Masih Rendah Koordinasi Pemda ke Masyarakat

0
345
Pengarahan: Peserta sedang mendengarkan arahan dari Asisten II Pemprov Kepri, Syamsul Bahrum. f-DESI LIZA PURBA/TANJUNGPINANG POS

136 Mahasiswa Diskusi Pembangunan Desa

TANJUNGPINANG – Staf Ahli Menteri Pembangunan Ekonomi, Ir Rr Ratna Dewi Andrianti MMA menuturkan, pemerintah pusat mengalokasikan anggaran sekitar Rp 561,4 triliun untuk pembangunan desa.

Banyaknya anggaran membutuhkan koordinasi yang konsolidasi secara vertikal dari tingkat pusat sampai ke desa. Tujuannya, agar anggaran yang diberikan tepat sasaran dan dapat berguna untuk pembangunan infrastruktur yang berdampak pada ekonomi masyarakat desa. ”Konsep pembangunan sekarang dari pinggiran ke kota,” ujarnya dalam pemaparan Temu Administrator Muda Indonesia (AmDI) 2017 di Auditorium UMRAH, Senin (13/11).

Kali ini, UMRAH menjadi tuan rumah dengan mengangkat tema diskusi ”Manajemen Pembangunan Desa”. Sebanyak 136 peserta perwakilan dari 33 universitas negeri di Indonesia berkumpul di Kampus UMRAH.

Ini sebagai forum ilmiah mahasiswa Ilmu Administrasi Publik/Negara Indonesia untuk mengembangkan bidang keilmuan administrasi publik yang bersifat informal dengan pendekatan ilmiah, serta mengedepankan azas kekeluargaan dan keharmonisan.

Ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun, di kampus berbeda-berbeda. Pembahasan menjadi tiga sub tema. Diantaranya, pertama pembangunan infrastruktur, pembangunan kelembagaan dan ketiga pemberdayaan masyarakat desa.

Mahasiswa perwakilan UMRAH telah melakukan penelitian terkait kurang efektifnya proyek SWRO yang ada di Pulau Dendun, Kecamatan Mantang.
Khairul Ikshan menuturkan, kini SWRO tersebut sudah tidak beroperasinal lagi, setelah sebelumnya sempat menyuplai kebutuhan air bersih masyarakat sekitar dua tahun.

”Sekarang sudah tak beroperasi lagi, mungkin ada alat-alat yang rusak. Masyarakat sekitar sudah meminta pemerintah memperbaiki, namun responya dinilai kurang cepat,” paparnya.

Dari permasalahan ini, kelompoknya membahas dan mencari solusi. Diantaranya meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait sigap menanggapi persoalan. Serta melakukan kerja sama dengan masyarakat sekitar terkait operasionalnya. Bila perlu, melakukan pelatihan terkait teknis penggunaan mesinya. ”Kalau masyarakat diajari kami rasa bisa,” tuturnya.

Perwakilan mahasiswa dari Papua, Yizreel Eli Bobot Ronsumbre menuturkan, Papua memiliki ragam kekayaan SDAnya. Salah satunya yaitu pohon khombouw yang hanya hidup di hutan belantara tanah Papua, yang bila di creat menjadi berbagai macam barang di tangan pengerajin.

”Ini potensi yang harus diangkat dan di kenalkan, jika di garap dengan baik menumbuhkan perekonomian masyarakat sekitar,” paparnya.

Sedangkan perwakilan dari Banda Aceh, Rahmat Kaisall Jani bersama tim membawa penelitian terkait kesiapan pemerintah dan masyarakat menghadi KEK. ”Ini perlu di sosialisasikan ke masyarakat, bahwa apa keuntungan penerapan KEK. Jangan sampai anak daerah hanya menonton dan tak menerima imbah dari kegiatan yang ada,” tuturnya.

Asisten II Pemprov Kepri, Syamsul Bahrum hadir membuka acara. Dalam kata sambutannya meminta mahasiswa dalam diskusi harus memberikan kontribusi pemikiran.

Minimal bagaimana membangun desa yang tertinggal secara infrastruktur yang berdampak pada ekonomi masyarakat. Hadir juga Wakil Rektor UMRAH Prof Dr rer nat H Rayandra Asyhar, MSi dan Dekan FISIP, Bismar Arianto.(Desi, Hesi, Novianty)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here