Masjid dan Anak-anak

0
686
R.Patria

Oleh: R.Patria
Pengurus Masjid As-Sakinah Tanjungpinang, Pengurus ICMI Tanjungpinang, LAM Tanjungpinang

Anak-anak kita saat ini adalah cikal bakal pemimpin Indonesia yang akan datang. Oleh karena itu kita harus menyiapkan mereka menjadi generasi muda penerus bangsa yang hatinya bertautan dengan masjid. Jangan jauhkan mereka dari masjid.

Menurut pakar pendidikan karakter Amerika, Thomas Lickona, ada 10 ciri dari generasi yang lemah dialami suatu negara. Kalau ciri yang disebutkan Lickona tersebut mulai tampak di wilayah kita atau di negara ini, maka pemangku kepentingan atau stakeholder terkait harus waspada. Karena itu tanda tanda bahaya yang harus dilakukan perbaikan sekuat tenaga.

10 ciri-ciri generasi penerus yang lemah menurut Lickona adalah sebagai berikut; meningkatnya kekerasan remaja, penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk, meningkatnya perilaku merusak diri (narkotika, miras, seks bebas dll), semakin kaburnya pedoman moral, menurunnya etos kerja, rendahnya rasa tanggungjawab individu/bagian dari bangsa, rendahnya rasa hormat pada orang tua/guru, membudayanya ketidakjujuran, pengaruh kesetiaan kelompok remaja yang kuat dalam kekerasan, dan meningkatnya rasa curiga dan kebencian terhadap sesama.

Pemerintah Indonesia menyadari hal tersebut menjadi persoalan serius. Maka program pendidikan karakter yang diambil dari nilai nilai agama, kebudayaan asal Indonesia, pancasila dan undang-undang dasar lebih digalakkan dalam system pendidikan terkini.

Kurikulum 2013 (K13) diharapkan menjadi harapan pemerintah agar generasi muda Indonesia yang saat ini mulai terkena dampak globalisasi dan perkembangan teknologi dapat menjaga diri dengan pendidikan akhlak yang baik melalui kurikulum berbasis nilai-nilai religius.

Jika diamati, 10 ciri-ciri disebutkan Lickona sepertinya terjadi di Indonesia bahkan di Provinsi Kepulauan Riau. Misalnya penggunaan bahasa yang buruk, meningkatnya perilaku merusak diri dengan seks bebas sehingga mereka putus sekolah dalam usia dini. Walaupun tak semua yang nikah dini karena disebabkan faktor sosial seperti pergaulan bebas.

Hasil riset sebuah situs, GirlsNotBrides.org, diperkirakan bahwa 1 dari 5 perempuan di Indonesia menikah di bawah usia 18 tahun. Indonesia menempati urutan ke-37 di antara negara-negara yang memiliki jumlah pernikahan usia dini tertinggi di dunia (World Fertility Policies, United Nations, 2011).

Menurut data penelitian Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia tahun 2015, angka pernikahan dini di Indonesia peringkat kedua di kawasan Asia Tenggara. Ada sekitar 2 juta dari 7,3 perempuan Indonesia di bawah umur 15 tahun sudah menikah dan putus sekolah. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 3 juta orang di tahun 2030.
Kita juga bisa melihat data angka kriminal yang melibatkan anak- anak usia sekolah seperti tauran, mencuri dan kenakalan remaja lainnya. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tercatat anak menjadi pelaku kekerasan pada tahun 2014, tercatat 67 kasus anak yang menjadi pelaku kekerasan. Sementara pada 2015, menjadi 79 kasus. Selain itu, anak sebagai pelaku tawuran mengalami kenaikan dari 46 kasus di tahun 2014 menjadi 103 kasus pada 2015.

Dari sisi akademik, anak-anak kita juga masih berada di jajaran kelas bawah berdasarkan Programme for International Students Assessment (PISA) 2015. Program ini digagas oleh the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). OECD melakukan evaluasi berupa tes dan kuisioner pada beberapa negara yang ditujukan pada siswa-siswi yang berumur 15 tahun atau kalau di Indonesia sekitar kelas IX atau X. PISA dilakukan tiap tiga tahun sekali dan dimulai dari tahun 2000. Materi yang dievaluasi adalah sains, membaca, dan matematika.

