Media Sosial dan Seni Memimpin

0
144

Oleh: Billy Jenawi
Dosen Program Studi Administrasi Publik Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Raja Haji Tanjungpinang

Di era globalisasi seperti saat ini akan sangat sulit sekali membendung perkembangan teknologi. Semua bidang kehidupan yang kita jalani sedikit banyak akan besentuhan dengan dengan teknologi.

Teknologi yang ada saat ini dan semakin canggih sesungguhnya sangat membantu kita, salah satunya adalah penggunaan Smartphone. Smartphone sendiri merupakan bentuk metaformosis dari telepon pada zaman dulu.

Selain bentuknya yang berubah, fungsi dan kegunaannya tentu saja mengalami perubahan. Telepon yang pada zaman dulu hanya digunakan untuk menghubungi dan mengirim pesan kepada orang lain, pada era smartphone fungsi tadi bertambah antara lain berfoto ria, belanja online, pemesanan taksi/ojek online, dan fungsi lainnya termasuklah fungsi untuk meggerakkan orang.

Menggerakkan orang merupakan bagian dari kepemimpinan. Menurut George R.Terry, kepemimpinan merupakan suatu hubungan yang ada di dalam diri seseorang atau pemimpin dan mempengaruhi orang lain agar mau bekerja dengan sadar dalam hubungan tugas agar tercapainya sebuah tujuan yang diinginkan.

Artinya, dalam kepemimpinan ada seni untuk menggerakkan orang agar mencapai tujuan yang diinginkan. Menggerakkan orang dapat dilakukan dengan berbagai cara dan sarana, apalagi di era kecanggihan teknologi seperti saat ini.

Era smartphone tentu tidak dapat dilepaskan dari aplikasi yang menyertainya, salah satunya adalah media sosial. Banyak media sosial yang saat ini beredar dan digunakan oleh masyarakat. Berdasarkan data yang ada pada situs kominfo.go.id pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang.

Dari angka tersebut, 95% menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Media sosial paling sering kunjungi adalah facebook dan twitter. Untuk urusan facebook Indonesia menempati peringkat 4 pengguna Facebook terbesar setelah USA, Brazil, dan India. Sedangkan twitter posisi Indonesia hanya turun satu peringkat di urutan 5 setelah USA, Brazil, Jepang dan Inggris.

Data tersebut sebenarnya memberikan gambaran kepada kita bahwa sesungguhnya masyarakat di Indonesia pada saat ini sudah terhubung dengan media sosial yang dapat dijadikan modal oleh para pemimpin untuk menggerakkan masyarakat tanpa melakukan hal-hal yang konvensional seperti mengumpulkan di lapangan dan berteriak. Saat ini bisa dilakukan dengan cara-cara elegan menggunakan smartphone dan hanya menggerakkan jari saja.

Banyak kepala daerah (pemimpin) yang telah melakukan hal tersebut, salah satu yang berhasil melakukan itu dan dapat dijadikan contoh adalah Kang Emil (sapaan akrab Ridwan Kamil) sebagai Wali Kota Bandung. Di bawah kepimimpinan beliau banyak program pembangunan di Kota Bandung yang melibatkan media sosial.

Beberapa program tersebut antara lain Senin Gerakan Pungut Sampah (GPS), Selasa tanpa rokok, Rebo Nyunda, Kamis Inggris, Jum’at bersepeda. Semua program tersebut selalu Kang Emil sampaikan lewat media sosial sebagai bentuk sosialisasi, bahkan untuk mendapatkan kritik dan masukan dari warga yang ia pimpin.

Respon posotif maupun negatif selalu bermunculan, dan hebatnya selalu ditanggapi oleh Kang Emil sendiri baik secara serius maupun lewat candaan. Terbukti lewat media sosial, program tersebut dapat tersampaikan dan dilaksanakan oleh masyarakat Kota Bandung.

Ada juga program Kang Emil yang mewajibkan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah ) hingga kelurahan yang ada di Kota Bandung untuk memiliki akun media sosial agar dapat menampung aspirasi dan keluhan masyarakat Bandung.

Bagi sebagian kalangan ini merupakan terobosan baru dalam penyelenggaraan Pemerintahan karena kenyataan yang ada selama ini seperti ada jarak pembatas antara pemimpin dengan yang dipimpin, antara masyarakat sebagai penerima pelayanan dengan pemerintah sebagai pelayan masyarakat.

Dalam mengatasi hal tersebut, media sosial menjadi salah satu solusinya. Tidak akan ada lagi batasan waktu, jarak, tempat dan lain sebagainya dalam melakukan interaksi dengan masyarakat.

Pemimpin dapat menggerakkan orang tanpa harus mengumpulkan mereka di lapangan, tanpa perlu memikirkan waktu seperti apel pagi. Dimanapun pemimpin berada, ia dapat menginstruksikan dan menginfokan apa yang harus dikerjakan oleh bawahan atau hanya sekedar memberi motivasi kepada mereka.

Masyarakat untuk mendapatkan pelayanan ataupun info yang berkaitan dengan pemerintahan tidak perlu berdesak-desakan di instansi pemerintah. Semuanya bisa dilakukan lewat media sosial. Intinya, tidak akan ada lagi batasan yang menjadikan jarak antara pemimpin dengan orang-orang yang dipimpinnya.

Sehingga bisa terjalin komunikasi yang lebih intens, lebih mudah menggerakkan orang dan pada akhirnya tujuan yang ingin dicapai bisa dicapai secara bersama-sama.

Media sosial sesungguhnya memberikan banyak kemudahan kepada kita, terutama pada para pemimpin yang ingin menyampaikan program yang harus melibatkan dukungan dan peran serta dari masyarakat. Semoga semua pemimpin yang ada di Indonesia dapat menggunakannya dalam rangka memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here