Mekar Rose Lima Tahun Kemudian

Buku Puisi Rida K Liamsi Terima Anugerah Sastra Bergengsi

0
160
Rida K Liamsi (kanan) beserta para penerima Anugerah Sastra dari Kemendikbud RI, di hotel Sahid, Jakarta, Minggu (28/10). | F. Badan Bahasa.

TANJUNGPINANG – Lima tahun lalu, Rida K Liamsi merilis buku puisi multibahasa dalam tajuk Rose, di Pekanbaru. Di antara sekian penampil di atas panggung adalah Cornelia Agatha. Dari 55 puisi yang terhimpun, Rose 3 jadi pilihannya untuk dibacakan. Cornelia naik ke panggung dengan mantap dan mulai meniti kata demi kata.

“Sudah berapa lama kita di sini?” begitu bunyi kalimat pertama Rose 3.

Ingatan tentang waktu. Berkilas-kilas. Berbilas-bilas. Antara lelah tetapi enggan menyerah. Antara pasrah tetapi menolak kalah. Antara terkubur namun takkan tersungkur.

Hari itu, penyair Sutardji Calzoum Bachri menilai, puisi-puisi mutakhir Rida semakin indah saja. “Ungkapannya semakin khas personal, dalam dan indah, yang pada hemat saya menjadikannya sebagai salah satu penyair terbilang di negeri ini,” tulis Presiden Penyair Indonesia ini.

Rose adalah pancang lain perjalanan seorang anak jati Dabo Singkep dalam keluasan samudra kesusastraan Tanah Air. Setelah Ode X, Tempuling, dan Perjalanan Kelekatu, Rose menggenapi kepingan pencapaian estetis Rida dalam menulis puisi.

Penulis Stephen King pernah berujar, “sesuatu yang bagus akan terus bertinggal.” Ungkapan ini benar adanya. Lebih-lebih ketika menilik Rose yang kemudian mekar mewangi setelah dituai setengah dekade silam.

Rose mengantarkan Rida sebagai satu dari lima penerima Anugerah Sastra dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, yang diberikan bersempena Kongres Bahasa Indonesia XI, Minggu (28/10) di Hotel Sahid, Jakarta.

Piagam penghargaan Rida K Liamsi.

Berdiri sejajar dengan Rida, ada Hasan Aspahani melalui buku biografi Chairil, Eka Kurniawan dengan buku cerpen Cinta Tak Ada Mati, Martin Suryajaya dengan novel Kiat Sukses Hancur Lebur, Ziggy Zezsyaeoviennanazabrizkie dengan novel Semua Ikan di Langit, dan Akhudiat lewat naskah drama Theatrum: Antologi 10 Lakon. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Menteri Muhadjir Efendi kepada para penerima.

Swafoto Rida bersama Hasan Aspahani, Martin Suryajaya, dan Eka Kurniawan.

Bagi seorang penyair 75 tahun, Rida merasa tersanjung karyanya yang rilis lima tahun silam masih mendapat tempat yang hangat di pembacanya. Ketika memutuskan untuk menerbitkan buku puisi keempatnya itu, Rida tidak pernah menyangkakan Rose masih akan mekar dan dielu-elukan bertahun-tahun kemudian.

Kini, Rida bermastautin di Tanjungpinang. Dalam keluasan, kedalaman, kebiruan, dan keteduhan Negeri Kata-kata, Rida menjelma serupa lumba-lumba bertekad paus biru. Seperti dalam puisinya berjudul Mengingat Kalian:

Alangkah luas, alangkah dalam, alangkah biru, alangkah teduh
Dan Aku berenang di dalamnya bagai seekor lumbalumba
Berenang memburu pelangi, mengibas ekor mengejar angin
Dan kau menggelitik punggungku: Teruslah! Kejar angin,
Kejar Ingin!
Jadilah Paus biru, karena bisa menjelajah lautan
Melawan badai, menenggelamkan perahu. (tih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here