Memaknai Pertumbuhan Ekonomi Kepri 2017 dan Resolusi 2018

0
173
Panusunan Siregar

Oleh: Panusunan Siregar
Bekerja di Badan Pusat Statistik Provinsi Kepri

Besaran ekonomi suatu negara/wilayah ditentukan oleh seberapa besar nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh kegiatan ekonomi dari sisi produksi, atau besarnya nilai penggunaan barang dan jasa yang dihasilkan melalui proses produksi di negara/wilayah itu sendiri. Besaran nilai tambah (added value) itudikenal dengan sebutan produk domestik bruto (PDB) untuk level nasional dan produk domestik regional bruto (PDRB) untuk level regional (provinsi, kabupaten, dan kota). PDB/PDRB dapat dihitung berdasarkan harga berlaku (current price) dan harga konstan (constant price) dimana keduanya memberikan makna yang berbeda.

PDB/PDRB atas dasar harga berlaku bila dibagi dengan jumlah penduduk wilayah pengukuran, menghasilkan angka PDB/PDRB per kapita yang dapat dimaknai sebagai ukuran kemakmuran wilayah tersebut dan bukan ukuran kesejahteraan sebagaimana sering disalahmaknai. Artinya, bilamana PDB/PDRB per kapita wilayah A lebih besar dibandingkan wilayah B, itu artinya wilayah A lebih makmur dibandingkan dengan wilayah B, dan tidak dapat dikatakan bahwa masyarakat wilayah A lebih sejahtera dari wilayah B. Selanjutnya, bilamana nilai PDB/PDRB dikeluarkan pengaruh/faktor inflasinya, maka dihasilkanlah PDB/PDRB atas dasar konstan dan inilah yang dijadikan sebagai dasar hitung pertumbuhan ekonomi (PE) suatu negara atau wilayah.

Pertumbuhan Ekonomi (PE) yang merupakan mesin penggerak utama eknomi suatu negara/wilayah, hendaknyalah pertumbuhan yang inklusif (inclusive growth). Artinya, pertmbuhan ekonomi yang dapat membuka peluang kerja baru untuk dapat menyerap para penganggur dan pada gilirannya mengurangi jumlah penduduk miskin.

Ekonomi Kepri Mulai Bergairah
Pertumbuhan Ekonomi (PE) Kepri terkini telah dirilis oleh BPS Provinsi Kepri melalui Berita Resmi Statistik (BRS)-nya baru-baru ini. Berdasarkan hasil rilis tersebut terungkapbahwa PE Kepri tahun 2017 ditutup pada angka 2,01 persen, atau60,36 persen di bawah angka nasional yang besarnya 5,07 persen. Performa tersebut yang walaupun masih jauh dari angka yang diharapkan, tetapi itu relatif sudah baik mengingat pertumbuhan kumulatif selama 3 tirwulan 2017 hanya mencapai 1,82 persen. Capaian itu, tidak terlepas dari mulai pulihnya perekonomian Kepri pada triwulan IV yang telah mampu tumbuh 2,57 persen year on year (y o y) dan merupakan capaian tertinggi dalam 4 triwulan 2017. Itu artinya, perekonomian Kepri yang notabene 69 persen investasi terpusat di Batam, sudah mulai bergairah.

Kegairahan perekonomian Kepri itu,erat kaitannya dengan kegiatan ekonomi sektor industri pengolahan yang sudah mulai pulih (recovery) pada triwulan 4 yangmana pada 3 (tiga) triwulan sebelumnya mengalami jatuh “sakit” yang ditunjukkan dengan pertumbuhan negatif atau mengalami kontraksi. Selama triwulan 4, industri manufakur yang merupakan mesin penggerak utama (prime mover) ekonomi Kepri dengan share sebesar hampir 38 persen, telah mamputumbuh sebesar 3,99 persen (y o y). Dengan demikian, selama 2017 sektor manufaktur telah tumbuh positif, yaitu sebesar 1,56 persen yang tentunya performa ini masih jauh dari angka yang diharapkan.

Bila ditelisik lebih jauh, tampak bahwa 3 sub-kategori/kelompok industri utama yang sudah mulai “sehat” pada triwulan IV adalah industri barang dari logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik dengan share 19,37 % telah tumbuh 5,87 % dimana pada triwulan-triwulan sebelumnya mengalami “demam tinggi” yang ditunjukkan dengan pertumbuhan negatif alias mengalami kontraksi. Kemudian disusul oleh industri logam dasar dengan share 5,26 % telah tumbuh 3,28 %. Demikian juga industri mesin dan perlengkapannya yang kontribusinya 2,24 % telah tumbuh positif sebesar 11,07 persen. Namun demikian, ada 1 kelompok industri penggerak utama masih mengalami kontraksi, yaitu industri alat angkutan (perusahaan kapal) dengan share 2,64 % mengalami penurunan sebesar 10,30 persen. Tentunya, harus segera dicari obat penyembuhannya bilamana pada 2018 ini industri alat angkkutan dapat menjadi salah satu andalan/kekuatan sektor industri Kepri.

