Memaknai dan Menyikapi Pertumbuhan Ekonomi Kepri yang Menggeliat

0
688
Panusunan Siregar

Oleh: Panusunan Siregar
Pemerhati Pembangunan Sosial Ekonomi Kepri

Pascarilis BPS Provinsi Kepri tentang pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan pertama 2018 yang tumbuh sebesar 4,47 persen, Badan Pengusahaan (BP) Batam melaksanakan diskusi mendalam tentang faktor-faktor pendorong pertumbuhan tersebut.

Diskusi yang langsung dipimpin oleh Kepala BP Batam, Lukita D. Tuwa itu dihadiri oleh beberapa Deputi dan Direktur dengan narasumber PanusunanSiregar. Inisiatif diskusi bedah pertumbuhan ekonomi Kepri oleh BP Batam sangatlah tepat mengingat bahwa kekuatan ekonomi Kepri bertumpu pada Batam. Berdasarkan hasil kajian penulis, terungkap bahwa 71 persen geliat ekonomi Kepri ditentukan oleh geliat ekonomi Batam. Hal ini tidak terlalu mengejutkan karena hampir 69 persen nilai investasi Kepri terpusat di wilayah Batam dan 31 persen sisanya tersebar di 6 kabupaten/kota lainnya.

Bahkan bila dikaji secaras ektoral, kekuatan ekonomi Kepri bertumpu pada sektori ndustri pengolahan yang notabene bahagian terbesar berlokasi di Batam. Secara analitikal statistik, 91 persen geliat perekonomianKepri ditentukan oleh geliat sektor industri pengolahan.

Mesin Perekonomian Kepri
Ketika perekonomian Kepri mengalami keterpurukan pada 2017 yang hanya tumbuh 2,01 persen, atau 50 persen di bawah level inflasi yang angkanya 4,02 persen, sontak para pemangku kebijakan/kepentingan merasa terkena “setrum” dengan kekuatan 2.000 voltage.

Tak ada yang menduga bahwa perekonomian Kepri bisa terperosok sebegitu dalam mengingat pada tahun-tahun sebelumnya, perekonomian Kepri biasa tumbuh di atas angka 5 persen. Dampaknya, target-target dalam RPJMD terpaksa harus direvisi atau disesuaikan dan khususnya mengenai pertumbuhan ekonomi 2018 Gubernur Kepri H Nurdin Basirun menargetkan pada kisaran angka 4,5-5,0 persen.

Bila merujuk pada hasil rilis BPS Provinsi Kepri, apa yang ditargetkan oleh Gubernur Kepri itu, nampaknya ada optimisme untuk mencapainya sepanjang semua pihak para pemangku kebijakan/kepentingan berkomitmen untuk itu.

Baca Juga :  Tuah dan Jebat, Saat Integritas Saja Tak Cukup

Dengan capaian 4,47 persen pada triwulan pertama 2018 yang notabene di luar ekspektasi, menjadi modal kuat untuk mencapai pertumbuhan 5 persen sebagaimana diungkapkan penulis melalui tulisannya berjudul “Pertumbuhan Ekonomi Kepri 2018, Mampukah Rebound?” yang dirilis media ini pada 8 Mei lalu.

Pertumbuhan yang relatif tinggi tersebut tidak terlepas dari pulihnya 3 dari 4 sektor penggerak utama perekonomian Kepri pada triwulan I/2018. Ketiga sektor itu adalah industri pengolahan, konstruksi, dan pertambangan/penggalian yang tumbuh secara berturut-turut 4,43 %, 5,08 %, dan 3,99 % yang mana pada triwulan I/2017 mengalami kontraksi.

Jika dicermati dan diurai lebih jauh, pulihnya industri manufaktur yang merupakan mesin penggerak utama perekonomian Kepri (share 36 %) lebih didorong oleh pulihnya 4 dari 5 sub-sektor utama.

Keempatnya adalah sub sektor industri barang dari logam, komputer, barang elektronik dan optik, sub sektor industri logam dasar, sub sektor industri mesin dan perlengkapannya, dan sub sektor industi jasa reparasi dan pemasangan mesin dan perlengkapannya yang semuanya telah tumbuh di atas 7 persen.

Sementara itu, sub sektor industri alat angkutan (shipyard) yang merupakan mesin penggerak ke 4 utama, masih belum pulih dan pertumbuhannya, – 5,33 persen.

Bila ditilik dari sisi pengeluaran, pertumbuhan yang relatif tinggi pada triwulan pertamaitu, didorong olehkomponen PMTB/investasi yang perannya 42,67 persen telah mampu tumbuh lebih kencang, yaitu 6,5 % dimana pada triwulan I/2017 hanya tumbuh 4,87 %.

