Melestarikan Kearifan Lokal Gurindam 12

0
1445
Rahayu Mei Widyastuti

Oleh: Rahayu Mei Widyastuti
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH

Gurindam 12 merupakan salah satu kearifan lokal yang diakui dalam masyarakat Melayu. Gurindam 12 ini berisikan nasehat dan petunjuk untuk kehidupan yang diridhai oleh Allah Swt. dengan sandaran tersirat ilmu tasawuf. Setiap baris dalam gurindam 12 memiliki isi atau maksud yang saling bersambung dengan baris rangkap selanjutnya, sehingga menghasilkan satu makna yang lengkap. Baris pertama dalam Gurindam 12 disebut syarat dan baris kedua nya berisi jawaban dari “syarat” pada baris pertama. Gurindam 12 mengaktualisasikan empat aspek ajaran agama Islam yaitu akidah tauhid, ibadah, akhlak dan mu’amalat duniawi. Sebagai salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Melayu, seharusnya nilai-nilai yang diwariskan oleh Gurindam 12 itu dipertahankan dan dilestarikan hingga ke generasi-generasi selanjutnya.

Gurindam 12 memiliki 12 pasal yang setiap pasal memiliki makna yang berbeda. Gurindam 12 pasal yang pertama memiliki makna umat muslim menjalankan kehidupan berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Manusia memiliki keistimewaan dan derajat yang tinggi dibanding makhluk lain. Manusia harus memiliki aturan dalam hidupnya karena dalam kehidupan manusia memiliki proses yang panjang.

Makna yang terkandung pada pasal kedua tentang agama. Semakin manusia mengenal Allah maka semakin takut ia pada-Nya. Perintah-perintah-Nya wajib kita laksanakan, terutama yang tercantum dalam rukun Islam yang meliputi shalat, puasa, zakat dan naik haji. Dalam pasal ketiga, Raja Ali Haji mengingatkan betapa pentingnya menjaga anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Dalam pasal keempat, Raja Ali haji berbicara tentang budi pekerti. Hati adalah inti dari jiwa manusia. Hati yang dengki hanya akan merugikan diri sendiri. Berbicara harus dipikir supaya tidak celaka karenanya. Amarah adalah perbuatan sia-sia. Rangkap pertama pada pasal kelima bermakna orang yang bersifat baik tampak dari perbuatannya. Orang yang mulia dan berbangsa dapat kita lihat dari perilaku dan tutur katanya.

Baca Juga :  Peningkatkan Publikasi Ilmiah (Internasional) Para Dosen

Melalui pasal keenam, Raja Ali Haji memberi tahu orang-orang seperti apa yang sebaiknya ada disekitar kita. Pasal ketujuh juga berisi tentang budi pekerti. Orang yang banyak bicara memperbesar kemungkinan berdusta. Terlalu mengharapkan sesuatu akan menimbulkan kekecewaan yang mendalam saat sesuatu itu tidak seperti yang diharapkan. Dalam pasal kedelapan, Raja Ali Haji berpesan kalau orang yang ingkar dan aniaya terhadap dirinya sendiri tidak dapat dipercaya. Pasal kesembilan membahas kondisi seperti apa yang membuat setan datang atau pergi. Manusia yang mengerjakan pekerjaan yang tidak baik diibaratkan sebagai setan.

Dalam pasal kesepuluh bermakna kewajiban terhadap orang tua, anak, istri dan teman dibahas dalam pasal kesepuluh. Anak harus hormat dan berbakti pada ayah-ibunya. Dalam gurindam 12 pasal kesebelas menjelaskan kita hendaknya menolong sesama, terutama yang sebangsa. Kita harus membuang sifat-sifat buruk dan memegang amanat. Pasal yang kedua belas atau pasal yang terakhir membahas tentang kewajiban raja, orang yang berilmu dan hikmah kematian.

Semakin majunya peradaban dunia yang didukung oleh derasnya arus modernisasi, justru tidak membawa kabar baik untuk nilai kearifan lokal daerah. Contohnya saja nilai kearifan lokal Gurindam 12 dalam masyarakat kota Tanjungpinang yang semakin hari semakin diabaikan. Sebagai seorang perantauan yang sudah lebih dari 10 tahun menetap di Tanjungpinang, saya merasakan sendiri bagaimana nilai kearifan lokal Gurindam 12 itu sudah semakin menipis dan bahkan sekarang bisa dikatakan hanya sekedar menjadi nilai tanpa penerapan.

