Memaknai Inti dari Pendidikan

0
698

Oleh: Dea Oktafia
Mahasiswa, Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH

Pendidikan sejatinya mendidik anak bangsa untuk memiliki karakter yang terpuji dan membanggakan. Proses pendidikan itu bukan sekedar duduk di bangku sekolah dan menghafalkan sejarah serta berbagai teks yang membebani saja, tetapi Pendidikan lah yang menentukan dan menuntun masa depan dan arah hidup seseorang.

Walaupun tidak semua orang berpendapat seperti itu, namun pendidikan tetaplah menjadi kebutuhan pokok seseorang. Bakat dan keahlian seseorang akan terbentuk dan terasah melalui pendidikan. Pendidikan juga umumnya dijadikan tolak ukur kualitas setiap orang. Namun, proses pendidikan itu sendiri bukan sekedar duduk di bangku sekolah dan menghafal semua teks pelajaran yang diberikan. Melainkan prosesnyalah yang menjadi kunci akan pendewasaan anak didik sehingga kematangan diri akan dirasakan sedini mungkin. Karakter anak didik yang menghargai perbedaan, hormat kepada kebenaran dan keteladanan, berempati dengan segala kesengsaraan dan kesusahan serta optimistis melihat masa depan adalah sesuatu yang dirindukan dari target mendidik dengan segala prosesnya.

Ujian Sekolah (US) sebagai tolok ukur kejujuran bangsa. Guru yang sudah berpeluh keringat agar anak didik siap mengerjakan soal ujian dengan penuh kejujuran, bisa saja sirna idealisme dan dedikasinya,. Berbagai upaya akan ditempuh demi target sekolah itu sendiri. Akhirnya, tak jarang kecurangan dilakukan. Anak diberikan kunci jawaban, diajarkan ketidakjujuran, menganggap bahwa curang itu boleh, tidak jujur itu biasa, dan tidak takut berbuat dosa.

Bulan ini (Maret-April), akan dilaksanakan US dan UN khusunya untuk pendidikan tingkat atas (SMA). Sering kita melihat di TV berbagai daerah banyak dijumpai aksi-aksi yang justru membuat anak didik tegang dan merasa tidak nyaman serta menganggap bahwa US dan UN adalah satu-satunya kegiatan yang menentukan masa depan. Adanya proses sungkeman, event-event lain seolah menghipnotis siswa agar selalu semangat latihan menjawab soal dengan sistem drill yang melelahkan, seakan menjadi syarat anak didik sebelum ujian. Padahal tidak seperti itu.

Sewajarnya ujian bukan saja hanya menghasilkan daftar nilai-nilai sempurna yang akan memuaskan guru dan pelaku pendidikan, sementara anak didiknya kehilangan keberanian, kehilangan kemandirian, kehilangan proses menikmati masa bermain, dan seolah-olah nilai yang sempurna adalah puncak dari segala proses pendidikan. Sejatinya, keseimbangan nilai dan keberanian berpikir bebas bertanggung jawab menjadi tujuan dari proses pendidikan karakter anak bangsa yang memang subyektif dinilai tapi bisa dirasakan.

Sesungguhnya hasil dari US adalah pembuktian dari segala proses pendidikan kejujuran suatu bangsa. Bangsa yang jujur akan menghasilkan sosok masyarakat yang jujur. Masyarakat yang jujur membebaskan hidupnya dari perasaan bersalah dan berdosa sehingga bangsa lebih merdeka, berwibawa, dan jauh dari perilaku koruptif dalam segala lini

Ketika proses belajar di kelas, peserta didik diajak guru untuk selalu memiliki nyali dan berani mengatakan tidak bisa dan bertanya, ketika mereka memang tidak bisa. Keberanian siswa untuk bertanya dan berani kritis akan suatu masalah pastilah tidak mungkin instan. Seorang guru bisa jadi stres bukan kepalang ketika meminta siswanya untuk sekadar bertanya saja tidak mampu, apalagi menjawab pertanyaan. Terkadang pembawaan diri atau karakter diam adalah cara terbaik agar tidak kelihatan mampu dan kurang mampu menjadi problem tersendiri. Guru mempunyai cara bagaimana membangkitkan motivasi siswa untuk menjadi percaya diri. Namun bukan hal mudah tanpa didukung oleh orangtua. Orangtua yang bertanggung jawab adalah yang mengawal perkembangan anaknya dalam setiap perubahan diri. Bukan sekadar merasa sudah membayar kepada guru atau sekolah, kemudian pasrah dan apatis.

Kemajuan karakter anak didik sangat didambakan, di antaranya punya sifat jujur, pemberani, mandiri, dan berwawasan luas, mustahil terwujud hanya mengandalkan pertemuan antara anak didik dan guru di sekolah yang singkat. Peran dan karakter orangtua, yang dimulai dengan bagaimana mendapatkan rezeki yang halal, demokratis, berakhlak mulia, jauh dari perilaku koruptif, mampu memberikan motivasi dan keteladanan dalam keluarga dan lingkungan. Serta peduli kepada bangsa dan negara menjadi kunci bagaimana mewujudkan generasi yang menjadi idaman dan berperilaku berkemajuan. Jadi selain guru dalam perannya yang terbatas, orangtua dan masyarakat pun sangat berperan.

Ketika anak didik sedang menempuh ujian, mereka harus mendapatkan motivasi bahwa ujian bukanlah momok penentu masa depan utama. Kejujuran anak menjadi alat ukur menarik untuk mewujudkan karakternya dan masa depannya. Prestasi dan menjadi yang terbaik adalah penting Orangtua tetap boleh bermimpi anaknya menjadi yang terbaik, akan tetapi bagaimana menjadikan proses yang jujur ketika menjawab, berpikir sistematis dalam memproses sebuah jawaban, berani bertanggung jawab atas jawaban dan pilihannya, selalu optimistis akan sikapnya adalah sebuah proses istimewa dalam pencarian jati diri. Hasil ujian penting, tetapi karakter dan kepribadian humanis jauh lebih diperlukan untuk membangun masa depan bangsa.

Oleh karena itu, ketika ujian tiba, peran orangtua, guru, pimpinan sekolah, dan dinas pendidikan harus bersatu padu bagaimana menjadikan momentum ujian bukan saja untuk mengetahui nilai pencapaian sebuah proses belajar yang formal dan normatif, tetapi bagaimana membentuk pribadi yang jujur dan berkarakter lebih diutamakan. Ujian Sekolah (US) bisa saja digunakan sebagai momen mengukur keberhasilan proses belajar mengajar sebagaimana tertuang dalam kurikulum, tapi jangan menjadikan anak didik laksana robot yang harus menguasai semua ini, tanpa melihat nilai-nilai kemanusiaan yang melekat padanya. Pada dasarnya US harus menjadi media intropeksi dan mawas diri, ke mana arah pendidikan karakter dan kepribadian bangsa diraih. Prestasi memang diutamakan, tapi kejujuranlah yang lebih penting dari segalanya. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here