Maret, Diperkirakan Inflasi Terkendali

0
361
Gusti Raizal Eka Putra

BATAM – Tim pengendali inflasi daerah (TPID) mengungkapkan, indeks harga konsumen (IHK) Provinsi Kepri, Februari 2018 mengalami deflasi. Diharapkan kondisi yang sama terjadi pada Maret 2018 ini. Diperkirakan bulan ini, inflasi di Kepri juga masih terkendali dan cenderung melemah. Namun tetap diminta agar inflasi diwaspadai.

Wakil Ketua II TPID Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, Rabu (7/3) mengatakan, deflasi IHK Kepri Februari 2018 tercatat 0,03 persen (mtm). Deflasi itu lebih rendah dibandingkan bulan lalu yang mengalami inflasi sebesar 0,88 persen (mtm) maupun inflasi nasional Februari sebesar 0,17 persen (mtm).

”Secara tahunan inflasi IHK Kepri tercatat 3,99 persen (yoy) juga lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 4,19 persen (yoy). Tapi lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,18 persen (yoy),” jelasnya.

Demikian, diminta agar risiko inflasi kedepan, perlu diwaspadai. Diantaranya, tren peningkatan harga migas dunia berpotensi mendorong peningkatan harga BBM Non Subsidi. Tren kenaikan harga komoditas batubara dapat memicu kenaikan tarif dasar listrik. Selain itu, rencana kenaikan batas bawah tarif angkutan udara dapat memicu inflasi administered prices.

”Potensi peninjauan ulang/pencabutan HET oleh pemerintah dapat mendorong peningkatan harga beberapa komoditas seperti beras,” ujar Gusti mengingatkan.

Dijelaskan deflasi Februari lebih rendah dibanding rata-rata historisnya tiga tahun terakhir yaitu deflasi 0,22 persen (mtm). Deflasi Februari didorong oleh deflasi volatile foods. Terutama penurunan harga bayam, kacang panjang, bawang merah, kangkung dan sawi hijau.

”Kelompok administered prices mencatatkan inflasi akibat kenaikan tarif listrik tahap III di Batam,” jelasnya.

Kelompok komoditas volatile foods juga disebutkan, mencatatkan deflasi 2,83 persen (mtm), dibanding bulan lalu yang mengalami inflasi sebesar 3,92 persen (mtm). Penurunan harga terutama dicatatkan bayam, kacang panjang, kangkung dan bawang merah yang masing-masing mengalami deflasi sebesar 39,46 persen (mtm), 19,32 persen (mtm), 25,02 persen (mtm) dan 9,57 persen (mtm).

”Penurunan harga bawang merah akibat stok panen yang melimpah di daerah sentra penghasil. Berdasarkan hasil pantauan PIHPS, rata-rata harga bawang merah di Sumut pada Februari turun 6,89 persen dibandingkan Januari,” sebutnya.

Dijelaskan, inflasi kelompok inti terutama bersumber dari kenaikan harga ayam goreng yang mengalami inflasi sebesar 10,18 persen (mtm) dengan andil 0,07 persen (mtm). Kelompok administered prices mencatatkan inflasi 1,50 persen (mtm), dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatatkan deflasi sebesar 0,61 persen (mtm).

”Memasuki Maret, inflasi diperkirakan tetap terkendali dan cenderung melemah,” jelas Gusti. (mbb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here