Memaknai Gurindam 12 dalam Membangun Budaya Kerja

0
412
Haryando Anil

Oleh: Haryando Anil
ASN Kanwil djpb Provinsi Kepri

Kepulauan Riau, merupakan salah satu Provinsi termuda di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menjadi Provinsi ke-32 dari 34 Provinsi yang ada saat ini. Provinsi yang berkarakteristik kepulauan dengan wilayah 96% lautan, dan hanya 4% daratan. Kepulauan Riau dahulunya diperintah oleh Kesultanan Lingga (1824-1911). Kesultanan ini memiliki peran penting dalam perkembangan bahasa Melayu hingga menjadi bentuknya sekarang sebagai bahasa Indonesia.

Pada masa kesultanan ini bahasa Melayu menjadi bahasa standar yang sejajar dengan bahasa-bahasa besar lain di dunia, yang kaya dengan susastra dan memiliki kamus ekabahasa.

Tokoh besar di belakang perkembangan pesat bahasa Melayu ini adalah Raja Ali Haji. Beliau terkenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa yaitu buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu yang distandarkan inilah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia (28 Oktober 1928) ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia. Atas jasanya inilah pada tanggal 5 November 2004, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Beliau sebagai Pahlawan Nasional.

Salah satu mahakarya Raja Ali Haji adalah Gurindam Dua Belas. Merupakan puisi/syair Melayu kuno yang berisikan nasihat dan petunjuk menuju hidup. Terdiri dari 12 pasal yang setiap pasalnya terdiri dari rangkapan baris yang memiliki makna yang lengkap dan saling berkesinambungan.

Di setiap pasal terdiri dari baris awal dan baris akhir dengan karakter yang tetap. Baris awal atau disebut sebagai “baris syarat” menyatakan satu pikiran atau peristiwa, dan baris akhir atau disebut sebagai “baris jawab” merupakan keterangan atau penjelasan apa yang telah dinyatakan oleh baris awal. Tulisan ini menguraikan ketertarikan penulis untuk memaknai Gurindam 12 dalam membangun budaya kerja yang sehari-harinya sebagai ASN pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Kepulauan Riau.

Pasal Pertama
Barang siapa tiada memegang agama
Sekali-kali tidak boleh dibilang nama
Barang siapa mengenal yang empat
Maka itulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah
Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan
Tuhan yang bari
Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya
Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia di dunia mudarat

Dalam pasal ini penulis memaknai bahwa manusia/ASN harus bertakwa kepada Allah SWT. Berpedoman syariat agama maka niscaya keselamatan dunia dan akhirat akan diperoleh. Begitupula bila negara ini di jalankan oleh ASN yang bertakwa kepada Allah SWT, tentunya negara akan maju, makmur dan sentosa.

Pasal kedua
Barang siapa mengenal yang tersebut
Tahulah ia makna takut
Barang siapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang
Barang siapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasa
Barang siapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat
Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah menyempurnakan janji

Dalam pasal ini, jelas menggambarkan bahwa ketakwaan kepada Allah SWT tidaklah hanya perkataan dimulut saja. Melainkan dibuktikan dengan melaksanakan syariat dan tuntunan agama. Begitupulalah ASN yang bersumpah setia kepada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, tidak hanya berucap sumpah namun dicerminkan dengan sikap dan prilaku.

Pasal Ketiga
Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita
Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiadalah damping
Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya faedah
Bersungguh-sungguh engkau
memelihara tangan
Daripada segala berat dan ringan
Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi’il yang tidak senonoh
Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang yang
hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan yang membawa rugi

Pasal ketiga ini, penulis memaknai bahwa janganlah melakukan sesuatu yang sia-sia tidak ada manfaatnya. Hendaknya ASN produktif dalam berkerja tidak menghadis-habiskan waktu untuk melakukan sesuatu yang tidak ada faedahnya.

Pasal Keempat
Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota
tubuh pun rubuh
Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya
beberapa anak panah
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang yang tergelincir
Pekerjaan marah jangan di bela
Nanti hilang akal di kepala
Jika sedikit pun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekong
Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka
Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah
Barang siapa yang sudah besar
Jangan kelakuannya membuat kasar
Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor
Di mana tau salah diri
Jika tidak orang lain yang berperi
Pekerjaan takabur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih

Dalam pasal 4, kontrol diri pada ASN sangatlah penting dalam bekerja dengan sesama rekan kerja dan kepada pimpinan. Bersikap saling menghormati dan menghargai antara satu sama lain.

