Membangun Kepri dengan Modal Kebahagiaan

0
1124
Panusunan Siregar

Oleh: Panusunan Siregar
Bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri

Sejak BPS Provinsi Kepri mengumumkan perlambatan pertumbuhan ekonomi Kepri, banyak diskursus yang telah muncul baik di media cetak/elektronik maupun pada forum-forum resmi berupa workshop, FGD, dan rapat-rapat lainnya.

Semua stakeholders/pemangku kebijakan dan para manajemen sektor privat telah konsen dengan fenomena perekonomian yang sedang melanda Kepri dan ingin dipulihkan kembali agar kejayaan ekonomi Kepri bisa ditegakkan kembali.

Beberapa pemikiran melalui tulisan opini telah diangkat oleh penulis mulai dari usulan mendiversifikasi kekuatan eknomi Kepri ke non-manufaktur dan pemberdayaan Konsumen untuk mendongkrak pertumbuhan eknomi hingga penggenjotan potensi ekspor.

Dari semua diskusi-diskusi yang muncul, issunya masih seputar aspek ekonomi dan belum ada yang membicarakannya dari aspek non-ekonomi.

Memang Gubernur Kepri pernah mengajak semua pihak untuk bahu membahu dan bergotong-royong dalam membangun kembali perekonomian Kepri yang sedang terpuruk, tetapi belum mendapat respon karena mungkin dianggap terlalu abstrak.

Padahal, aspek kegotongroyongan tersebut tidak kalah penting dibandingkan dengan aspek ekonomi sebagaimana diterapkan pemerintahan Bhutan pada dekade tujuh puluhan.

Pengalaman Bhutan
Menyadari bahwa sumberdaya alam negara Bhutan yang sangat terbatas dan tidak mampu berbuat banyak untuk membahagiakan rakyat Bhutan dalam hal kesejahteraan ekonomi, Jigme Singye Wangchuck, raja ke-4 negara Kerajaan Bhutan yang terletak di kaki Gunung Hymalaya berpikir apakah rakyatnya merasa bahagia walaupun berkekurangan dalam hal ekonomi.

Jigme mencoba memikirkan alat ukur (indikator), tetapi dari literatur yang ada, semuanya hanya menyajikan indikator-indikator ekonomi, seperti produk domestik bruto (PDB) total dan per kapita, pendapatan per kapita, pertumbuhan ekonomi, dll.

Baca Juga :  Eksistensi Kesadaran Hukum untuk Mewujudkan Kepatuhan

Bila indikator ini yang akan diterapkan, maka sudah dapat dipastikan bahwa potret yang muncul adalah kondisi kurang menggembirakan bila dibandingkan dengan negara-negara lain.

Bermodalkan rasa keingintahuan (curiosity) itu, Wangchuck melakukan survei kepada rakyatnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut hal-hal kualitas hidup, penggunaan waktu santai (leisure), interaksi dalam komunitas lingkungan tempat tinggal, dan keterikatan/keterpaduan dengan budaya.

Dari hasil survei tersebut beliau mengembangkan suatu indikator, yaitu Gross National Happiness (GNH) yang kemudian lebih dikenal dengan indeks kebahagiaan (Happiness Index – HI) sebagai alat ukur suplemen (supplementary indicator) terhadap indikator ekonomi yang ada.

Ada dua argumentasi krusial kenapa Wangchuck mengembangkan indeks kebahagiaan, yaitu, pertama, kekayaan/kemakmuran tidak selamanya memberikan kenikmatan atau kebahagiaan kepada seseorang tetapi justru kenyamanan budaya dan sipritual lebih memberikan kedamaian.

Kedua, pembangunan ekonomi memang terlihat langsung hasilnya, tetapi bisa menggiring ke peningkatan kemiskinan, kesenjangan pendapatan, pengrusakan lingkungan (environment destruction), dan bahkan menghilangkan budaya (loss of culture).

Berlandaskan argumentasi di atas Wangchuck berhasil menghitung indeks kebahagiaan Bhutan dan hasilnya cukup mengagetkan beliau karena ternyata masyarakatnya cukup bahagia meskipun secara ekonomi mereka relatif berkekurangan.

Hasil survei tersebut kemudian dipublikasikandalam jurnal internasional pada tahun 1972 dan mendapat respon positif dari berbagai peneliti dan pimpinan negara.

