Mari Jadi Pelakor

0
372
Mari Jadi Pelakor

KAMPANYE pakai jeep atau truk itu sama belaka. Jadi tidak perlu sampai berhari-hari dibicarakan di kedai kopi. Itu melelahkan. Kalau kata Dilan, berat. Lagi pula itu tema yang receh.

Sama halnya mendebat siapa yang tampil lebih memukau antara Via Vallen dan Zaskia Gotik pada laga final Piala Presiden akhir pekan lalu. Dua-duanya sama-sama mempesona. Titik. Sama halnya dengan jeep atau truk, dua-duanya sama-sama mobil terbuka. Kelar.

Akan jauh lebih baik, saya sarankan, masing-masing dari kita mendebat visi dan misi apakah yang akan dikedepankan oleh Ayah Syahrul atau Bang Lis. Itu baru bukan receh. Jumlah penduduk miskin akhir tahun lalu meningkat.

Pelantar Dua juga belum bersih-bersih amat. Pertumbuhan ekonomi masih belum cepat. Perpustakaan juga masih sepi peminat. Apa yang kedua calon ini tawarkan atas masalah-masalah itu, baru bisa jadi bahan debat, boleh sampai berkeringat. Tanpa kesadaran semacam ini, dari pilkada ke pilkada yang terwariskan hanyalah sakit hati dan sakit hati. Capek.

Sekarang memang sudah bukan lagi zaman membicarakan yang receh-receh. Malu sama Bu Dendy yang ‘menyawer’ pelakor dengan duit pecahan Rp 100 ribu. Olehnya, sang pelakor merasakan sebuah ‘kemewahan’ yang barangkali belum pernah dirasakan perempuan mana pun. Disiram uang. Eh, kurang dramatik. Dihujani uang. Bagi Bu Dendy, Rp 5 juta, Rp 10 juta, Rp 15 juta, atau ratusan juta sama saja. Kemarahan yang sudah di ubun-ubun tidak pernah lagi bisa ditakar dengan nominal. Recehan bukan gaya Bu Dendy.

Akhirnya, viral! Video ini lantas mengurangi intensitas pembicaraan di kedai kopi tentang jeep atau truk. Dan seiring itu pula, kita mulai akrab dengan pelakor. Kata ini merupakan akronim dari perebut laki orang. Ramai digunakan semenjak dipopulerekan akun lambe-lambe itu di Instagram. Singkat kata, definisinya merujuk kepada perempuan lajang yang mencintai suami orang dan berupaya merebutnya.

Fenomena semacam ini sebenarnya sudah ada sejak zaman lampau. Barangkali beribu-ribu tahun lalu, perebutan kasih sudah menjadi tema yang lazim dalam riwayat kehidupan anak manusia. Beribu-ribu novel juga ditulis. Namun, tidak lantas pelakor itu hilang, pelakor dikutuk menjadi batu. Yang ada, ia kini malah dihujani uang seratus ribuan. Luar biasa.

Yang menjadi pertanyaan besar, di mana Pak Dendy? Mengapa Bu Dendy hanya berapi-api memarahi perempuan tersebut? Bukankah tamu tidak akan masuk ke rumah jika tidak dibukakan pintu?

Maka, dari sini kita bisa berandai-andai menuliskan ceritanya. Dengan segenap kekuatan imajinasi, kita bisa saja membayangkan Pak Dendy hari itu terbangun dari tidurnya dan sudah menjadi kecoa seperti Gregor Samsa di kisah Metamorfosa.

Atau malah sudah mati dua kali seperti Rafilus karya Budi Darma. Jika memang tidak sepakat dengan ide Samsa atau Rafilus, bisa saja Pak Dendy kini sudah berubah menjadi gelas kaca yang terjatuh dari meja dan berkeping-keping. Imajinasi, seperti kata Albert Einstein, akan membawa kita pada kemungkinan-kemungkinan kehidupan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.

Saya tahu dan amat sadar, menulis novel itu berat. Rindu, macam yang diproklamasikan Dilan, itu tidak apa-apanya. Menulis novel menuntut konsistensi, ketabahan, ketekunan, persistensi, intensitas, konsentrasi, dan perbendaharaan kata yang tidak main-main.