Pasal kelima
Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa
Jika hendak mengenal orang
yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia
Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia
Jika hendak mengenal orang
yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu
Jika hendak mengenal orang
yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal
Jika hendak mengenal orang
yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur
dengan orang ramai

Pasal ke 5 ini, penulis memaknai pentingnya ASN dalam menjaga tabiatnya karena seseorang akan dapat dinilai dari tingkal dan pola lakunya. ASN merupakan abdi Negara yang melayani masyarakat, penilaian baik/buruknya pelayanan Negara oleh masyarakat sangat bergantung terhadap tingkah laku ASN tsb.

Pasal Keenam
Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat
Carilah olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru
Cahari olehmu akan isteri
Yang boleh menyerahkan diri
Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan
Cahari olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi

Demikian pula pada pasal ke 6, pentingnya ASN dalam memilih lingkungan pergaulan sehari-hari. Pilihlah lingkungan pergaulan yang dapat memberikan manfaat menuju ke arah kebaikan dan meninggalkan lingkungan pergaulan yang akan menjerat diri ke arah keburukan.

Pasal Ketujuh
Apabila banyak berkata-kata
Di situlah jalan masuk dusta
Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itulah tanda hampirkan duka
Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat
Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapanya letih
Apabila banyak mencak orang
Itulah tanda dirinya kurang
Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sahajalah umur
Apabila mendengar akan kabar
Menerimanya itu hendaklah sabar
Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu
hendaklah cemburuan
Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut
Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar
Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat onar

Pasal ke 7, penulis memaknai pentingnya profesionalisme dalam berkerja. ASN dituntut untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik dan benar. Tidak membeda-bedakan pelanggan yang dilayani.

Pasal Kedelapan
Barang siapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya
Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya
Lidah suka membenarkan dirinya
Daripada yang lain dapat kesalahannya
Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar daripada orang datangnya kabar
Orang yang suka menampakkan jasa
Setengah daripadanya
syirik mengaku kuasa
Kejahatan diri disembunyikan
Kebajikan diri diamkan
Ke’aiban orang jangan dibuka
Ke’aiban diri hendaklah sangka

Pasal ke 8 memberikan makna untuk bersikap jujur dan tidak berprasangka buruk kepada orang lain, berkerja dengan ikhlas, dan selalu mengintropeksi diri pribadi. Dalam bekerja kita juga perlu bersikap waspada dan menyikapi segala permasalahan secara bijak.

Pasal Kesembilan
Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia yaitulah syaitan
Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya penggawa
Kepada segala hamba-hamba raja
Di situlah syaitan tempatnya manja
Kebanyakan orang yang muda-muda
Di situlah syaitan tempat bergoda
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
Di situlah syaitan punya jamuan
Adapun orang tua yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru

Pasal ke 9, penulis memaknai pentingnya batasan pergaulan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, demikian pula di tempat kerja. Perlu adanya batasan jelas antara kepentingan pekerjaan yang tidak boleh dikaitkan dengan kepentingan pribadi. Peningkatan iman dan taqwa pada masing-masing individu sangat diperlukan guna menciptakan iklim kerja yang sehat di tempat kerja.

Pasal Kesepuluh
Dengan bapak jangan durhaka
Supaya Allah tidak murka
Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat
Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai
Dengan istri dan gundik janganlah alpa
Supaya kemaluan jangan menerpa
Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil

Pada pasal ke 10 ini, penulis memaknai bahwa dalam ASN hendaknya memberlakukan rekan kerja sesuai porsinya yaitu menghormati atasan, menghargai rekan sejawat dan membimbing dan mengayomi bawahan.

Pasal Kesebelas
Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa
Hendak jadi kepala
Buang perangai yang cela
Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat
Hendak marah
Dahulukan hujjah
Hendak dimalui
Jangan memalui
Hendak ramai
Murahkan perangai

Pasal ke 11, penulis memaknai dalam bekerja kita harus memberikan manfaat berupa sumbangsih yang terbaik untuk negara, amanah dengan tanggungjawab yang diberikan, dan mendahului kepentingan negara daripada kepentingan pribadi.

Pasal Kedua Belas
Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri
Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja
Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat
Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu
Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai
Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti
Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta

Pasal ke 12, dapat dimaknai pentingnya seorang pemimpin yang memiliki akhlak yang baik, mampu mengayomi, mampu memberikan contoh yang baik bagi bawahannya, bersikap adil dan bijaksana sehingga tercipta iklim kerja yang nyaman.

Demikian makna dari Gurindam 12 yang tersirat yang dapat penulis refleksikan dalam kehidupan sebagai ASN. Tentunya makna ini merupakan pendapat pribadi penulis yang jauh dari sempurna. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here