Membangun Kembali Paradigma Qur’ani di Bulan Suci

0
20081
Khairul Ikhsan

Oleh: Khairul Ikhsan
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara FISIP-UMRAH

Berbicara tentang paradigma pasti yang ada dalam benak kita adalah tentang bagaimana cara kita memandang suatu persoalan dan atau masalah. Secara etimologis kata paradigma berasal dari bahasa Yunani yang asal katanya adalah para dan digma. Para mengandung arti di samping, di sebelah, dan keadaan lingkungan. Sedangkan digma berarti sudut pandang, teladan, arketif, dan ideal. Dapat dikatakan bahwa paradigm adalah cara pandang, cara berpikir, cara berpikir tentang suatu realitas. Adapun secara terminologis, paradigma adalah cara berpikir berdasarkan pandangan yang menyeluruh dan konseptual terhadap suatu realitas dengan metode keilmuan yang bisa atau dapat dipercaya. Dengan demikian, paradigma Qur’ani adalah cara pandang dan cara berpikir suatu realitas atau suatu permasalahan berdasarkan Alquran.

Lalu, mengapa Alquran harus kita jadikan paradigma? Apakah cukup seorang akademisi muslimmemakai referensi dari bidang keilmuan berdasarkan bidang yang ia geluti saat ini saja? Hampir semua umat manusia di dunia ini menyatakan bahwa ada suatu keyakinan dalam hati orang-orang yang beriman. Alquran itu mengandung gagasan yang sempurna mengenai kehidupan manusia. Alquran mengandung gagasan murni yang bersifat metahistoris. Alquran sesungguhnya menyediakan kemungkinan yang sangat besar untuk dijadikan cara berpikir.

Pengembangan eksperimen-eksperimen ilmu pengetahuan berdasarkan paradigm Alquran jelasakan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan umat manusia. Kegiatan itu mungkin bahkan tentu saja akan menjadi rambahan baru bagi munculnya ilmu-ilmu pengetahuan alternatif.

Bagi umat Islam, Alquran adalah sumber primer dalam segi kehidupan. Alquran adalah sumber ajaran teologi, hukum, mistisme, pemikiran, pembaharuan, pendidikan, ahlak, dan aspek-aspek lainnya. Tolok ukur benar/salah, baik/buruk, dan indah/jelek adalah terdapat dalam Al-Qur’an.

Jika seseorang mencari sumber lain dalam menentukan benar/salah, baik/buruk, dan indah/jelek maka orang tersebut dianggap tidak konsisten dalam berislam. Suatu sikap hipokrit yang dalam pandangan Alquran termasuk sikap yang tidak terpuji. Hal ini juga dijelaskan dalam Kitab suci Alquran, sebagaimana dalam firman Allah yang artinya ”tidakkah Kami turunkan al-kitab kepadamu kecuali agar kamu menjelaskan kepada mereka apa yang mereka ikhtilafkan” (QS An-Nahl/16: 64) dan dalam ayat lain juga dijelaskan yang artinya ”keadaan manusia adalah umat yang satu. Lalu Allah mengutus para nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan, dan Allah turunkan Al-Kitab dengan hak agar ia menghukumi apa-apa yang mereka ikhtilafkan” (QS An-Nisa’/4: 165)

Berikutnya, untuk apa Alquran diturunkan ke duniaini? Apa tujuan Alquran diturunkan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mencobam engutip dari pendapat Yusuf Al-Qardhawi tentang tujuan Alquran diturunkan ke dunia, ada 7 pendapat dari beliau yaitu: pertama, meluruskan akidah manusia. Kedua, meneguhkan kemuliaan manusia dan hak-hak asasi manusia. Ketiga, mengarahkan manusia untuk beribadah secara baik dan benar kepada Allah S.W.T. Keempat, mengajak manusia untuk menyucikan rohani.

Kelima, membangun rumah tangga yang sakinah dan menempatkan posisi terhormat bagi perempuan. Keenam, membangun umat menjadi saksi atas kemanusiaan dan ketujuh, mengajak manusia agar saling tolong-menolong.

Dari ke tujuh tujuan diturunkannya Alquran menurut Qardhawi tadi sudah sepatutnya saya mengajak kepada kaum muslimin dan muslimat untuk membangkitkan kembali paradigma Qurani di momen bulan suci Ramadan ini. Seperti yang sama-sama kita ketahui bahwa dalam bulan Ramadhan, manusia menemukan kemudahan dalam melakukan ibadah yang biasanya berat dilakukan di luar bulan Ramadhan. Kita akan melihat bahwa kaum muslim dalam bulan ini menyibukkan dirinya kepada Alquran dan tidak akan bosan membacanya, baik di pagi hari ataupun di petang hari.

