumuskan ketempat yang buruk, ketempat yang hina, dihembuskan kedalam hati kita kelezatan berbuat dosa di mana saja dan kapan saja.

Syaitan tidak peduli apakah itu seorang pejabat,intelektual,cendikiawan, ulama, sarjana atau orang biasa, syaitan menjerumuskan manusia kejurang perbuatan dosa, Allah SWT berfirman yang artinya: “Kemudian kami kembalikan dia ketempat yang serendah-rendahnya”. (AQS. At-Tin/95 : 5)

Untuk memerangi syaitan yang sering merayu hati manusia. Allah SWT memberikan resepnya sesuai dengan firman-Nya yang artinya: “Keecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (AQS. At-Tien/95 : 6)

Dua resep mujarab untuk mempertahankan martabat kemanusiaan yang sehat. Pertama, ialah beriman kepada Allah dengan sebaik-baiknya. Kedua, ialah berbuat amal shaleh. Beriman dan beramal shaleh itulah sebab dan akibat, karena beriman haruslah beramal shaleh atau berbuat baik.

Jadi jelas bahwa iman itu merupakan generator pembangkit untuk berbuat baik, tidaklah dikatakan beriman kalau ia tidak berbuat baik atau beramal shaleh, sehingga dapat dikatakan bahwa tidak beriman orang yang senantiasa berbuat kejahatan.

Inilah buktinya bahwa dengan beriman dan beramal shaleh meningkatkan ketaqwaan kepada-Nya, dengan demikian maka kita dapat mempertahankan martabat kemanusiaan yang selalu dipengaruhi oleh syaithan-syaithan yang terkutuk itu. Demikian, Amin.. Ya Rabhbal ’Alamin ..***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here