Memahami Situasi Chairil

0
136
ILUSTRASI Memahami Situasi Chairil part 2

Menulis Puisi untuk Negeri yang Penduduknya 90 Persen Buta Huruf

(Bagian Kedua dari Dua Tulisan)

IA tak peduli siapa yang akan membaca karyanya.  Tapi kita tahu sajak-sajaknya dibaca luas, oleh murid-murid hingga prajurit medan tempur.  Ia tak peduli – atau mungkin malahan bangga – ketika guru Taman Siswa melarang sajak-sajaknya dibaca karena dianggap merusak bahasa yang dipakai umum saat itu.  Karya Chairil, sebagai hasil dari kegiatan menulis – satu bagian dari budaya literasi itu – tak banyak difahami pada masanya.  Bahkan lima tahun setelah kematiannya, Asrul Sani menulis, sajak-sajak Chairil ibarat hutan dan perlu keberanian untuk masuk mengungkap apa rahasia makna di dalam lebat hutan itu.

Sikap tak peduli itu misalnya ia ekspresikan dalam bait akhir sajak Fragmen yang dikutip di awal tulisan ini: yang bukan penyair tidak ambil bagian. Chairil menantang kita. Literasi adalah proses pembentukan situasi yang terus-menerus. Bisa membaca saja belum cukup. Ia menawarkan sajak, produk untuk dibaca, yang menuntut kemampuan membaca yang lebih, menguasai referensi-referensinya, melacak rujukan-rujukannya. Sesungguhnya, Chairil menawarkan satu pengalaman tamasya bahasa dan petulangan literasi yang mengasikkan.  Wawasan dan kecakapan literasi Chairil memungkinkan dia dipercaya mengelola berbagai penerbitan, meskipun ia kemudian tak pernah betah menjadi pekerja tetap, tak nyaman dalam kungkungan mengalami kantor.

Literasi pada Masa Kita
Sastrawan saat ini harusnya lebih bahagia daripada Chairil.  Situasi berubah penuh. Tingkat literasi Indonesia menurut daftar yang dibuat oleh UNESCO (2015) adalah 93.9 persen (laki-laki 96.3 persen, perempuan 91.5 persen). Persentase itu lebih tinggi 7.3 persen daripada rata-rata literasi global (86.3 persen).   Beberapa negara mencapai tingkat literasi 99 persen (Singapura, Moldova, Azerbaijan, Rusia). Sementara Mali (38.7 persen), Afghanistan (38,2 persen), Afrika Tengah (36 persen), Papua Nugini (30,4 persen), dan yang paling rendah Nigeria (19,1 persen).   Hanya Korea Utara yang dicatat mencapai tingkat literasi 100 persen, tapi UNESCO memberi catatan angka ini perlu diragukan dan didiskusikan (Wikipedia, 2016).  Institusi di bawah PBB ini mengartikan literasi pada pengertian yang paling dasar yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.  Data didapat dari survei berturut-turut dalam kurun sepuluh tahun terakhir.

Bayangkan betapa luas dan besarnya orang yang bisa menikmati  karya sastrawan saat ini. Memang, menurut daftar World’s Most Literate Nations (WMLN) yaitu hasil pengumpulan data 200 negara (tapi hanya 61 yang akhirnya bisa diolah datanya), Indonesia berada di peringat ke-60. Harus sedihkah kita? Tak perlu, tapi kita harus menjadi terpacu karenanya. Central Connecticut State University (CCSU)  mengumpulkan semua data dari sumber sekunder dan melansir data dan analisa tersebut tahun Maret 2016 lalu mengukur dengan parameter yang lebih banyak. Ada lima kategori – suratkabar, perpustakaan, masukan sistem pendidikan (masukan), keluaran sistem pendidikan, dan akses komputer –  yang terperinci lagi menjadi beberapa subkategori yang beberapa sulit juga dimengerti. Misalnya, apa artinya menghubungkan tingkat literasi dengan berapa jumlah eksemplar suratkabar yang diekspor ke luar negeri? Indonesia jelas nol angkanya di sini. Soal komputer juga bisa diperdebatkan. Angka yang dipakai adalah jumlah rumah tangga yang memiliki PC, dan atau tablet, telepon pintar, bahkan ponsel. Dan Indonesia ada di peringkat 60 untuk kategori ini. Benarkah? Rasanya juga bisa ditelisik lagi. Rata-rata kepemilikan telepon sekarang bisa lebih dari satu per orang.

Sastrawan sekarang tidak bisa untuk tidak peduli pada pembacanya, seperti Chairil dulu. Sastarawan dan publik sastranya punya akses yang sama kepada sumber-sumber yang diolah oleh si sastrawan.  Ini memerlukan strategi berkarya yang berbeda. Yang diberi harga adalah bagaimana si sastrawan mengolah bahan-bahan yang ia pilih untuk karyanya.

Tenggelamnya kapal Van Der Wijck sebagai peristiwa dulu tak terberitakan sebagaimana media sekarang memberitakan penyanderaan awak kapal kargo  Indonesia oleh gerombolan Abu Sayyaf di Filipina.  Karena itu orang dulu (dan pembaca sekarang) membaca novel Hamka yang mengolah peristiwa itu dengan ketertarikan dan keingintahuan yang mungkin akan berbeda dengan karya sastrawan sekarang jika dia menulis dengan bahan-bahan dari peristiwa penculikan di Filipina itu.

Tugas yang Tetap Sama
Chairil Anwar pada masanya dan sastrawan manapun pada masa sesudahnya punya satu tugas yang tetap sama. Penyair adalah pembuka jalan ke masa depan bahasa. Hasil kerja penyair pun sebaliknya adalah penghubung bahasa dan pemakainya saat ini ke masa lalunya.

Sajak-sajak Chairil Anwar sepeninggalnya menjadi bahan bahasan, rujukan, pijakan bagi penyair sesudahnya, dikutip dalam pidato presiden, dipakai untuk mempertegas makna dan memperindah ucapan, juga menginspirasi film populer, apa yang berada di luar ranah bahasa.

Coba bayangkan betapa keringnya Bahasa Indonesia jika Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Rendra, Goenawan Mohamad, dan para penyair lain tidak menuliskan puisi-puisi terbaiknya!

Penyair kini, sastrawan kini, berutang pada para pendahulunya dan ia harus membayar utang itu dengan menghasilkan karya-karya terbaik yang memperkaya bahan bacaan, rujukan, kutipan, sumber permenungan, bagi pembaca kini dan nanti.  Dan hanya karya-karya yang kuat yang bertahan lama. Seperti apa yang ditekadkan Chairil dalam bait sajaknya: Aku mau hidup seribu tahun lagi.***

Oleh: HASAN ASPAHANI
Penyair dan Jurnalis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here