Masa Depan Sastra di Penyair Muda

0
732
TAMPIL: 7 sastrawan muda Kepri tampil di atas panggung saat malam puncak Hari Puisi Indonesia, beberapa hari lalu. f-istimewa/adi pranadipa

Tujuh Penyangak Bikin HPI Kepri Semarak

Perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) Provinsi Kepri 2017 sudah usai. Tidak banyak yang tahu bahwa pemain di belakang layar kesuksesan acara berskala nasional tersebut ternyata ditangani oleh anak muda yang dikenal dengan sebutan tujuh penyangak.

TANJUNGPINANG – HPI tidak lahir begitu saja di kancah kesusastraan Nasional. Beberapa orang yang bertunak di kesusastraan seperti Rida K Liamsi, Agus R Sarjono, Ahmadun Yose Herfanda adalah bidang penggagas kelahiran HPI. Untuk penanggalan, diambillah tanggal 26 Juli yang merupakan hari kelahiran Khairil Anwar yang dianggap sebagai pelopor kelahiran puisi modern Indonesia. Dikisahkan, 3 sastrawan Tanah Air itu mendapat undangan untuk menghadiri sebuah acara di negara Vietnam yang berjudul Hari Puisi Vietnam tahun 2011 silam. ”Rida K Liamsi, Agus, dan Ahmadun adalah orang-orang yang hadir di acara itu,” kata Ketua Panitia pelaksana HPI Kepri, Fatih.

Ternyata, undangan tersebut adalah cambuk kepada 3 sastrawan Indonesia terhadap kecintaannya dengan sastra Indonesia. Hingga berlangsung pada tahun 2017 ini sebagai tahun ke-V perayaan pesta kata-kata. Khusus di Tanjungpinang, HPI ditangani oleh kaum belia yang juga tunak dan hidup bersama sastra. Berbeda dengan kota lain yang selama ini ditaja oleh pemain lama, HPI Tanjungpinang justru memberikan warna berbeda kepada penggiat, penikmat dan pelaku sastra Kepri.

Warna berbeda pada perayaan HPI dimotori oleh 7 sastrawan Kepri yang lebih familiar dengan sebutan 7 penyangak. Rasa puas terhadap gawai tahunan ini juga disampaikan oleh berbagai kalangan diantaranya Ketua dewan Kesenian Kepri, Husnizar Hood yang mengaku bangga dengan kinerja penyair muda. ”Tahniah kepada para penyangak yang berkenan bertungkus lumus dan berpeluh keringat demi sastra dan puisi. Saya salut,” beber Husnizar yang disampaikan melalui pesan singkat pada group jejaring sosial para sastrawan.

7 penyangak di mata Husnizar merupakan regenerasi kesusastraan Kepri yang akan terus menjaga tonggak dan menetaskan kembali generasi kepenyairan di masa mendatang. ”Ada interval waktu yang cukup panjang, yaitu 20 tahun lamanya baru kemudian para penyangak ini muncul. Sudah saatnya mereka meneruskan estafet kesusastraan Kepri,” terang penyair yang mengaku memiliki hobi menjadi anggota Dewan tersebut.

Barozi, Zainal, Almukhlis, Febriadi, Fatih Muftih, Yoan, Rendra Setyadiharja adalah orang di balik keberlangsungan HPI Kepri 2017. Dari kreativitas merekalah, malam penutupan HPI yang berlangsung di Laman Bunda Tepilaut 28 Juli silam menjadi semarak. Ditambah dengan penampilan 2 penyair cilik yang masih duduk di bangku sekolah dasar diantaranya, Nabila Putri Akhyar sebagai penyair cilik yang pernah sepanggung dengan Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzom Bachri, serta Fajri bocah Kelas V SD yang memiliki suara emas.

Penutupan HPI sekaligus menyulut rindu pesta kata-kata yang terpaksa harus dinanti hingga setahun lamanya. Namun demikian, Rida menyampaikan bahwa untuk berkarya, tidak harus terkungkung dengan waktu ataupun usia. ”Teruslah menanjak penyair muda. Masa depan sastra ada di tanganmu. Sampai berjumpa di perayaan HPI tahun 2018 mendatang,” beber sastrawan kaliber yang baru menyelesaikan buku biografi sejarah Mahmud Sang Pembangkang itu.(YOAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here