Memaknai Festival Syair Internasional 2018 di Tanjungpinang

0
218
Zulkifli Harto

Oleh: Zulkifli Harto
Warga Tanjungpiang

Syair bukanlah kata baru di telinga masyarakat. Terlalu sering orang mendengar kata syair. Sejak masih di sekolah dasar sudah mendengar kata syair yang mungkin bagi sebagian orang dianggap barang lama dan kuno serta tak menarik untuk dibicarakan. Sebagian lagi menganggap syair tak jauh beda dengan jenis sastra lama yang membosankan. Tetapi, tidak sedikit yang penasaran dengan arti kata dan makna syair. Mungkin ada juga yang tidak perduli dengan syair, baginya tidak ada arti dan makna hanya membuang waktu dan membosankan. Tidak sedikit pula yang tertarik dengan syair yang mengerti dan faham tentang syair yang tertulis dan yang berirama. Namun sebenarnya, syair sudah dikenal sejak lama sebelum syair tertuang dalam media tulisan yang menjadi tinggalan barang langka. Setiap daerah telah pula menabalkan syair dalam bentuk dendangan dengan beragam istilahnya seperti senandung, dodoi, mendendang, dan sebagainya.

Beragam pemikiran orang tentang syair, satu sisi masih awam dengan apa itu sebenarnya syair. Tidak jarang juga orang mengatakan bahwa syair identik dengan puisi. Ya, syair memang puisi, tapi dia adalah jenis puisi lama Melayu yang melekat dalam jati diri Melayu. Sebenarnya jauh lagi sebelum syair dituangkan dalam media tulis baca, syair sudah dikenal dalam masyarakat melayu. Tapi, sebenarnya syair bukanlah hanya dikenal oleh orang Melayu syair terdapat hampir di setiap suku bangsa di Indonesia dengan beragam ciri khas kedaerahannya masing-masing. Seperti di Jawa syair jenis ini dikenal dengan sebutan macapat yang merupakan tembang atau jenis puisi tradisional Jawa. di Sunda dikenal dengan sebutan pupuh yang merupakan lagu yang terikat oleh banyaknya suku kata dalam satu bait dan permainan irama atau nada. Kalau bagi orang minang lebih beragam lagi, seperti dendang, basi jobang, dan lagu-lagu randai semua dapat dikatakan syair bagi suku Minangkabau yang berada di Sumbar. Masih banyak lagi suku lainnya yang memiliki syair yang tak dapat disebutkan satu persatu. Semua kaya akan nilai tradisi dan pesan moral dalam setiap baris kalimat yang disampaikan dalam lirik syairnya. Setiap syair yang disampaikan mengandung filosofi yang sarat akan nilai tradisi budaya bangsa.

Pada zaman dahulu lagi, sebelum syair dituangkan dalam media tulisan, syair dengan beragam sebutan sesuai dengan daerah persebaran Melayu yang ada di berbagai wilayah telah pun dikenal oleh masyarakatnya. Seorang ibu akan selalu bersenandung, berdendang, atau dodoi dengan irama syair dengan lirik yang dikarang sendiri mengalir sesuai dengan hajat hatinya selalu dilantunkan mengantarkan tidur sang anak yang dibuai di dalam ayunan atau saat menggendong bayinya. Hal itu, karena pada masa lalu seni tradisilah yang mengawal hidupnya. Tak ada irama musik seperti masa kini dengan beragam varian dan dengan lirik yang tak lagi mencerminkan budi pekerti budaya bangsa tetapi sesuai dengan kehendak pencipta sesuai trendi pada zaman ini. Masa orang tua-tua kita dahulu bersyair adalah hidupnya, yang mengiringi berbagai suasana hatinya sedih, gembira dan pelipur lara serta terkadang terselip doa dalam lirik syairnya.

Setelah zaman tulis baca dikenal secara luas syair dituangkan dalam berbagai cerita, biasanya syair mengandung unsur cerita. Setiap syair terdiri dari atas empat baris yang berakhir dengan bunyi yang sama seperti aa aa atau bb bb. Syair selalu melukiskan hal-hal yang panjang baik tentang suatu cerita sejarah, nasihat, agama, cinta, dan lain-lain. Hal itu menjadi semacam persyaratan untuk menyebut sebuah karya berbentuk syair. Oleh sebab tiu, syair tidaklah sama dengan pantun yang baris pertama dan kedua adalah sampiran karena dalam syair setiap bait dalam empat barisnya adalah isi dan makna. Itu hukumnya secara tertulis, sedangkan cara membaca dan membawakannya tidaklah sembarangan atau hanya berdasarkan satu irama saja. Mungkin bagi daerah tertentu hanya mengenal satu jenis irama yang diturunkan dari generasi ke generasi. Padahal syair memiliki banyak sekali jenis irama seperti irama; Selendang Delima, Siti Zubaidah, Rawi, Rakis, Siti Zawiyah, Perang, Dodoi, dan sebagainya. Menurut Roslan Madun (Malaysia) seorang penggiat dan pengumpul irama syair dari berbagai daerah dan negara, mengatakan bahwa irama dalam syair Melayu sangatlah banyak tidak kurang dari 60 jenis irama syair terdapat dalam Melayu Raya yang tersebar diberbagai daerah dan negara. Tidak banyak yang faham tentang hal itu, sebab tidak ada pelajaran khusus yang membentangkan teori dan defenisi tentang irama syair secara khusus.

