Maulid Nabi dan Gerakan Ayo ke Masjid

0
577
Dani Setyawan, S.PdI

Oleh: Dani Setyawan, S.PdI
Ketua Jaringan Pemuda Remaja Masjid Indonesia (JPRMI)
Cabang Bintan dan Alumni STAI Miftahul Ulum

Kita patut bersyukur, secara kuantitas jumlah masjid di Tanjungpinang-Bintan terus bertambah. Namun, di tengah pertambahan jumlah masjid, ada satu hal yang menjadi ironi yakni jumlah jamaah yang masih segitu-gitu saja. Kalau pun bertambah jumlah jamaahnya tidak signifikan. Nah, melalui momentum peringatan maulid nabi, mari kita jadikan momentum untuk memakmurkan masjid dengan gerakan ayo ke masjid.

Spirit memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW seyogyanya menjadi refleksi bagi umat Islam dalam menjalankan semua hal yang disenangi atau dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Salah satu diantaranya adalah salat berjamaah di masjid. Masjid di zaman Rasulullah SAW bahkan tidak hanya dijadikan sebagai tempat peribadahan ritual, melainkan aspek-aspek lain juga masuk didalamnya.

Dari masjid aspek pendidikan, ekonomi, budaya dan ukhuwah Islam terjaga dengan baik. Dari masjidlah peradaban baik umat itu muncul. Dari masjidlah soliditas dan solidaritas umat bisa terjaga. Di zaman Rasulullah SAW masjid sangat multifungsi bagi kemajuan umat Islam. Masjid sebagai pusat pendidikan, pengajaran, dan pengembangan ilmu, khususnya Al Islam. Masjid sebagai pusat peribadatan, Pusat informasi masyarakat, Tempat menerima tamu-tamu negara, Ruang tunggu resmi tamu-tamu Rasulullah SAW.

Seruan untuk salat berjamaah di masjid atau memakmurkannya tertuang dalam Alquran dan hadis. Dalam Alquran disebutkan, “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah [9]: 18).

Firman-Nya yang lain, “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya dan berusaha untuk merobohkannya?” (QS. Al-Baqarah [2]: 114). Sementara itu, Ibnu Umar ra meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama 27 derajat dibandingkan shalat sendirian.” (HR.Bukhori dan Muslim). Dalam hadis yang lain juga diungkapkan, “Barangsiapa yang bersuci di rumahnya kemudian ia berjalan untuk menandatangani salah satu masjid di antara masjid-masjid Allah, demi menunaikan suatu kewajiban dari kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah, maka salah satu dari setiap langkahnya itu akan menghapuskan dosa serta langkah yang satunya lagi akan mengangkat derajatnya,” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Tirmidzi dan Hakim).

Meminjam pendapat Drs. Ahmad Yani aktivis masjid di poskotanews.com Kamis (31/05/2018) ada tiga keutamaan jika kita salat berjamaah di masjid. Pertama, adalah membuktikan kebenaran iman. Kedatangan seorang muslim ke masjid dalam rangka memakmurkannya dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat membuatnya harus diakui sebagai orang yang dapat membuktikan keimanan, karenanya kita pun tidak perlu meragukan keimanan orang yang suka datang ke masjid, Rasulullah SAW bersabda:

Apabila kamu sekalian melihat seseorang biasa ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia benar-benar beriman (HR. Tirmidzi dari Abu Sa’id Al Khudri). Kedua, adalah mendapatkan perlindungan pada hari kiamat. Orang yang sering datang ke masjid dalam rangka memakmurkannya menunjukkan bahwa ia memiliki ikatan batin dengan masjid. Kecintaan kita kepada masjid memang seharusnya membuat hati kita terpaut kepadanya sejak kita keluar dari masjid hingga kembali lagi ke masjid. Manakala seseorang telah memiliki ikatan hati yang begitu kuat dengan masjid, maka dia akan menjadi salah satu kelompok orang yang kelak akan dinaungi oleh Allah pada hari akhirat, Rasulullah saw bersabda: Ada tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah: …seseorang yang hatinya selalu terpaut denngan masjid ketika ia keluar hingga kembali kepadanya (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, yang merupakan keutamaan memakmurkan masjid adalah memperoleh derajat yang tinggi dan ampunan. Mencapai derajat yang tinggi dan memperoleh ampunan dari Allah swt merupakan dambaan setiap muslim, untuk meraihnya bisa dilakukan dengan datang ke masjid dalam rangka memakmurkannya. Manakala seseorang suka ke masjid, maka langkah-langkah kakinya akan dinilai sebagai penghapus dosa dan pengangkat derajat, Rasulullah saw bersabda:

Shalat seseorang dengan berjamaah itu melebihi shalatnya di rumah atau di pasar sebanyak dua puluh lima kali lipat. Sebabnya ialah karena bila ia berwudhu dilakukannya dengan baik lalu pergi ke masjid sedang kepergiannya itu tiada lain dari hendak shalat semata-mata, maka setiap langkah yang dilangkahkannya, diangkatlah kedudukannya satu derajat dan dihapuskan dosanya sebuah. Dan jika ia sedang shalat, maka para malaikat memohonkan untuknya rahmat selama ia masih berada di tempat shalat itu selagi ia belum berhadts, kata mereka: “Ya Allah, berilah orang ini rahmat, Ya Allah kasihilah dia. Dan orang itu dianggap sedang shalat sejak ia mulai menantikannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nah, JPRMI sendiri secara nasional sudah menyerukan gerakan nasional ayo ke masjid menimbang banyaknya keutamaan. Ada tiga pilar yang kami gaungkan yakni Pertama, pilar pendidikan. Pilar kedua yaitu ekonomi dan pilar ketiga adalah kesehatan. Tiga pilar ini akan kita rumuskan secara konkrit di daerah masing-masing. Nah, melalui momentum maulid nabi ini mari kita gaungkan semakan gerakan ayo ke masjid. Mari kita syukuri bertambahnya jumlah masjid dengan memenuhi saf-safnya. Semoga! ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here