Sejak itu, indikator indeks kebahagian sebagai non-economic-indicator based menjadi populer dan telah diadopsi oleh banyak negara termasuk Indonesia sebagai salah satu indikator pelengkap untuk mengukur kemajuan atau keberhasilan pembangunan.

Baca Juga :  Menanti Provinsi Pulau Tujuh

Potret Kebahagiaan Kepri
Secara prinsip, indeks kebahagiaan (happiness indekx, HI) yang dikembangkan di Indonesia sama dengan konsep baku yang telah diterapkan di beberapa negara.

Namun demikian, agar HI dapat memotret tingkat kebahagiaan masyarakat secara luas (comprehensive) dan menyeluruh (holistic), BPS mengembangkan HI dalam 3 dimensi, yaitu kepuasan hidup (personal dan sosial), perasaan (affect), dan makna hidup (eudaimonia) yang masing-masing mencakup 10, 3, dan 6 indikator.

Sebagaimana telah dilansir oleh BPS Provinsi Kepri, tingkat kebahagiaan masyarakat Kepri relatif menggembirakan. Di wilayah Sumatera, penduduk Kepri pada 2017 adalah yang paling bahagia dengan indeks kebahagian tertinggi, yaitu 73,11 dalam skala 0 s/d 100, tetapi menempati urutan ke-7 secara nasional.

Bila dicermati lebih rinci, dari 19 indikator pembentuk HI, 14 diantaranya (hampir 74 %) sudah memiliki skor baik, yaitu di atas angka70. Indikator-indikator tersebut secara berurutan dari yanng tertinggi, adalah keharmonisan keluarga dengan skor 80,37, tujuan hidup, penerimaan diri, perasaan senang/riang gembira, penguasaan lingkungan, hubungan positif dengan orang lain, kondisi keamanan, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, kemandirian, kesehatan, keadaan lingkungan, kondisi/fasilitas rumah, dan pekerjaan/usaha/kegiatan utama.

Namun demikian, penduduk Kepri masih diselimuti dengan rasa kecemasan, masalah pendidikan/ketrampilan, masalah pendapatan rumah tangga, perasaan tertekan, dan pengembangan diri dimana skor masing-masingnya masih berada di bawah angka 70.

Membangun Bermodalkan Kebahagiaan
Merujuk pada fakta empiris di atas dimana masyarakat Kepri memiliki indeks kebahagiaan yang cukup baik, maka sudah seharusnya dijadikan sebagai modal dasar dan strategis untuk membangun Kepri ke arah yang lebih baik dan berkelanjutan.

Baca Juga :  Dorong Sektor Industri untuk Pertumbuhan Inklusif

Dengan bermodalkan kebahagiaan dalam dimensi kehidupan sosial yang relatif sudah cukup baik (angka 73,14) dan dimensi makna hidup (eudaimonia) yang jauh lebih baik dengan angka 76,75, harus menjadi pemacu adrenalin penduduk Kepri untuk bersinergi dan bahu membahu membangun Kepri yang notabene kesehatan ekonominya sedang “meradang” pada 2017 ini.

Hal ini sejalan dengan misi pertama Gubernur Kepri yang tertuang dalam RPJMD-nya, yaitu membangun perikehidupan masyarakat Kepri yang agamis, demokratis, berkeadilan, tertib, rukun, dan aman di bawah payung budaya Melayu.

Dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki Kepri di luar sektor pertambangan dan industri manufaktur, seperti sub-sektor perikanan, perkebunan, peternakan, dan pariwisata, serta didukung oleh euforia kebahagiaan yang dimiliki oleh masyarakat, Provinsi Kepri punya optimisme untuk mendongkrak kembali pertumbuhan ekonominya ke angka di atas 6 persen.

Apalagi dengan adanya komitmen BP Batam untuk menyederhanakan proses perizinan berinvestasi di Batam dengan sistem layanan 3 jam dan adanya kepastian hukum, sudah barang tentu menjadi pull factor bagi calon-calon investor asing (PMA).

Untuk itu mari seluruh stakeholders pembangunan, yaitu pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat menyatukan energi dan pemikiran untuk membangun Kepri agar kehidupan masyarakat yang sejahtera, berakhlak mulia, ramah lingkungan, dan unggul dalam bidang Maritim dapat diwujudkan. Semoga!.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here