Melestarikan Marwah Budaya Literasi Melayu Melalui Literasi Perbendaharaan Kepri

0
2533
Edy Sutriono,S.E.,M.M.,MSE

Oleh:Edy Sutriono,S.E.,M.M.,MSE.
ASN Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kepulauan Riau

Membaca dan menulis adalah dua kata yang sangat akrab dengan literasi. Membaca membuat kita dapat menjelajahi ke seluruh tempat dan waktu, karena dengan membaca akanmemperluas cakrawala pengetahuan dan wawasan dari sepanjang zaman. Selanjutnya pengetahuan yang telah kita miliki dari membaca tersebut, membuat kita memiliki ide/gagasan, curahan hati, pesan yang hendak kita sampaikan ke khalayak ramai.Tentu selanjutnya kita akan berusaha menyuarakkannya dalam bahasa lisan atau menuangkannya dalam sebuah tulisan. Demikian bak roda berputar, tulisan akan dibaca orang lain dan akan menambah pengetahuan orang tersebut yang pada gilirannya orang tersebut akan menulis. Literasi yang baik sesungguhnya berisi hal-hal baik, penuh sopan santun, penuh nilai-nilai ataupun kritik namun bersifat membangun disertai pemberian solusi, dan bukan seperti akhir-akhir ini yang kita baca di media sosial yang penuh hoax.

Kata literasi sendiri berasal dari bahasa Latin “literatus”yang artinya orang yang belajar.Pengertian literasi secara umum adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan menganalisainformasi saat membaca dan/atau menulis.Sementara itu, UNESCO mengartikan literasi sebagai seperangkat keterampilan nyata, khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis, terlepas keterampilan itu diperoleh dari siapa serta cara memperolehnya.Keterampilan orang dalam membaca dan menulis sangat dipengaruhi oleh latar belakang, pengalaman, pengamatan, nilai-nilai budaya, dan juga penelitian orang tersebut.

Literasi Sebuah Budaya Melayu
Dalam konteks budaya Melayu, literasi telah mengakar dalam sanubari dan menjadi budaya/tradisi Melayu, khususnya di Provinsi Kepulauan Riau sejak dahulu kala.Pandangan sebagian besar orang Melayu, menulis dianggap sebagai pekerjaan yang bersifat lebih kekal daripada pekerjaan lainnya.Mengapa demikian? Tulisan diyakini mampu melintasi dan menembustempat dan waktu.”Orang boleh sudah meninggal atau tiada lagi, tapi tulisannya tetap bisa dibaca oleh generasi selanjutnya” demikian bunyi salah satu pepatah.

Budaya literasi Melayu telah membuktikan bahwa dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia mencatat perannya dalam kesusastraan dan bahasa.Masih ingatkahkita dalam lembar catatan sejarah bangsa, sebuah karya besar yang sampai sekarang sangat terkenal, yaitu Gurindam Dua Belas?Syair yang penuh petuah dan nasihat kehidupan,karya seorang sastrawan besar Melayu, Raja Ali Haji.Sastrawan yang sangat kreatif dan berkontribusi dalam bidang literasi di Indonesia.Dikenal sebagai cendekiawan Melayu yang serba bisa dan telah menghasilkan karya dalam dunia literasi Melayu.Maka sudah sepantasnya Raja Ali Haji dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional di bidang Bahasapada Tahun 2004.Selain menulis karya sastra besar, beliau juga meletakkan fondasi dan dasar-dasar tata bahasa Melayu melalui Pedoman Bahasa.Catatan kedua dalam sejarah bangsa yakni Bahasa Melayu inilah yang kemudian ditetapkan sebagai bahasa Indonesia, bahasa resmi negara Indonesia, dalam Kongres Pemuda Indonesia (Sumpah Pemuda)pada tanggal 28 Oktober 1928.