Anggapan bahwa syair adalah hal yang tak menarik dan kuno merupakan benih-benih virus yang merasuki pemikiran tanpa disadari yang perlahan lepas dari jati diri budaya bangsanya, lambat laun tak lagi memiliki rasa dan keindahan yang sejak lama tertanam dalam jiwa anak bangsa. Sesungguhnya dalam memaknai sebuah karya tradisi budaya bangsa yang sarat akan nilai luhur dan pesan moral memerlukan rasa yang sudah tertanam dalam jiwa setiap anak bangsa. bukan suatu hal yang mudah mengembalikan jiwa yang tak memiliki lagi rasa, karena jiwa adalah perasaan hakiki yang terdalam bagi setiap manusia. Menumbuhkan kembali jiwa sulit dilakukan pada tandusnya perasaan yang sudah tidak lagi tertanam perasaan yang memiliki rasa karena semua akan kembali kepada diri manusianya.

Orang yang tak perduli dengan syair dianggapnya kuno dan tak menarik untuk dikaji atau dinikmati baginya syair barang lama dan membosankan. Hal itu karena pemikirannya sudah tercemar, baginya syair hanya sebatas kata, padahal tidak demikian adanya. Oleh sebab itu, tidak berlebihan rasanya jika Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau, sebagai lembaga yang salah satu tugasnya adalah sebagai pelestarian budaya bangsa merasa terpanggil untuk mencoba mengangkat kembali khazanah budaya bangsa yang terdapat pada masyarakat Melayu dan diperkenalkan kepada generasi muda agar mereka faham dan mengerti akan kekayaan budayanya. Sehingga tidak tanggung-tanggung, niat itu diujudkan dalam suatu perhelatan Fetival Syair Internasional dengan merangkul berbagai daerah persebaran Melayu seperti Sumatera Utara, Riau, Jambi dan Kalimantan Barat serta dari negara-negara rumpun Melayu seperti; Malaysia, Singapura, Brunai dan Thailand masing-masing dengan utusannya dikumpulkan untuk saling berbagi dan saling mengenalkan tentang khasanah budaya yang terdapat di dalam syair Melayu yang dimiliki oleh masing-masing daerah dan negara tersebut.

Tidak tanggung-tanggung, Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau mengemas perhelatan fetival syair itu dalam beragam kegiatan untuk menjalin tali silaturahmi para penggiat syair Melayu tersebut. Diantaranya dengan seminar yang membahas khusus tentang khasanah syair masing-masing daerah dan negara yang hadir, dan dilanjutkan dengan bengkel pembelajaran bagaimana mendendangkan syair bagi siswa dan para guru dengan harapan kegiatan ini tidak hanya berakhir di festival ini tetapi agar para peserta pandai mendendangkan syair dan diharapkan dapat menularkan kepandaianya kepada peserta didiknya tentang syair Melayu. Harapannya agar generasi muda khususnya para siswa sejak dini tertanam semangat Melayu dalam jiwanya. Sebagai suku Melayu setidaknya tau tentang kekayaan budayanya. Jika sejak dini ditanamkan syair pada dirinya maka jiwa dan semangat yang terdapat di dalam syair akan melekat pada dirinya.

Disamping melakukan kegiatan dalam bentuk seminar dan bengkel, kegiatan festival syair juga melaksanakan sayembara syair dengan menampilkan pendendang syair terbaik yang diikuti oleh peserta dari berbagai daerah dan negara yang pertama kali dilaksanakan di Tanjungpinang. Peserta yang mengikuti sayembara ini adalah hasil seleksi yang ketat melalui berbagai tahapan yang telah dilakukan jauh hari sebelumnya. Tujuan akhir dari sayembara syair yang dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau bukanlah tentang siapa yang akan menjadi juara tetapi bagaimana mengangkat potensi khazanah budaya dalam bentuk syair Melayu yang ditaja dalam kemasan pertunjukan tidak kalah dengan ajang festival lainnya pada tingkat yang lebih tinggi tidak hanya antar daerah dalam negeri tetapi dapat muncul dalam ajang festival internasional yang dilaksanakan pertama kali di Tanjungpinang ini.

Puncak acara Festival Syair Internasional di Tanjungpinang menampilkan persembahan konser syair dengan mengangkat syair kisah Sultan Mahmud Muzaffar Syah yang dikemas dengan apik oleh sutradara Yusrianto dari RRI Batam yang telah teruji pengalamannya dalam berbagai pementasan di berbagai daerah. Pementasan konser syair dengan pemain dari berbagai latar keahlian dipadupadankan dalam satu panggung cerita dengan para pelakon, pemusik dan pendendang syair dari berbagai daerah dan negara yang bertemu hanya dalam sekejab dapat menyuguhkan suatu persembahan konser syair yang bermutu, rasanya bukanlah hal yang mudah untuk diujudkan. Para pelakon dari Sanggar Sri Mahkota Lingga, Pemusik dari Sanggar Warisan Pulau Penyengat dan para pendendang syair dari berbagai daerah dan negara yang sebelumnya tak saling kenal dan tak saling tau tentang skenario naskah yang akan dibawakan dapat berlatih dalam hitungan jam disebabkan padatnya acara festival syair sehingga merisaukan penaja acara saat berlangsungnya latihan yang hanya sebentar saja tetapi sungguh diluar dugaan mereka para peserta dapat tampil prima dan mengesankan, sungguh sesuatu yang luar biasa yang tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah dengan tampilnya penyair dadakan penyair junjungan Bapak H. Syahrul walikota Tanjungpinang membawakan syair pembuka kalam dalam kisah syair Sultan Mahmud Muzaffar Syah yang tampil apik walau tidak pernah latihan sekalipun dengan para pemusik dari Sanggar Warisan Pulau Penyengat. Sungguh luar biasa. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here