Masa Depan Bangsa Berada di Tangan Pendidik

0
1091
Irfaria Putra Irba, M.T.I

Oleh: Irfaria Putra Irba, M.T.I
Staf LPMP Kepulauan Riau

Jangan pernah berasumsi bahwa sekolah yang infrastrukturnya baik kualitas juga ikutan baik. Karena, paradigma pada umumnya sekolah berkualitas itu selalu mahal. Infrastruktur itulah yang menjadikan sekolah itu mahal. Akan tetapi, kontribusi infrastruktur terhadap kualitas pendidikan tidak lebih dari 10%. Sedangkan 90% kontribusi kualitas pendidikan berasal dari kualitas guru, metode belajar yang tepat dan buku sebagai gerbang ilmu pengetahuan. Hal tersebut sebetulnya yang menjadi kualitas pendidikan ini sangat murah, asalkan ada guru yang mempunyai idealisme tinggi, bahwa pendidikan murah berkualitas itu bisa.Karena, pada diri guru kejayaan dan keselamatan masa depan bangsa ini.Melalui penanaman nilai-nilai dasar yang luhur sebagai cita-cita pendidikan nasional,untuk membentuk kepribadian sejahtera lahir dan batin melalui pendidikan agama dan pendidikan umum.

Heyneman dan Loxley dalam Boediono & Abbas Ghozali (1999) menyimpulkan, bahwa kualitas sekolah dan guru nampaknya sangat berpengaruh pada prestasi akademis di seluruh dunia.Dan semakin miskin suatu negara, semakin kuat pengaruh tersebut. Menurut Penulis, mutu pendidikan merupakan tolak ukur keberhasilan sebuah proses pendidikan yang bisa dirasakan oleh masyarakat. Mulai dari input (masukan), proses pendidikan yang terjadi, hingga output (produk keluaran) dari sebuah proses pendidikan.

Terjaminya mutu pendidikan yang baik tidak lepas dari peran pemerintah yang terus berupaya dalam peningkatan mutu di sekolah. Dan hasilnya pun cukup membanggakan di beberapa sekolah di Indonesia. Namun, hasil yang membanggakan itu masi belum cukup dan merata hingga ke sekolah terpencil. Berbagai hal pemerintah lakukan. Melalui Program Pembangunan Kurikulum, Program Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), Program Perpustakaan, Program Bantuan Meningkatkan Manajemen Mutu (BOMM), Program Bantuan Imbal Swadaya (BIS), Program Pengadaan Buku Paket, Program Peningkatan Mutu Guru, Dana Bantuan Langsung (DBL), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan Bantuan Khusus Murid (BKM).

Triliunan rupiah sudah diglontorkan untuk melaksanakan program demi program dalam menunjang pendidikan di Indonesia lebih baik. Semua program sudah dilakukan, namun hasilnya belum maximal.Nah pertanyaannya, apakah pemerintah kebingungan arah dalam mencari solusi terbaik untuk mendorong peningkatan mutu pendidikan di Indonesia? Sedangkan rakyat sendiri sebagai pelaku sekaligus penikmat pendidikan, hanya bisa melamun tanpa bisa berbuat apa-apa selain mengkritisi habis-habisan berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Ini kenyataanya dan tak bisa dipungkiri.

Baca Juga :  Pemerintah Alokasikan Dana Rp72 Miliar untuk “Influencer”

Penulis disini bukan mengajak pembaca untuk mengkritik habis-habisan pemerintah. Karena pemerintah sudah bekerja cukup baik. Pergantian menteri pendidikan, hanya berpengaruh terhadap perubahan kebijakan. Tapi tujuannya sama, yaitu memajukan pendidikan di Indonesia.Saat ini bukan hanya sekedar teori yang dibutuhkan. Tapi langkah nyata yang dilakukan dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia semakin baik, sehingga menghasilkan generasi yang baik pula.

Rancangan program pemerintah selalu mengarah kepada guru, sangat sedikit program yang mengarah kepada peserta didik. Sehingga, masih banyak guru yang menganggap terbebani dengan program-program yang diglontorkanpemerintah. Selain itu, ditambah dengan setumpuk beban mengajar dan PR yang didapat dari sekolah. Kualitas kemampuan gurunya pun diberbagai level jenjang masih banyak ditemukan tidak produktif karena termakan faktor usia. Selain itu, masih banyak ditemukan guru yang mengajar tidak sesuai dengan jenjang pendidikannya. Seperti contoh lulusan Sarjana Pendidikan Matematika, ditugaskanmengajar di sekolah pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Inilah dilema pendidikan di Indonesia yangmenjadi PR pemerintah dalam membenahi satu persatu faktor permasalahan yang terjadi.

Kita berdoa, semoga pendidikan di Indonesia semakin membaik. Dan penulis mengajakkepada tenaga pendidik yang memiliki andil penuh dalam memajukan mutu pendidikan,jangan pernah merasa puas dengan skill dan pengalaman jam terbang mengajar yang ada. Terus pacu dalam meningkatkan keahlian diri. Karena masa depan bangsa ini terlahir dari tangan-tangan pendidik.

