Marwah dalam Pinggan

0
723
Mohammad Endy Febri SE, MH

Oleh: Mohammad Endy Febri, SE, MH
Warga Tanjungpinang

Siapa sukarelawan perdana yang memutuskan mencoba makanan berbau tak sedap, anyir atau terkadang beraroma asam itu? Menu yang seolah tak layak cicip itu selanjutnya menjadi kegembiraan, lalu jadi suguhan istimewa dari ras atau daerah tertentu. Sebutlah nama cencalok, pedak, pekasam, tempoyak atau makanan peram lainnya. Apakah penemunya menghasilkan olahan tersebut secara tak sengaja? Darimana ia tahu tingkat keasaman masih aman buat perut? Gaya pengolahan menu unik suatu daerah dapat merangkum semuanya. Menggambarkan potensi hewani, nabati, kekayaan rempah bahkan kecerdikan masyarakat lokal.

Tak heran rasanya penilaian tamadun kuliner dunia kerap diranking oleh para master dapur. Peradaban yang kerap didengungkan dalam tujuh terbaik adalah Cina, Yunani kuno, Mesir, Italia, Romawi, Perancis dan Inggris Raya. Dari buku Butang Emas Warisan Budaya Melayu Kepulauan Riau (2006) diketahui dalam penggalan Kitab Pengetahuan Bahasa karya Raja Ali Haji (RAH) menyebutkan beberapa jenis olahan masa itu, seperti apam, otak-otak, epok–epok, engkak, opak, bingka, emping bulda, acar dan lain-lain. Dalam salah satu surat RAH kepada H. Von de Wall pada 7 Sa’ban 1283 juga menampakkan upaya RAH menjelaskan tentang penganan Melayu.

Di buku yang lain, Kitab Pelayaran ke Riau mengisahkan jamuan tambul di rumah Tengku Embung Fatimah. Jenis–jenis hidangan yang disebut dalam naskah itu di antaranya air kahwa, rendang pisang, air sirop ros dan buah sauh manila. Perjuangan orang Melayu Kepulauan Riau untuk mengenalkan kuliner khas sudah tak diragukan lagi. Selain menyimpan nilai ekonomi dan keahlian turun–temurun di sana, memang tak ada pilihan lain. Harus dikenal, agar dapur tetap ngebul. Sayangnya, belum terorganisir secara berkelanjutan, sistemik dan massal. Penggiat kuliner tempatan masih bergerak parsial. Wajar rasanya, karena yang diperjuangkan adalah perut masing–masing keluarga. Semua ingin menonjolkan diri, sendiri–sendiri. Perkumpulan atau semacam asosiasi yang dibentuk oleh pemerintah atau negara lazimnya masih bersifat sesaat atau bernuansa promo sepekan.

Tidak buruk hemat penulis, tapi belum maksimal juga hasilnya. Daripada tak berjuang bersama, setidaknya gelaran promosi massal itu dapat membantu usahawan secara personal, walaupun kesannya diikat dalam sebuah kebersamaan.

Kuliner berkait erat dengan dunia pelancongan. Minimal jadi lapis dua untuk daya tarik wisata. Setelah eksplorasi alam, pusat perbelanjaan, wisata sejarah atau aktivitas menarik lainnya, jamuan adalah pelengkap dari seluruh kisah dan seringkali jadi gong penutup kesan.

Seluruh pebisnis yang istiqamah dan serius menggeluti bisnis menu khas beserta inovasi variannya, dilokalisir dalam area luas yang menyuguhkan pemandangan laut dan lampu warna warni nan memikat yang dipadu dengan gerai-gerai yang menjajakan kebutuhan sandang serta wahana permainan anak misalnya. Lalu bergeliat serentak sejak sore hingga dinihari. Menyajikan seluruh makanan dan minuman khas Kepulauan Riau beserta kreasinya sebagai destinasi utama, dari kelas gerobak hingga tipe resto klasik atau kekinian. Penjual akan menggali resep–resep lama yang mulai terlupakan dan mereka akan terus mengasah kemampuan untuk melakukan kreasi terbaik.

Mungkin menyuguhkan bubur sagu, nasi dagang atau nasi lemak dengan menyediakan lauk pauk mencapai puluhan jenis atau bukan tak mungkin komunitas produsen itu mengeksplorasi menu klasik bangsa Cina, Inggris, Belanda atau Jepang yang lazim disantap para tauke, bangsawan, pelaut atau meneer di masa lampau; yang memiliki rekam jejak historis di negeri Bunda Tanah Melayu. Tentunya dengan tetap memperbaiki citra menu seafood yang menjadi ciri kepulauan. Insha Allah, usaha yang memiliki konsep kuat semacam ini akan jadi daya tarik berkelanjutan menurut penulis. Bukan tenda portabel, tetapi lebih condong seperti membangun pondasi rumah besar untuk menaungi sebuah misi; ekonomi bermarwah dengan keunikan dan persatuan. “Menelan masa lalu, membuang gundahmu. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here