Baca Juga :  Peran Ekspor-Impor dalam Perdagangan Internasional di Era Milineal

Literasi pada zaman itu tidak sekedar berfungsi sebagai karya sastra, sarana menyampaikan pesan nilai-nilai agama dan budaya luhur kepada masyarakat, sumber pendidikan rakyat, alat mengentaskan dari illeterasi (buta aksara), namun lebih dari itu literasi digunakan sebagai alat perjuangan dan perlawanan kepada penjajahan. Literasi seringkali lebih efektif menjadi alat perlawanan terhadap penjajahan Belanda dibandingkan dengan mengangkat senjata.Menurut cerita, pernah pada suatu waktu ketika ada upaya untuk membuat sekolah-sekolah pribumi di tanah Melayu berbahasa Belanda, ditulislah Kitab Pengetahuan Bahasa.Ketika Belanda membuat buku sejarah Melayu versi mereka, dilawanlah dengan buku soal sejarah Melayu dari budaya lokal.Efektifitas sebuah literasi ini juga dapat kita perhatikan dalam era sekarang, seseorang dapat naik atau turun kredibilitas dan kariernya gara-gara pemberitaan dan tulisan.

Literasi Perbendaharaan Kepri Ditengah Makin Pudarnya Budaya Literasi
Namun sayangnya budaya literasi Melayu yang telah mengakar dan ditorehkan karya-karya besar terdahulu tersebut, bila kita melihat kehidupan keseharian di Kepulauan Riau hanya lebih sering terdengar dalam bentuk pantun.Pantun yang diucapkan hanya pada saat acara-acara resmi dan tidak lagi terdengar dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat.Demikian pula sudah sangat jarang bahkan tidak ada muncul karya sastra atau tulisan sekaliber zaman sastrawan tempo dulu. Disisi lain dalam kehidupan masyarakat Kepri pada umumnya juga semakin pudar minat baca dan menulis. Entah karena pengaruh teknologi dan perkembangan zaman now atau pengaruh gaya hidup modern yang ingin serba praktis. Secara faktual kita dapat melihat perpustakaan makin sepi dan hanya sebagai tempat onggokan buku, minat baca dan menulis di kalangan pelajar dan masyarakat makin kurang dan lebih banyak untuk melakukan aktivitas updatemedia sosial, sibuk di warung kopi/café, main games, dan lainnya. Sebaliknya bila kita bandingkan dengan negara maju, minat baca semakin meningkat sejalan dengan perkembangan teknologi.

Baca Juga :  Suksesnya Pilkada Serentak 2018 Bertanda Terwujudnya Pemilih Berdaulat

Ditengah semakin pudarnya budaya literasi serta secara tidak sengaja didorong rasa ingin melestarikan marwah budaya literasi Melayu, Ditjen Perbendaharaan melalui kantornya di daerah, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kepri menghelat pada Tahun 2018 ini dengan program yang dinamakan “Program Perbendaharaan Menulis”. Program Literasi Perbendaharaan ini tertuang dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Perbendaharaan No.SE-4/PB/2018 tentang Program Perbendaharaan Menulis di Lingkungan Ditjen Perbendaharaan. Program literasi perbendaharaan ini wajib diikuti seluruh ASN di Ditjen Perbendaharaan.Tujuannya adalah untuk mencetak sumber daya manusia yang produktif dan berdaya saing serta mampu menuangkan ide dan menyuarakan informasi tidak hanya bagi organisasi namun juga kepada masyarakat umum. Program Perbendaharaan Menulis terdiri dari kegiatan-kegiatan yang sesungguhnya dapat juga diterapkan dalam menggairahkan atau membangun kembali budaya literasi Melayu Kepri yang mulai pudar, yakni antara lain:

1.Budaya Kerja Sharing Informasi, kegiatan untuk menarik minat baca pegawai dengan meminta seluruh pegawai untuk menyerap pengetahuan dan informasi yang lebih luasmelalui media informasi internal seperti Majalah Perbendaharaan, dan aktif dalam Forum Kajian Perbendaharaan.
2.Penyusunan Karya Tulis/Artikel, kegiatan yang mewajibkan seluruh pegawai khususnya pejabat untuk menulis karya tulis dalam bentuk artikel, essay, cerpen, atau pengalaman pribadi minimal 1 (satu) karya tulis setiap Triwulan. Dalam rangka mengawal terciptanya budaya Literasi Perbendaharaan ini, kewajiban menyusun karya tulis ini dijadikan sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU) setiap pejabat Ditjen Perbendaharaan. Selanjutnya karya tulis tersebut dapat disuarakan dalam kontribusinya ke mass media baik cetak maupun elektronik lokal Kepri. Lantas apa yang ditulis dan apa manfaatnya bagi Kepri?