Kepala Sekolah Peran Sentral Mutu Di Sekolah
Maju dan mundurnya sekolah tidak lepas dari peran Kepala Sekolah dalam memajukan lembaga yang dipimpinnya.Karena sebuah jabatan merupakan amanah yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Jika Bapak/ibu guru bersedia diangkat menjadi Kepala Sekolah, berarti harus mampu mencurahkan jiwa raganya untuk kemajuan sekolah yang dipimpin. Karena tidak mudah mengemban amanah sebagai Kepala Sekolah.

Berdasarkan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasahharus memiliki 5 kompetensi khusus.Diantaranya, Kompetensi Kepribadian, Manajerial, Kewirausahaan, Supervisi dan Sosial. Nah pertanyaannya sekarang, sudahkah Bapak/Ibu Kepala Sekolah memiliki 5 kompetensi tersebut?

Baca Juga :  Hobi atau Penyakit?

Kompetensi Kepribadian. Pertama, harus memiliki akhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi serta menjadi teladan akhlak mulia di sekolah. Kedua, memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin. Ketiga, memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala sekolah/madrasah. Keempat, bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi. Kelima, mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan sebagai kepala sekolah/ madrasah. Keenam, memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.

Kompetensi Manajerial. Pertama,menyusun perencanaan sekolah/madrasahuntuk berbagaitingkatan perencanaan. Kedua, mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan kebutuhan. Ketiga, memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah/ madrasah secara optimal. Keempat,mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif. Kelima, menciptakan budaya dan iklim sekolah/ madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik. Keenam, mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal. Ketujuh, mengelola sarana dan prasarana sekolah/ madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal. Kedepan, mengelola hubungan sekolah/ madrasah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan.

Kompetensi Kewirausahaan. Pertama, menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah. Kedua, bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif. Ketiga, memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokokdanfungsinyasebagai pemimpin sekolah/madrasah. Keempat, pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah. Kelima, memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik.

Kompetensi Supervisi. Pertama, merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru. Kedua, melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat. Ketiga, menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.

Kompetensi Sosial. Pertama,bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah/madrasah. Kedua, berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Ketiga, memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau kelompok lain.

Dari penjabaran 5 kompetensi yang harus dimiliki oleh Kepala Sekolah, jadi apa yang harus dilakukan Kepala Sekolah sesuai dengan tugas dan posisinya yang sangat strategis ini? Ya Kepala Sekolah dituntut memiliki kreatifitas, yakni kemampuan untuk mentransformasikan ide dan imajinasi serta keinginan-keinginan besar menjadi kenyataan. Untuk menjadi orang kreatif, seorang Kepala Sekolah harus memiliki imajinasi, harus memiliki kekuatan ide melahirkan sesuatu yang belum ada sebelumnya, kemudian untuk menjadi orang kreatif, dia juga harus berusaha mencari cara bagaimana ide-ide tersebut diturunkan menjadi sebuah kenyataan. Dengan demikian, untuk menjadi kreatif setiap Kepala Sekolah harus memiliki dua variabel utama, ide dan karya. Ide dan gagasan tanpa karya hanya akan menghasilkan mimpi-mimpi indah tanpa membawa perubahan, sebagaimana juga karya tanpa gagasan baru hanya akan menghasilkan angan-angan kosong.

Baca Juga :  Rasulullah SAW, Maulid Nabi yang Dirindukan

Kepala Sekolah tidak sekedar mengelola kurikulum dan buku ajar, tapi juga SDM guru, staf tata usaha dan juga mengelola serta mengembangkan aset dan mengelola keuangan institusi. Dengan demikian, dia harus memiliki tiga kecerdasan, yakni kecerdasan profesional, kecerdasan personal dan kecerdasan manajerial. Kecerdasan profesional dimana penguasaan terhadap berbagai pengetahuan dalam bidang tugasnya, yakni pendidikan. Seorang Kepala Sekolah harus menguasai teknik penyusunan kurikulum, perencanaan pembelajaran, strategi pembelajaran, evaluasi, pengelolaan kelas, dan berbagai pengetahuan tentang pendidikan dan pembelajaran. Tidak mungkin jabatan Kepala Sekolah dipegang oleh seseorang yang tidak menguasai pendidikan, atau sama sekali tidak pernah mengalami profesi keguruan.Karena Kepala Sekolah harus mengelola seluruh sumber daya untuk proses peningkatan pendidikan dan pembelajaran. Jadi, jangan menganggap enteng jabatan Kepala Sekolah.

Dalam menentukan Kepala Sekolah, Pemerintah Daerah harus selektif dan jangan libatkan ke dalam api politik. Karena akan menciderai cita-cita luhur para pendiri bangsa yang tertera dalam pembukaan UUD 1945 yang berbunyi, “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Pemerintah yang baik adalah pemerintah yang menjalankan tugas dan wewenangnya secara konstitusional. Tidak ada kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan di luar rule of law yang berlaku.

Oleh karenanya, dalam usaha mewujudkan cita-cita nasional “mencerdaskan kehidupan bangsa” pemerintah perlu berpedoman kepada konstitusi yang berlaku. Sebagaimana telah dijelaskan pada pendahuluan di atas, melalui jaminan anggaran sekurang-kurangnya 20% dari APBN/APBD yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 31(ayat 4). ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here