Memaksimalkan Pengelolaan Sampah TPS 3R di Penyengat

0
281

Oleh: Sulisa,S.AP
Kabid. Ekonomi Kreatif Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Tanjungpinang

Pulau Penyengat merupakan pulau bersejarah yang menajdi objek wisata favorit yang wilayahnya ada di depan Kota Tanjungpinang. Wilayahnya masuk ke Kecamatan Tanjungpinang Kota. Karena lokasinya dikelilingi oleh laut dan terpisah dari pulau lainnya, sehingga menjadi tempat yang potensi besar mendapati kiriman sampah atau menjadi penghasil sampah.

Perubahan musim angin yang membawa sampah dari pulau lain ke pulau Penyengat, keterbatasan lahan yang ada dalam pengelolaan sampah di pulau Penyengat, kemampuan petugas dalam menangani pengelolaan sampah, keterbatasan akses pengangkutan laut dan biaya pengangkutan yang tinggi, serta budaya membuang sampah ke pantai juga terjadi di lingkungan masyarakat, sehingga menjadi penting untuk dilakukan pengelolaan sampah.

Kondisi persampahan di pulau penyengat terbagi dalam dua penanganan, yaitu penanganan oleh petugas laut dan penanganan oleh petugas daratan. Berdasarkan laporan gotong royong petugas kebersihan seksi kebersihan kawasan pesisir bulan Januari-Maret 2018, berjumlah 3,5 kantong (0,2 m3 per kantong) per hari.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi lapangan, kondisi sampah yang dibawa oleh petugas ke lokasi TPS berjumlah 1 ton per hari, dengan ritme pengangkutan 2 kali sehari yang diangkut oleh pick up (kaisar) berkapasitas 1 kubik. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengelolaan sampah yang melibatkan peran masyarakat dengan cara memaksimalkan Tempat Pengolahan Sampah 3R, sehingga didapatkan pengelolaan sampah yang paling relevan untuk wilayah pesisir pulau Penyengat.

Dalam aspek teknik operasional penanganan sampah di pulau Penyengat hanya berlangsung pada tahap ketiga, yaitu pewadahan, pengumpulan dan pemindahan tanpa adanya proses pengangkutan dan pengolahan atau pembuangan sampah.

Kemudian proses pengumpulan dan pemindahan juga tidak terjadinya pemilahan sampah, sehingga kondisi sampah yang dipindahkan oleh petugas bercampur dalam satu wadah, sehingga sampah sering dalam kondisi basah ketika dipindahkan. Adapun pemindahan sampah menggunakan jasa pick up (kaisar) dengan ritme pengangkutan yang bertambah, dari 2 kaisar dengan sekali pengangkutan menjadi 2 kaisar dengan dua kali pengangkutan.

Pengangkutan sampah hanya dilakukan pada sampah yang berada di pesisir pantai untuk dibawa ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kota Tanjungpinang dengan menggunakan akses laut (boat) yang berjumlah 2 (dua) buah.

Namun, kondisi sampah di TPS tidak dilakukan proses pengangkutan dan pengolahan, sehingga sampah menumpuk pada satu lahan. Adapun pengolahan sampah yang dilakukan dari zaman ke zaman adalah dengan cara dibakar melalui inisiatif warga yang membawa sampah ke lahan yang berada di darat.

Sedangkan dalam aspek peran serta masyarakat masih dikatakan menengah, sehingga masyarakat belum dapat dilibatkan secara inisiatif sendiri, masih diperlukan arahan dan himbauan pihak RT/RW dalam kegiatan gotong royong atau kerja bakti. Belum adanya inisiatif penyediaan tong sampah di sumber-sumber sampah (rumah tangga) dengan sudah dalam kondisi terpilah antar jenis dan karakteristik sampah.

Adapun saran yang dapat diberikan terkait dalam pengelolaan sampah di wilayah pesisir kelurahan pulau penyengat adalah : diantaranya, Menyegerakan terbentuknya Badan Pengelola Sampah atau Kelompok Swadaya Masyarakat yang bertanggungjawab untuk mengelola sampah dengan pengawasan berkala yang dilakukan oleh petugas yang ditunjuk Dinas terkait. Selain itu, memaksimalkan pengelolaan TPS 3R dengan menerapkan konsep 3R Reduce, masyarakat membatasi jumlah sampah sebelum sampah dihasilkan, misalnya berbelanja dengan keranjang.

Reuse, menggunakan kembali material atau bahan agar tidak menjadi sampah, misalnya menggunakan kembali botol bekas untuk keperluan rumah tangga. Sedangkan Recycle, pendaurulangan material yang tidak berguna menjadi nilai guna dengan proses pengolahan dari bentuk semula, misalnya pemanfaatan botol bekas untuk lampu belajar. Penerapan konsep juga dijadikan solusi (problem solving) dalam pengelolaan sampah sehingga hanya residu yang ditangani oleh pemerintah. Solusi ini sebagai pertimbangan dengan biaya operasional yang murah dibandingkan pengangkutan akses laut, sudah adanya fasilitas gedung yang disediakan,sehingga sampah dapat terkelola dan tidak menumpuk dan menjadi bukit. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here