Mungkin bagi sebagian kita belum sepenuhnya mengetahui peran Ditjen Perbendaharaan di Kepri dalam pembangunan Kepri yakni menyalurkan dana dan mengawal APBN. Satu-satunya instansi pemerintah di Kepri yang mengalirkan dana APBN. Hasil-hasil pembangunan yang berasal dari APBN/D, peran positif dan optimias dari pemerintah Pusat dan Pemda merupakan tema yang menjadi bagian dari penulisan karya tulis dalam Literasi Perbendaharaan.

Meningkatkan pengetahuan masyarakat akan APBN/D, memupuk rasa optimis dalam membangun Kepri, membangun desa dengan Dana Desa dan sebagai perlawanan untuk upaya memerangi kemiskinan dan pengangguran sebagaimana perlawanan melawan penjajahan, sekaligus mendapatkan feedback masukan dari masyarakat untuk perbaikan. Kajian Fiskal Regional, capaian-capaian antara lain penyaluran DAK Fisik dan Dana Desa, penyaluran Kredit Usaha Rakyat dan kredit Ultra Mikro, pelaporan keuangan dan akuntansi pemerintahan adalah bagian tema dalam Literasi Perbendaharaan. Diharapkan literasi ini dapat membangkitkan kembali budaya Literasi Melayu untuk kecerdasan masyarakat, sumber pengetahuan dan demi kontribusi kepada pembangunan Kepri.

Baca Juga :  Hobi atau Penyakit?

Namun demikian karya tulis dalam Literasi Perbendaharaan juga mempunyai tema meningkatkan dan melestarikan kearifan dan budaya lokal yang dapat dijadikan pendorong dan penyemangat dalam menjalankan tugas dan fungsi pegawai dan juga rasa optimis masyarakat dalam membangun Kepri lebih baik dan maju.

Disisi yang lain penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD dan yang berakar dari bahasa Melayu meruapakan hal yang mutlak dalam penyusunan karya tulis tersebut.

3.Pengembangan dan Revitalisasi Perpustakaan, meliputi kegiatan penataan ruangan, penambahan buku dan pemberdayaan perpustakaan sebagai salah satu bagi media literatur pegawai.
4.Optimalisasi Website dan Media Sosial Resmi Kantor, kegiatan update informasi dalam websitedan medsos resmi kantor dalam rangka keterbukaan informasi publik.
5.Perlombaan Menulis, kegiatan untuk mendorong literasi menjadi semakin berkualitas dengan memberikan penilaian atas karya tulis yang disusun pegawai.
6.Penyusunan Buku dan Bedah Buku, kegiatan menyusun buku Profil yang didalamnya tidak saja menyajikan tugas Perbendaharaan namun juga budaya dan kearifan lokal Melayu.

Akhirnya, kunci sukses membangun kembali budaya literasi Melayu berpulang kepada komitmen kita semua. Kesadaran akan pentingnya membaca dan menulis menjadi sebuah tradisi harus kita mulai sekarang.Semoga Literasi Perbendaharaan Kepri dapat menjadi milestoneuntuk dapat diikuti seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah serta masyarakat Kepri pada umumnya.”Scribo Ergo Sum” (aku menulis, maka aku ada) mengutip filsuf Yunani Descartes.Selamat membangun kembali budaya Literasi Melayu sebagaimana pendahulu kita.Sebagai penutup tulisan,izinkan saya menyampaikan sebuah pantun :

Kalau ada ilmu di tangan
Janganlah lupa diamalkan
Bila perlu ditulis dan diwartakan
Kepada insan di sekitaran.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here