Hal lain yang bisa dimaknai dari fenomena PE 2017 bila dilihat dari sisi penggunaan atau pengeluaran adalah masih konsitennya dukungan konsumsi rumah tangga yang share-nya 40,27 % terhadap total PDRB mampu tumbuh sebesar 6,45 persen selama 2017. Hal ini tidak terlepas dari terkendalinya level harga barang dan jasa yang ditunjukkan dengan tingkat inflasi yang relatif stabil, yaitu 4,02 persen. Dengan demikian, daya beli masyarakat masih relatif terjaga sebagaimana ditunjukkan indeks tendensi konsumen (ITK) yang berada di atas angka 100, yaitu sebesar 104,20 per triwulan selama 2017. Oleh karena itu, menjaga stabilitas inflasi dan rendah harus menjadi PR serius bagi tim pengendali inflasi daerah(TPID) baik pada level provinsi maupun kabupaten/kota, terutama Batam dan Tanjungpinang.

Resolusi 2018
Berdasarkan fakta empiris, perekonomian Kepri selama 2017 adalah terendah sepanjang sejarah Kepri. Namun demikian, bukan berarti Kepri tidak bisa bangkit untuk merebut kembali kejayaan pertumbuhan tahun 2012 yang angkanya mencapai 7,63 persen dan ini harus menjadi resolusi yang dipatrikan dalam strategi pembangunan Kepri tahun 2018 dan tahun-tahun ke depan.

Ada beberapa modal strategis yang bisa dimanfaatkan dan diberdayakan untuk membangun kembali perekonomian Kepri ke arah yang lebih, kuat dan berkelanjutan. Pertama, keguyuban, kegotongroyongan, dan keharmonisan hidup masyarakat Kepri yang relatif cukup baik dengan refleksi indeks kebahagian (happiness index) tertinggi di wilayah Sumatera dan ke-7 se-Indonesia harus menjadi modal strategis untuk memikat para calon investor. Dengan jaminan keamnan dan keramahan masyarakat itu harus benar-benar dijadikan sebagai salah satu aspek strategis dalam “mendagangkan atau mempromosikan” kesempatan berinvestasi kepada para pemilik modal yang ingin berusaha di wilayah Kepri.

Kedua, potensi objek-objek wisata Kepri yang begitu luar biasa keindahannya, harus benar-benar didongkrak sebagai kekuatan ekonomi baru di luar sektor industri pengolahan. Untuk itu, infrastruktur dan fasilitas objek-objek wisata alam Kepri yang notabene jauh di atas keindahan objek wisata alam Bali, harus dibenahi. Prasarana transportasi yang murah dan nyaman dalam rangka untuk mendekatkan keterjangkauan destinasi wisata, harus menjadi perhatian serius dan urgent. Dengan demikian, Kepri akan mampu memikat para pelancong/wisatawan mancanegara (wisman) dan domestik/nusantara (wisnus) untuk datang berbondong-bondong ke destinasi wisata Kepri.

Ketiga, ada penetapan target yang jelas dan fokus terhadap pasar wisman yang notabene didominasi oleh 7 negara-negara terdekat ke Kepri, seperti Singapura (share 51 %), Malaysia (share 12 %), Tiongkok (share 8 %), India, Korea Selatan, Filippina, dan Jepang dengan total share sebesar 12 persen. Selain itu, para penyedia jasa akomodasi harus diajak turut serta untuk mendongkrak sektor pariwisata melalui program discount rate pada akhir pekan. Bila hal ini bisa dilakukan dan dilengkapi dengan objek wisata kuliner, shopping serta sarana transportasi yang mendukung, maka bisa dipastikan jumlah wisatawan manca negara dan juga domestik akan datang berbondong-bondong untuk menikmati keindahan alam Kepri yang sungguh mempesona dan menakjubkan.

Keempat, potensi sektor perikanan yang belum terperhatikan selama ini harus dijadikan sebagai salah satu motor penggerak ekonomi Kepri. Dengan luas wilayah lautan yang mencakup 95 % dari total wilayah Kepri dan ditambah dengan kandungan ikan/udang yang melimpah ruah di perairan lautnya, harus menjadi potensi handal dalam memasok devisa melalui ekspor. Apalagi Presiden RI – Bapak Joko Widodo telah mencanangkan tahun 2018 sebagai tahun ekspor, sudah sepatutnya Kepri bergegas untuk menyikapinya.

Bila dicermati dari tahun ke tahun, ekspor ikan/udang Kaepri kelihatannya belum dijadikan sebagai salah satu andalan dalam meraup dollar ke bumi Indonesia. Hal ini sangat jelas tampak dari performa ekspor Kepri yang hanya berfluktuasi pada angka 11 s/d 22 juta USD selama periode 2011 s/d 2017 dan hanya tahun 2015 pernah mencapai angka 69 juta USD. Dengan capaian seperti itu, kontribusi ekspor ikan/udang terhadap total ekspor Kepri masih sangat dan sangat kecil, yaitu 0,2 persen. Oleh karena itu, sudah saatnya Kepri terbangun dan bergegas untuk mendongkrak potensi ekspor ikan/udang dan menjadikannya sebagai salah satu kekuatan ekonomi baru Kepri. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here