Memahami Situasi Chairil

0
215
Chairil Anwar

Menulis Puisi untuk Negeri yang Penduduknya 90 Persen Buta Huruf

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

CHAIRIL Anwar – dengan bakat dan minatnya yang kuat pada kesenian –  tumbuh dalam lingkungan yang mendukungnya untuk membangun kepenyairannya: kesempatan mendapatkan pendidikan pemerintah kolonial, akses pada buku-buku yang baik, dan lingkungan pergaulannya di Batavia.

Chairil dan Literasi pada Zamannya
Apa hebatnya dan buat apa seorang penyair menulis puisi pada saat tingkat buta huruf di negerinya masih 90 persen lebih? Chairil Anwar mulai berkarya pada tahun 1943 ketika Indonesia dalam keadaan seperti itu.

Chairil ke Batavia pada tahun 1942 untuk melanjutkan MULO yang ia tinggalkan di Medan. Mungkin ia sempat meneruskan pelajaran tapi pasti ia tak lulus. MULO dilihat dari jenjang pendidikan setara dengan SMP sekarang, tapi dari tingkat pelajaran lebih tinggi. Di HIS, Chairil sudah membaca buku-buku MULO.

Jepang menutup sekolah-sekolah dan universitas. Chairil beruntung sempat menumpang di rumah Sutan Sjahrir, pamannya. Sjahrir punya koleksi buku yang sangat cukup untuk melayani minat baca Chairil. Dari ruang perpustakaan Sjahrir pikiran Chairil melanglang buana.

Chairil kemudian memperluas pergaulannya, mengikut minat besarnya pada kesenian, khususnya dunia tulis menulis, apa yang sudah ia sadari sejak semula:

Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati. Tapi hingga kini lahir aku hanya bisa mencampuri dunia kesenian setengah-setengah pula. Tapi untunglah bathin seluruh hasrat dan minatku sedari umur 15 tahun tertuju ke titik satu saja, kesenian. (Kartu pos Chairil kepada Jassin, 8 Maret 1944)

Ia bertemu Sutan Takdir pengelola Balai Pustaka yang sekaligus membangun perlawanan terhadap lembaga itu lewat Pujangga Baru – kedua kegiatan penerbitan itu terhenti pada zaman Jepang. Di lingkaran Takdir itu juga Chairil membangun hubungan benci dan rindu dengan Jassin.

Jassin yang bekerja pada Takdir juga pembaca yang tak pernah puas. Koleksi bukunya menggiurkan Chairil yang suka datang untuk meminjam buku tanpa memberi tahu. Atau jika dia sedang sopan dia meninggalkan catatan.

Dari satu catatan itu misalnya, kita bisa tahu saat itu Chairil membaca H.R. Holst (De Nieuwe Getroste dan Keur uit de Gedichten) dan Huizinga (In de Schaduw van Morgen dan Cultuur Historiche Verkenningen). Ini seperti anak SMA sekarang membaca buku-buku Nassim Nicholas Taleb (penulis Amerika kelahiran Lebanon) itu atau buku-buku Malcolm Gladwell (penulis Kanada kelahiran Inggris) itu.

Sajak-sajak awal Chairil tak bisa menembus terbitan yang disensor ketat oleh penguasa Jepang. Jepang menyensor segala hal: film, buku, suratkabar, majalah, bahkan bisa menembak orang yang berbicara dalam bahasa Belanda yang mereka larang keras untuk dipakai di bawah kekuasaan mereka. Untunglah Jassin  tak habis akal. Ia yang melihat kekuatan dan kebaruan pada sajak Chairil kemudian mengetik tujuh rangkap sajak-sajak itu dan membagikannya kepada tokoh-tokoh yang ia anggap penting dan perlu mengetahui sajak itu.

Chairil adalah produk sistem pendidikan yang meskipun diskriminatif (tak semua orang bisa sekolah) tapi kurikulum dan guru-gurunya bagus. Ia beruntung karena status sosial orangtuanya memungkinkan dia untuk menjadi penduduk yang tak sampai sepuluh persen, yaitu mereka bisa membaca saat itu. Ini butir pertama saya tentang Chairil dan literasi: ia dibentuk oleh satu proses pendidikan yang terancang baik.

Chairil adalah tukang baca yang rakus. Minatnya pada kesenian keras.  Jika tak bisa beli buku, ia pinjam, atau mencuri. Chairil dibentuk menjadi penyair besar oleh bacaannya yang luas. Chairil yang berbakat besar itu pasti tak akan jadi Chairil yang kita kenal jika ia tak membaca bahan-bahan yang ia cerna pada saat itu.

Maka, butir kedua yang ingin saya petik dari sosok Chairil dalam kaitan dengan literasi adalah: ciptakanlah situasi dimana orang yang punya minat baca punya akses mudah ke sumber bacaan. Itu bisa berupa perpustakaan yang menyediakan buku, atau sambungan internet yang baik untuk mengakses data digital yang berlimpah-ruah. Pada zamannya Chairil sudah membaca dan tak asing dengan karya-karya Hendrik Marsman, Edward du Perron, Slauerhoff, W.H. Auden, John Cornford, R.M. Rilke, hingga MacLeish. Apa yang menghalangi anak-anak muda sekarang, yang seumur dengan Chairil dulu ketika dia mulai sangat serius menulis, untuk mengakses karya siapa saja di belahan dunia manapun? Harusnya situasi saat ini bisa melahirkan banyak Chairil yang lain.

Chairil berada di lingkungan yang mendukung minatnya. Ia berada di sebuah komunitas yang memungkinkan ia mengasah bakat dan menguji pencapaian penulisannya. Jassin, Takdir, Sanusi Pane, Idrus, Baharuddin, Asrul Sani, Affandi, Basuki Resobowo, Soedjojono, hingga Ida Nasution, dan Laurens Koster Bohang adalah kawan-kawan kepada siapa Chairil memukul denturkan dan menguji pematang ide-idenya.

Butir ketiga saya adalah komunitas. Dulu mungkin istilah ini tak tersebutkan, tapi saya melihat yang melingkupi Chairil adalah sebuah komunitas literasi yang sangat dinamis.

Selebihnya Chairil tak peduli. (bersambung)

Oleh: HASAN ASPAHANI
Penyair dan Jurnalis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here