Survey PISA, 2015 melibatkan 540.000 siswa di 70 negara, rata-rata skor pencapaian siswa-siswi Indonesia untuk sains, membaca, dan matematika berada di peringkat 62, 61, dan 63 dari 69 negara yang dievaluasi. Peringkat dan rata-rata skor Indonesia tersebut tidak berbeda jauh dengan hasil tes dan survey PISA 2012 juga berada pada kelompok penguasaan materi yang rendah. (http://www.ubaya.ac.id)

Oleh karena itu, sekarang pihak terkait mulai dari orang tua, sekolah, guru, tokoh ,masyarakat, kepala daerah harus serius untuk menjadikan anak-anak remaja yang diharapkan menjadi penerus pembangunan bangsa memikirkan supaya mereka menjadi generasi yang tangguh karakternya. Kita terlalu banyak orang pintar namun ada dari mereka yang tidak jujur. Dan itu akan menjadi masalah dalam pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

Membiasakan ke Masjid
Salah satu ciri model pendidikan akhlak menurut Islam adalah dengan mencontoh pribadi Rasulullah Nabi Muhammad SAW baik dalam bermuamalah maupun dalam beribadah kepada Allah SWT. Karena Muhammad diutus di muka bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qur’an 33:21).

Nabi mengajarkan kepada orang tua yang memiliki anak agar mengajarkan salat sejak kecil dan dipukul jika sudah 10 tahun kalau tidak mau melaksanakan salat. Di sini maka ada konsekuensi bagi anak-anak yang tak melaksanakan ibadah salat.

Namun, sebelum dipukul mereka diberikan pemahaman tentang pentingnya melaksanakan ibadah salat dari sejak usia dini hingga usia 10 tahun. Orang tua harus menjadi model yang baik bagi anak-anaknya.

Tentu akan menjadi masalah ketika ayah menyuruh anak salat ke masjid, namun ayahnya sendiri tidak salat ke masjid. Mengapa harus salat ke masjid? Karena di masjid lebih baik daripada salat di rumah. Efek membawa anak ke masjid guna melaksanakan salat lima waktu supaya hal tersebut menjadi kebiasaan yang terus dilakukan sampai ia dewasa bahkan bisa jadi hingga masa tua.

Menjadikan masjid menjadi tempat yang ramah bagi anak-anak adalah tugas kita semua. Karena Nabi Muhammad memberikan contoh membawa cucu-cucu Nya yang masih kecil ke masjid saat melaksanakan ibadah. Bahkan Nabi memperlama sujud saat cucuNya bermain di atas pundak nabi saat beliau sujud. Begitu juga ketika Nabi Muhammad SAW mempercepat salat saat mendengar ada suara tangisan bayi di saat salat berjamaah.

Beberapa contoh di atas adalah pentingnya meniru Nabi Muhammad dengan membawa dan membiasakan anak-anak kita dengan salat berjamaah di masjid. Kalaupun nantinya di masjid terjadi sedikit kebisingan dengan suara anak-anak itu, setidaknya bukan masalah yang berarti. Justru menjadi masalah serius ketika tidak ada lagi anak-anak muslim yang mendatangi masjid karena mereka merasa di masjid bukan tempat yang nyaman untuk mereka.

Anak anak dan remaja lebih suka nonton tv, nongkrong di kafe kafe, tempat hiburan, bermain game, dan nongkrong yang tidak berpaedah. Masjid hanya diisi orang tua.
Masjid menjadi tempat yang menakutkan karena orang tua selalu marah kalau mereka melakukan keributan saat berada di masjid.

Ingatlah pesan dari Muhammad Al Fatih, si penakluk Constantinople, Turki yang termasyur itu. Ia mengatakan,” Jika suatu saat masa kelak kamu tak lagi mendengar bunyi bising dan gelak tertawa anak-anak riang di antara shaf-shaf salat di masjid-masjid, maka sesungguhnya takutlah kalian akan kejatuhan generasi muda kalian di masa itu.”

Menanamkan nilai agama secara massif sewaktu anak masih kecil akan membentuk karakter anak berakhlak mulia. Sehingga apa yang dikhawatirkan Lickona dapat dihindari.

Akhlak mulia akan menjadikan mereka lebih mudah menyerap dan focus dalam proses belajar di sekolah hingga perguruan tinggi. Akhirnya mereka akan menjadi generasi yang tangguh dapat bersaing dengan sumber daya manusia dari negara lain. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here