Masalah Doping Olahragawan

0
1503
H. Wan Tarhusin, BSc

Oleh: H. Wan Tarhusin, BSc
Guru Olahraga Senior di Tanjungpinang

Sampai dewasa ini masih terdengar masalah penggunaan “doping” dalam penyelenggaraan pertandingan olahraga baik dalam penyelenggaraan PON (Pekan Olahraga Nasional) maupun di tingkat internasional.

Memang kita mengetahui bahwa adanya dan akan terjadinya incident atau cedera otot pada seorang atlit akibat doping merupakan suatu ambisi untuk mencapai prestasi padahal masyarakat harus melindungi dirinya dari kejadian tersebut agar tidak menimbulkan kecelakaan sehingga merusak atlet itu sendiri. Doping (dope) adalah memberi obat perangsang terhadap otot si atlet agar kekuatannya dapat ditingkatkan untuk tercapainya prestasi yang maksimal.

Menurut pakar olahraga dan kesehatan mantan guru besar pada Sekolah Tinggi Olahraga DR. Sieswanto bahwa yang dimaksud dengan doping adalah tiap usaha yang ingin mempengaruhi, menstimulasi raga kemampuan tubuh olahragawan untuk kepentingan prestasi olahraga secara buatan (artifical) dengan menggunakan obat-obatan (medication).

Dipandang aspek-aspek medis dan biologis doping merupakan hal yang tidak alami dan menurut kenyataan ada yang berbahaya bagi kesehatan olahragawan. Walaupun ada ketentuan-ketentuan melarang setiap atlet (olahragawan) menggunakan obat terlarang (doping) masih juga terdengar peristiwa tersebut ada atlet-atlet menggunakan doping seperti yang pernah terjadi pada peristiwa-peristiwa di arena PON Ke-XIX yang lalu di Bandung dimana 12 orang atlet menggunakan obat terlarang dan terpaksa divoniskan oleh nasional dope testing laboratory (Batam Pos, 27 Desember 2016) .

sebelum itu pernah juga terjadi pada PON Ke- XIII seorang atlet renang atas nama Catharina Surya harus mengembalikan 7 medali emasnya dan 2 perunggu kepada Koni Pusat karena menggunakan doping, larangan menggunakan doping itu sudah lama disiarkan ke penjuru dunia dan dari termolasi Perancis pada tahun 1966 telah menyatakan bahwa tidak diperkenankan menggunakan suatu bahan atau apa saja yang dapat mengakibatkan peningkatan efisiensi fisik secara tidak wajar (artificially) dari seseorang.

Baca Juga :  Ibu dalam Paradigma Patriarki

Justru itu doping bagi olahragawan sangat-sangat berbahaya dalam kehidupan sehari-hari jangankan obat yang terlarang bagi pencandu rokok saja bisa menghalangi pernafasan kesehatan manusia dan efeknya sampai ke paru-paru.

Obat-obat yang dilarang menurut komisi kesehatan I.O.C (Internasional Olympic Comitie) yang ditetapkan di Muncih (Jerman) pada 19 Mei 1971 antara lain : golongan psychomotor stimulant drugs, amphetamine – benzphetamine – cocoine – dll golongan sympathaminetic – smines = yaitu ephedrine dan golongan miscellaneous centralneous system stimulants – leptazol sergehine dan lain-lain dan golongan narcotic analyesics seperti heroine morphine dan methadone dan banyak lagi tidak dilampirkan disini.

Maka pada prinsipnya latihan olahraga sebaiknya mengikuti metode yang sudah pernah dilakukan di semua cabang olahraga yaitu sistem “interval training” adalah suatu bentuk latihan atau rentetan latihan yang diberikan terdapat selingan waktu istirahat tertentu di antara dua kegiatan.

Contoh pada cabang atletik diberikan start 150 m sebanyak 5 kali dengan selingan rest (istirahat) 1-2 menit dan setelah itu di ulang lagi sampai 5 x start dengan waktu 16-17 detik ini diberikan kepada atlet lanjutan.

Untuk diketahui bahwa dalam membina dan melatih atlet (olahragawan bukan sekedar melatih fisik saja dengan beban yang berat tapi alangkah baik pengetahuan yang berhubungan dengan ilmu keolahragaan seperti anatomi – fisiologi – patologi dan sebagainya dipahami dengan cermat demi kelancaran latihan secara efisien.