Bahkan komponen konsumsi pemerintah (APBN dan APBD) yang pada triwulan I/2017 tumbuh sebesar-5,26 % telah mampu tumbuh lebih kencang, yaitu 9 % pada triwulan I/2018.

Hal ini mengindikasikan bahwa pemahaman akan peran krusialnya anggaran pemerintah daerah (pemprov dan pemkab/pemko) sebagai stimulator dalam menggerakkan roda perekonomian pada awal tahun, sudah sungguh baik dan tentunya harus ditingkatkan pada triwulan-triwulan mendatang.

Baca Juga :  KNPI Hebat Pemuda Kuat

Apa yang harus dilakukan?
Di tengah hiruk pikuk melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu akan berdampak pada kinerja perekonomian nasional. Bila nilai tukar melemah maka dibutuhkan rupiah yang lebih banyak untuk membeli bahan baku/penolong asal impor dan sudah barang tentu akan meningkatkan biaya produksi (input cost).

Efek liniernya adalah meningkatnya harga output (barang yang dihasilkan) yang berarti peningkatan inflasi. Itulah sebabnya kenapa Bank Indonesia harus menaikkan suku bunga acuan (BI Repro Rate) dari 4,50 ke 4,75 % dalam rangka untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan sekaligus meredam inflasi pada level yang ditargetkan, yakni 3,5 % agar pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4 % pada 2018 tetap bisa diwujudkan.

Seiring dengan upaya untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kepri pada kisaran 5 persen, maka ada 4 (empat) hal yang harus dilakukan. Pertama, menjaga stabilitas inflasi dalam rangka untuk menjaga daya beli masyarakat tetap kuat.

Fakta empiris menunjukkan, bahwa perekonomian Kepri pada 2017 tidak terpuruk pada pertumbuhan negatif, tidak terlepas dari masih kuatnya daya beli masyarakat yang ditunjukkan dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang relatif tinggi, yaitu pada kisaran 6,50 persen.

Momentum Ramadan dan lebaran serta adanya THR dan Gaji ke 13, harus mampu menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi pada triwulan II/2018. Dalam hal ini, peran stabilitas harga (inflasi) menjadi sangat krusial.

Kedua, pemprov, pemkab/pemko, dan BP Batamserta sektor privat harus bersatu padu, bersinergi dan bergotong-royong untuk mendorong mesin utama penggerak ekonomi Kepri sebagaimana diuraikan sebelumnya, lebih kencang lagi pada triwulan-triwulan berikutnya.

Baca Juga :  Runtuhnya Opini Hoax Terhadap Hijab

Untuk itu, para stakeholders yang disebutkan, perlu segera duduk bareng untuk membedah pertumbuhant riwulan I/2018, mendiskusikan, dan merumuskan langkah-langkah kongkret program aksi untukmencapai target 5 persen. Dalam hal ini, ego sektoral dan ego regional harus disingkirkan jauh-jauh demi untuk kemaslahatan rakyat Kepri.

Katiga, perlu dibuat skenario pertumbuhan per triwulan dengan target capaian 5 persen dan kemudian dirinci menurut sektor kegiatan ekonomi yang dijadikan sebagai pedoman dalam mengawal pertumbuhan setiap triwulan.

Dengan skenario target ini, semua stakeholders (OPD) terkait harus fokus dalam merumuskan dan menggerakkan program-programnya agar target setiap triwulan yang telah ditetapkan dapat tercapai.

Keempat, perlu membentuk tim terpadu percepatanpertumbuhan ekonomi Kepri (T2P2EK) dalamr angka untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Kepri yang lebih kencang. Dalam hal ini masing-masing anggota T2P2EK bisa memainkan perannya sesuai wilayah kewenangannya dan merancang program-program aksi secara kongkret, fokus, terukur dan berkelanjutan.

Oleh karena itu, Pemprov perlu segera membentuk T2P2EK yang anggotanya meliputi stakeholders (OPD) Pemprov, Pemkab, Pemko, BP Batam, unsur forum pimpinan daerah, BPS Provinsi, dan Asosiasi2 terkait.

Tim ini sendiri langsung di bawah kendali Gubernur atau Wakil Gubernur agar koordinasinya bisae fektif. Tim ini akan melakukan rapat-rapat regular secara triwulanan untuk mengevaluasi capaian pertumbuhan sektoral pascarilis BPS Provinsi.

Dari hasil evaluasi itu dirumuskan langkah kongkret program-program aksi untuk triwulan berikutnya. Strategi pengawalan seperti belum ada yang melakukannya dan Pemprov Kepri boleh menjadi pelopor.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here