Semua persyaratan itu harus dalam performa tinggi. Kita bisa saja menuliskan novel misalnya Hari-Hari Pak Dendy atau Bu Dendy dan Suami. Siapa tahu, kelak novel ini akan termasuk buku paling laris abad ini. Tentu agar benar-benar laku, bisa dibubuhkan cuplikan di sampul luar: njaluk duit? Nyo! Sepuluh yuto!. Itu tentu akan menjadi pancingan bagi para pembaca untuk mencomotnya.

Namun, jika memang stamina kita tidak prima untuk menulis novel, jadikanlah cerpen. Sama seperti namanya, pendek saja. Sekitar 8-9 ribu karakter saja. Bayangkan kemungkinan-kemungkinan nasib Pak Dendy atau Bu Dendy atau Pelakor-nya.

Mana yang Anda suka, bisa menjadi tokoh utama. Bubuhi konflik yang lebih dramatik. Suguhkan pada pembaca kemungkinan paling gila yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Lalu kirimkan ke koran. Niscaya, redaktur sastra bisa kesulitan menolak naskahnya. Mengingat, dengar punya dengar, naskah yang punya aktualitas akan lebih mudah diterima.

Mengapa kirim ke koran dan jangan ditulis di status Facebook saja? Perlu diingat bahwasanya koran seringkali menjadi tabung inkubator penulis-penulis besar dari abad lampau. Kerja kurasi yang diterapkan menjadi tolok ukur betapa naskah yang tayang merupakan hasil terpilih. Ini yang tidak ada di medium media sosial macam Facebook maupun situsweb pribadi.

Alhasil inilah yang membedakan penulis zaman dahulu dengan masa kini. Golongan terdahulu amat benar memahami sebuah ketabahan. Ketika naskah tertolak, tidak ada cara lain kecuali meningkatkan kualitasnya. Begitu dan begitu seterusnya sampai koran mau menerima naskahnya. Jenis ketabahan yang mendewasakan dalam berkarya. Begitu saya menyebutnya.

Sedangkan generasi masa kini, amat kesulitan mendapatkan ‘pendidikan’ serupa. Ketika berulang kali naskahnya tertolak di koran, bukannya meningkatkan minat belajar dan memperbaiki kualitas penulisan, yang mereka lakukan justru menyiarkannya di Facebook, misalnya. Apakah itu salah? Tidak. Sama sekali tidak.

Yang salah adalah perasaan jemawa setelah naskah itu tayang di Facebook dan mendapatkan tombol suka atau komentar dari teman-temannya di sana. Padahal, tidak ada jaminan apakah naskah itu benar-benar terbaca atau hanya sekadar lewat di linimasa dan tahu punya kawan, mengapa tidak untuk sekadar memberikan suka.

Kalau memang belum mampu menembus koran nasional, ya jangan pernah malu menulis untuk koran lokal. Seingat saya, koreksi kalau keliru, dulu Sapardi Djoko Damono juga memulai dari sebuah surat kabar kecil di kampung sebelum kemudian memberanikan diri mengirim ke HB Jassin. Semua ada tahapnya. Semua ada masanya. Semua ada tempatnya. Dan jikalau memang koran nasional adalah sebaik-baik dan setepat-tepatnya tempat, ya selamat.

Mengapa perlu menulis di koran? Bukan melulu soal honorarium. Bagi seorang pemula, ketika melihat tulisannya yang dilakukan dengan jerih-payah itu tayang, ada semacam kebahagiaan dan kebanggaan yang sukar dilukiskan dan tidak dijualbelikan. Berapapun harganya. Sekali pun uang Bu Dendy tidak pernah sanggup membayar harga perasaan semacam itu.

Itulah mengapa kita mesti kembali bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita semua menjadi pelakor? Maksud saya bukan perebut kekasih orang, tapi penulis langganan koran. Sebuah upaya sederhanan mencatatkan nama kita pada keabadian dalam ingatan orang. Ingatlah, tulisan di Facebook itu fana, Bu Dendy abadi.***

OLEH: FATIH MUFTIH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here