Bahkan kita akan melihat bahwa pandangan mereka hanya ditujukan kepada ayat-ayat suci Alquran. Kita juga dapat melihat kemudahan ini terjadi dalam melakukan ibadah salat. Orang-orang muslim mencari sumber yang dapat menggerakkan hatinya dan mereka menemukannya dengan membaca Alquran dalam salatnya.
Di bulan Ramadan ini pula, kita membutuhkan perkumpulan yang lain. Hal ini untuk menyempurnakan kebahagiaan kita dengan datangnya bulan Ramadan. Banyak orang yang hanya memperhatikan kebutuhan jasmani sehingga mereka lupa dengan kebutuhan rohani dan bekal untuk hidup di akhirat nanti.

Kemudian, apabila kita telusuri kembali, mengapa umat Islam mundur, sedangkan yang ada di barat sana kini maju pesat?
Padahal tidak semua umat Islam meninggalkan ajarannya, non-Islam maju justru karena mereka meninggalkan ajarannya. Hal ini perlu sama-sama kita sepakati, untuk kemajuan Islam itu sendiri, umat Islam harus berkomitmen terhadap ajarannya. Adapun ajaran yang dimaksud adalah ajaran murni Al-Islam sebagai mana yang tercantum dalam Alquran dan As-Sunnah, bukan ajaran-ajaran yang bersumber dari budaya lain.

Juga dalam hadist Rasul disampaikan kepada umatnya soal Al-Islam yang berbunyi “aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya jika kalian berpegang teguh kepada keduanya: kitabullah wa sunnati. Keduanya tidak akan berpisah hingga bertemu di telagaku.” (HR Hakim, shahih) Tidak sedikit orang berpandangan bahwa untuk maju justru mereka harus meninggalkan ajaran agama mereka sehingga mereka harus mengembangkan budaya sekuler dalam segala segi kehidupan.

Sementara bagi umat Islam, untuk maju tidak perlu mengambil sekulerisasi, malah sebaliknya, kita harus berkomitmen terhadap ajaran-ajaran Islam. Mengapa umat Islam untuk dapat maju tidak perlu mengambil jalan sekulerisasi? Jawabannya tentu saja, pertama, karenaajaran Islam yang sumbernya Alquran dan hadist bersifat syumul artinya mencakup segala aspek kehidupan.

Kedua, ajaran Islam berkarakter tadaruj artinya bertahap dalam wurud dan implementasinya. Keempat, ajaran Islam bersifat taqlilat-takaalif artinya tidak banyak beban karena beragama itu memang mudah, dalam arti untuk melaksanakannya berada dalam batas-batas kemanusiaan bukan malah sebaliknya, tidak ada yang di luar kemampuan manusia untuk melaksanakannya. Allah sendiri menyatakan dalam banyak ayat bahwa yang dikehendaki Allah adalah kemudahan bagi umat manusia, bukan kesulitan bagi manusia, menjunjung tinggi kesamaan (egaliter), keadilan, rahmat dan berkah bagi semua alam. Kelima, ajaran yang diangkat
Alquran berkarakter I’jaz artinya bahwa redaksi Alquran mengungkap berbagai informasi, kisah dan pelajaran dengan gaya bahasa singkat, padat, indah tetapi kaya makna, jelas dan menarik. Agama yang mempunyai prinsip itulah agama masa depan dan agama yang dapat membawa kemajuan.

Kemajuan yang dicapai dengan keberhasilan pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tentu akan membawa perubahan yang dahsyat. Revolusi kebudayaan telah terjadi karena Iptek telah mengantarkan manusia kepada kemajuan yang luar biasa. Kemajuan melahirkan kehidupan modern dan kemodernan menjadi ciri khas masyarakat maju dewasa ini. Bagi umat Islam, kemodernan tetap harus dikembangkan di atas paradigma Alquran.

Kita maju bersama Alquran, tidak ada kemajuan tanpa Alquran. Alquran bukan hanya sebagai sumber inspirasi, tetapi ia adalah landasan, pedoman paradigm dan guide dalam mengarahkan kemodernan agar dapat menyejahterakan manusia baik di dunia maupun akhirat kelak. Landasan Iptek adalah ma’arifatullah, dan Alquran adalah paradigm untuk pengembangan Iptek. Penguasaan Iptek yang dilandasi ma’arifatullah akan membawa kemajuan lahir bathin, sejahtera dunia akhirat, dan rahmat bagi semua alam.
Iptek dan kehidupan yang tidak dipandu wahyu belum tentu membawa kesejahteraan, ketentraman, dan kebahagiaan.

Sedangkan Iptek dan kehidupan yang dipandu wahyu tentu akan mewujudkan kesejahteraan yang seimbang; sejahtera lahir batin, dunia akhirat, jasmani rohani. Itulah paradigm Qur’ani dalam konsep dan kenyataan kehidupan. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here