Dalam sistem modern ketika menerapkan dosis-dosis latihan akan memenuhi keperluan otot yang dikuras sebagai unsur yang sangat penting untuk tercapainya prestasi atlet untuk memiliki kekuatan (strenght) disebabkan pergerakan otot atau disebut kontraksi otot dimana protein yang ada dalam serabut otot (myafibrid) bekerja sama dengan actomyosin dan actomyosin dan peristiwa ini diaktifkan melalui rangsangan (stimulus) yang sedang bekerja memproduksi suatu zat yang disebut ATP (Adenosin Tripostat) menjadi ADP (Adenosin Difistat) didalam otot antagonis yang senantiasa dalam keadaan panas.

Baca Juga :  Solidarity Is Our Priority

Maka itu warning up sebelum bertanding sangat perlu untuk menghindari hal-hal yang bakal terjadi seperti kram – kaku dan sebagainya. Kalau otot menjadi dingin maka pelemasan penuh tidak dapat dilaksanakan.

Pembagian musim-musin latihan untuk diketahui agar dipersiapkan training schedule yang disusun secara teliti dan proses conditioning dalam olahraga adalah suatu proses yang harus dilakukan dengan hati-hati dengan melakukan berulang – ulang dalam latihan sedikit demi sedikit akan bertambah dalam intensitas dan kompleksitasnya sehingga si atlet itu terbiasa berubah menjadi seorang atlet lebih matang dan resilent serta terampil. Musim-musim latihan (season) pernah diutarakan terdapat 5 (lima) tahap, yaitu :

1.) Pre-Season : mempersiapkan fisik untuk menghadapi latihan-latihan berat dan dalam musim ini diberi latihan membentuk kekuatan (resistance training) – fleksibilitas (latihan senam) dan endurance (cross country) dan menerapkan cara warming up yang paling efektif dan latihan ini berlangsung 4 – 6 minggu.
2.) Early Season : banyak waktu untuk menyempurnakan gerak dan teknik dalam season ini tekanan latihan di pindahkan dari teknik bagian-bagiannya kepada gerakan keseluruhan dari skill element kepada whole movement dari internal kepada team performent. Disini dilakukan test trials dan pertandingan persahabatan mencari pengalaman dalam pertandingan dan team bayangan sudah dibentuk.
3.) Mid-Season : team inti sudah dibentuk. Latihan ditekankan kepada strategi dan perkembangan keterampilan individu team menjadi satu kesatuan gerak yang sempurna. Tekanan terhadap mental-disiplin-percaya diri-dedikasi dan semangat bertanding.
4.) Late Season : musim ini adalah musim pertandingan-pertandingan musim ujian terberat dan diharapkan para atlet sudah mencapai puncak. Kondisi fisik yang optimal dan pelatih mengurangi coaching yang berlebihan (over coaching) sehingga dapat berpengaruh pada performent atlet.
5.) Post-Season : post season ini adalah masa latihan setelah pertandingan berakhir. Saat ini dilakukan evaluasi dimana foto-foto / camera – firl dokumenter saat bertanding dapat dilihat dimana kesalahan-kesalahan terjadi dapat diperbaiki untuk kegiatan yang akan datang. Segala kekurangan-kekurangan di evaluar secara cermat seperti contoh pada atlet pelari atau pelompat tinggi yang tercatat pada pengumuman perlu di evaluasi dan diperbaiki misalnya pelari yang mencatat pada perlombaan PON untuk 100 m putera menurun dari semula tercatat 11,5 menjadi 12 detik dan termasuktolak peluru dan 15 m turun menjadi 11 m hal ini perlu diadakan rapat evaluasi antara coach dan ketua top organisasi yang bersangkutan termasuk ketua KONI ikut bertanggungjawab atas kegagalan dalam mengikuti PON atau pertandingan-pertandingan lainnya karena kegiatan ini menyangkut nama daerah. Kebiasaan yang sering terjadi begitu selesai pertandingan dalam PON terus bubar dan senyap tidak terdengar hasil evaluasinya.

Baca Juga :  Mencintai Profesi Guru

Sebenarnya terjadi kesalahan yang sering menimpa team yang sudah bersusah payah berlatih berbulan-bulan perlu mendapat perhatian coach. Padahal biasanya musim ini adalah musim yang paling panjang dan oleh karena itu masa ini merupakan masa yang baik untuk mengadakan perbaikan teknis maupun taktis pada atlet maupun didalam team dan adalah keliru apabila suatu pertandingan bahwa selesainya musim pertandingan maka selesailah masa latihan.

Apabila ada atlet yang masih terasa pegal otot pada tangkai kaki setelah bertanding sebaiknya mereka dibawa ke lapangan melakukan gerakan jogging pada rumput yang agak tebal untuk pemulihan.

Salam Olahraga. Semoga ada perubahan di masa yang akan datang.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here