Jika dulu saya dengan mudah melihat anak muda yang keluar rumah dengan pakaiannya yang sopan, saat berjumpa teman sebaya nya mereka saling sapa dengan ramah, saat berjumpa yang lebih tua mereka juga tegur dan salam, sehingga saya berfikir inilah nilai kearifan lokal di Tanjungpinnag yang harus diterapkan dan jadi panduan hidup itu. Namun sekarang nilai itu hanya menjadi kenangan semata.

Baca Juga :  Jauhi Narkoba Dekati Agama

Nilai itu bahkan sekarang hanya dipegang dan berusaha dilestarikan oleh para orang-orang tua. Anak muda di kota Tanjungpinang kini lebih tertarik menciptakan identitas dirinya sebagai generasi milenial tanpa pedoman nilai kearifan lokal lagi. Buktinya saja di kota Tanjungpinang anak-anak mudanya lebih tertarik untuk balapan liar, memanggil nama temannya dengan nama orangtuanya,berkelahi sesama teman, tawuran, keluar rumah dengan baju “robek” dan “kurang bahan”nya, bahkan anak usia pelajar yang seharusnya malam belajar justru ia keluar rumah untuk kumpul dengan geng-nya dan merokok di area terbuka seperti pinggir jalan.

Orang yang lebih muda lupa untuk menghormati yang lebih tua, sesama teman lupa untuk saling senyum dan sapa, dan yang lebih berilmu sombong akan ilmu nya Kemana hilangnya nilai kearifan lokal itu di jiwa generasi muda? Apakah pelestarian kearifan lokal Gurindam 12 itu hanya milik orang-orang terdahulu? Tentu saja tidak bukan? Bahkan seperti kata pepatah “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”, maka sudah berarti pelestarian nilai kearifan itu seharusnya milik semua masyarakat, baik muda maupun tua, kaya atau miskin, serta pendatang maupun penduduk asli. Pelestarian itu bukan berkaitan dengan pewarisan dari mulut kemulut saja, tetapi lebih tentang bagaimana nilai kearifan lokal yang terkandung dalam Gurindam 12 itu tetap hidup dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Gurindam 12 merupakan ajaran kehidupan bersosial baik antar sesama manusia ataupun hubungan manusia dengan Allah Swt. Lalu kenapa di zaman yang serba maju ini ajaran itu justru dianggap “ketinggalan zaman” dan tidak sesuai dengan anak muda. Lahirnya nilai kearifan lokal itu sudah diakui dan berusaha dipertahankan oleh masyarakat terdahulu agar tetap mampu diingat sebagai nilai kearifan lokal.

Baca Juga :  Mari Berpesta Demokrasi ke TPS

Tulisan dan isi pasal Gurindam 12 banyak kita jumpai pada dinding-dinding disekolah dan perguruan tinggi, tujaunnya adalah untuk mengingatkan generasi muda akan kearifan lokal yang kita miliki. Namun pada kenyataannya, tulisan itu hanya dijadikan sekedar tulisan saja. Jika bukan kita yang muda yang melanjutkan nya dan mempertahankannya, lalu kepada siapa kita menyerahkan kewajiban pewarisan itu?

Sebagai nilai kearifan lokal, Gurindam 12 sebenernya mengikat semua masyarakat Melayu, dan dapat dijadikan landasan untuk semua masyarakat diluar Melayu. Oleh karena itu, walaupun hanya pendatang bukan berarti kita bisa berlaku seolah-olah hidup bermasyarakat di Tanjungpinang tidak perlu berlandaskan kearifan lokal dari Gurindam 12, justru seharusnya sebagai pendatang kita jauh lebih menghormati dan ikut mengamalkan nilai kearifan yang ada di bumi yang ia pijak ini dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bukan berarti meninggalkan kearifan dari daerah asal, namun lebih bagaimana cara kita untuk mengakulturasikan kearifan daerah asal dengan kearifan lokal Gurindam 12.

Dan bagi penduduk asli pun seharusnya jauh lebih faham akan bagaimana seharusnya kewajibannya mewariskan nilai kearifan ini agar bertahan dan semakin eksis ditengah derasnya arus modernisasi. Jika dalam kesatuan masyarakat tanpa peduli status dan kedudukannya dapat saling bahu membahu menjaga, mempertahankan, serta mengamalkan nilai-nilai kearifan lokal tersebut, niscaya tak akan hilang nilai kearifan lokal Gurindan 12 di kota Tanjungpinang dan akan terus bertahan hingga generasi seterusnya. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here