Masalah Baru Tanjak Melayu

0
2581
Riono pakai tanjak

TANJUNGPINANG – Sejumlah pelaku adat dan budaya mengkritisi surat edaran wali kota Tanjungpinang nomor 207 Tahun 2017 Tentang Penerapan pakaian dinas baju kurung Melayu dengan mengenakan tanjak Melayu.

Surat tersebut dinilai tidak mendudukkan poin khusus tentang model tanjak yang harus dikenakan para pegawai.

Abdul Latif (72) selaku tokoh adat dimata masyarakat Tanjungpinang mengatakan, bahwa wali kota harus menjelaskan model apa yang boleh dikenakan.

”Satu sisi saya setuju kalau tanjak Melayu kembali populer. Tapi, janganlah pula dipukul rata semua model tanjak boleh dipakai, durhaka itu namanya,” kata Latif secara terang-terangan, kemarin.

Dia menjelaskan, bahwa Melayu memiliki kurang lebih 21 jenis model tanjak, serta makna dan penempatan tanjak.

”Kalau asal lipat terus dibilang tanjak bisa bahaya. Justru bisa mencacatkan budaya Melayu,” ungkapnya.

Dilanjutkannya, 21 model tanjak Melayu tersebut antara lain, lang melayang, lang menyongsong angin, pari mudek, anak gajah menyusu, sering, buana, pucuk pisang, ayam patah kepak, balung ayam, cogan daun kopi, sekelongsang bunga, mumbang belah dua, solok timba, kacang dua helai daun, ketam budu, sarang kerangga, setanjak balung raja, belalai gajah, dendam tak sudah, tebing runtuh.

”Jangan sampai niat baik ini bermuara petaka, kalau mau beradat biarlah beradat sekali kalau mau berbudaya juga demikian. Jangan separuh-separuh atau pakai istilah kontemporer segala. Tak ada itu,” ujarnya yang takut jika kebebasan bertanjak justru menghilangkan ruh keagungan dari tanjak itu sendiri.

”Boleh bertanjak, tapi tidak semua model boleh dipakai oleh kita yang orang biasa ini, kalau pak wali lainlah beliaukan wali kota,” bebernya.

Kekhawatiran Latif sejalan dengan tanggapan Kepala Bidang Sekolah Menengah Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang, Tamrin Dahlan ketika dikonfirmasi awak media.

Menurut dia, yang juga keseharian bergerak di bidang budaya ini berharap ada edukasi dari pemerintah untuk menjelaskan ragam tanjak serta penggunaannya.

”Kita ada Lembaga Adat, ini adalah lahan ibadah untuk generasi ke depan dalam mengenal tanjak serta fungsinya. Tak elok jika tanjak sultan dipakai oleh orang awam,” ungkapnya mengutarakan pendapat.

Dikabarkan dalam surat edaran nomor 207 Tahun 2017 Tentang Penerapan pakaian dinas baju kurung Melayu dengan mengenakan tanjak Melayu bagi Pegawai Negeri Sipil dan Honorer di lingkungan Pemerintah Kota Tanjungpinang di setiap hari Jumat yang ditujukan untuk kepala badan, dinas, kantor, inspektur daerah, sekretaris DPRD, KPUD, Korpri Kota Tanjungpinang, kepala bagian, camat dan lurah, hingga kepada direktur RSUD Tanjungpinang. (cr33)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here