Memaksimalkan Penggunaan Vlog

0
237
Ririn Dwi Riana

Oleh : Ririn Dwi Riana
Mahasiswi Jurusan Tadris Bahasa Inggris, STAI Miftahul Ulum, Tanjungpinang

Video blog atau biasa dikenal dengan sebutan Vlog kini sedang menjamur di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda. Sarana ini cukup efektif dalam berpromosi. Penggunaanya bisa mengasah kreativitas dalam mewujudkan satu vlog yang baik. Vlog juga kini banyak diperlombakan oleh pihak swasta maupun lembaga negara dalam berpromosi atau menyosialisasikan program-program kerja dan lainnya.

Jika sebelumnya blog hanya berbentuk tulisan, kini blog banyak juga dikemas dalam bentuk video yang biasanya diunggah oleh vlogger (sebutan untuk para pembuat vlog) di Youtube.

Pada umumnya vlogger di Indonesia adalah generasi muda, namun kini seorang pejabat bahkan presiden pun mulai mengikuti tren ini sesuai dengan perkembangan zaman dan ikut membuat vlog. Pembuatan vlog terbilang mudah dan lebih dinamis dari konten yang berbasis teks mengundang ketertarikkan sendiri untuk anak muda. Setiap vlogger pasti menjaga kualitas kontennya dari menentukan isi video, proses perekaman hingga pengambilan gambar.

Semua itu diatur dengan kreatif oleh vlogger agar penonton tertarik untuk melihatnya. Konten dalam vlog biasanya berisi kegiatan sehari-hari. Namun kini, konten-konten vlogging sudah meluas, seperti membahas percintaan, tutorial, travelling, kuliner, otomotif, fashion dan lain-lain. Semua itu tentu dikemas secara menarik, menghibur dan mendidik. Kini jumlah vlogger di Indonesia semakin banyak. Tidak heran jika para vlogger berlomba-lomba untuk meraih tontonan terbanyak dengan membuat isi vlog yang menarik dan menuntut mereka untuk lebih kreatif.

Berbagai cara dilakukan untuk membuat video mereka semakin menarik. Awalnya, vlog hanya merupakan sarana mengekspresikan diri. Kini sarana ini menjadi lebih meluas dan banyak manfaatnya. Ada juga beberapa vlog isinya mempertontonkkan gaya hidup ke barat-baratan yang cenderung bebas yang tidak diterima oleh budaya timur kita. Selain itu masih ada juga yang malah memanfaatkan vlog dengan kegiatan negatif seperti mengunggah video berisikan kata-kata kasar atau menunjukkan tayangan yang bersinggungan dengan norma kesusilaan.

Vlog yang tadinya menarik kini malah banyak disalahgunakan. Bahkan beberapa diantara kontennya tidak bermanfaat. Ini bisa menimbulkan pandangan hanya ingin eksis karena mengikuti tren. Hal tersebut tentu akan berdampak pada pembentukan sikap penonton yang mayoritasnya adalah generasi muda. Mengatasnamakan “keren” dan beralasan “mengikuti trend”, vlogger seolah-olah menjadi kiblat bagi generasi Y dan Z. Kalau sudah begini, kita sebagai viewer juga harus pinter-pinter menyaring tontonan yang ada.

Tapi, tidak semua vlogger memberikan konten-konten yang mengkhawatirkan. Banyak juga yang menyajikan informasi atau sumber ide yang bermanfaat. Seperti memberikan informasi seputar destinasi tempat wisata di Indonesia yang belum pernah dikunjungi oleh wisatawan atau berisi tutorial make up yang dilakukan oleh beauty vlogger. Untuk yang hobi masak atau bahkan yang tidak bisa masak, bisa belajar memasak dengan mengikuti tuntunan yang diatahkan vlog yang memberikan pengetahuan cara masak-memasak. Karena beberapa orang ada yang lebih suka melihat tayangan memasak daripada membaca resep di buku atau internet.

Fenomena Vlog ini tidak luput dari perkembangan teknologi yang semakin canggih. Layaknya sekeping uang, setiap kejadian pasti memiliki dua sisi. Dua akibat yang ditimbulkan baik positif maupun negatif. Oleh sebab itu, jadilah pengguna teknologi yang bijak dan cerdas. Kita perlu menyaring informasi yang masuk. Jangan semua di telan mentah-mentah. Nah sekarang, mengkhawatirkan atau menginspirasi kembali lagi pada diri kita. Sudah Bijakkah kita dalam menggunakan teknologi? ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here