Membingkai Intelektual Mahasiswa dengan Adab Para Ulama dan Da’i

0
841

Oleh: Muthi’ah Khairiyah
Mahasiswa Jurusan Manajemen Bisnis SyariahSTIE SEBi, Depok

Saat ini mahasiswa dianggap kaum terpelajar di mata masyarakat. Mereka dianggap mempunyai nilai lebih. Namun bersamaan dengan anggapan tersebut, banyak fenomena-fenomena degradasi moral yang menyerang para remaja.

Miris sekali melihatnya. Ilmu yang didapatkan saat di sekolah atau kampus, seakan tak berbekas karena tak diamalkan.

Ada beberapa hal yang luput dari perhatian para mahasiswa saat sebelum, sesudah atau selama proses belajar mengajar tersebut.

Sehingga dapat mengurangi keberkahan dari didapatnya ilmu tersebut. Diantara hal-hal tersebut adalah adab.

Jika kita melihat para ulama terdahulu, mereka sangat menjunjung tinggi adab saat menuntut ilmu agar mendapat keberkahan dari ilmu itu.

Seperti dikatakan Syaikh Zarnuji: banyak dari sebagian pelajar yang sebenarnya mereka sudah bersungguh-sungguh menuntut ilmu, namun mereka tidak merasakan nikmatnya ilmu, hal ini disebabkan mereka meninggalkan atau kurang memperhatikan etika (akhlak) dalam menuntut ilmu.

Oleh sebab itu, kondisi pendidikan yang demikian mendorong kita untuk membangun cara pandang baru dalam pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada ilmu pengetahuan dan keterampilan, namun juga berorientasi pada nilai (value).

Karena proses pembelajaran yang menekankan pada nilai-nilai akhlak. Yaitu kejujuran, keharmonisan, dan saling menghargai adalah hal yang tidak bisa dikesampingkan.

Dengan adanya sistem value ini tidak hanya menjadikan guru sebagai pentransfer ilmu layaknya robot dan siswa sebagai penerima layaknya robot pula yang akhirnya menjadi suatu tatanan mekanis bagai mesin.

Akan tetapi lebih menjadikan mereka sebagai manusia utuh untuk melahirkan aktor-aktor intelektual yang berwawasan, serta mampu menghiasi kehidupan dengan keharmonisan dan ketentraman yang berlandaskan pada akhlak mulia.

Bagi seorang Muslim, pendidikan karakter saja tidak cukup. Yang juga wajib dikembangkan adalah pendidikan adab untuk membentuk manusia beradab.

Serta upaya membentuk manusia beradab yaitu membangun tradisi ilmu yang benar. Pemahaman dan pengakuan tentang adab yang membedakan seorang Muslim yang berkarakter dengan non Muslim yang berkarakter.

Orang yang berkarakter belum tentu beradab. Masyarakat beradab menurut Islam adalah yang memuliakan orang yang beriman, berilmu, orang yang shalih dan orang yang takwa.

Budaya ilmu sangat perlu diterapkan di masyarakat. Merupakan asas kebangkitan peradaban.

Budaya ilmu yang dimaksud terwujudnya suatu keadaan dimana setiap lapisan masyarakat melibatkan diri baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kegiatan keilmuan di setiap kesempatan.

Karena itu, tradisi ilmu dan peradaban yang dibangun oleh Islam tidaklah sama dengan tradisi ilmu yang dibangun dalam peradaban sekuler.

Untuk membangun peradaban Islam, harus dilakukan melalui proses pendidikan. Tujuan utamanya yaitu untuk membentuk manusia yang beradab, manusia yang mempunyai adab.

Adab adalah disiplin rohani, akal dan jasmani yang memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dengan benar dan wajar. Menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam diri, masyarakat, dan lingkungannya.

Hasil tertinggi dari adab adalah mengenal Allah dan meletakkan Nya di tempat Nya yang wajar dengan melakukan ibadah dan amal shalih pada tahap ihsan.

Jika konsep adab ini diterapkan dalam masyarakat, maka akan terbentuklah suatu peradaban masyarakat madani, masyarakat beradab yang mengamalkan ajaran agama.

Seorang dapat menjadi manusia beradab jika memiliki ilmu yang benar. Karena itu, suatu pendidikan Islam harus mengantarkan anak didiknya kepada tujuan ilmu yang utama, yakni membentuk manusia yang beradab. Pendidikan semacam ini harus dibangun di atas konsep ilmu yang benar.

Alangkah senangnya jika para mahasiswa dapat menerapkan pendidikan adab tersebut. Karena para mahasiswa merupakan tonggak negara.

Harapan bangsa tertumpu kepada para mahasiswa. Peran mahasiswa saat ini salah satunya menjadi penyambung lidah rakyat agar didengar oleh pejabat.

Maka diperlukan pribadi yang mempunyai karakter dan adab yang bagus agar suatu saat jika ia berada di kursi pengambil kebijakan, tidak lupa dengan tugasnya untuk melayani umat dengan baik.

Tentu bukan hanya bisa menjadi komentator namun juga bisa menjadi aktor. Upaya memperbaiki nasib bangsa ini.

Politik hanya sebuah sarana. Ia hanyalah objek. Maka, baik dan buruknyanya tergantung kepada siapa yang berpolitik.

Harapannya, banyak aktivis beradab, yang mengokohkan peran keislaman sebagai rahmat untuk semesta yang berkecimpung dalam dunia politik. Sehingga anggapan politik itu kotor dapat berangsur bersih dan seterusnya.

Para aktivis diharapkan untuk tidak lupa dengan tugas-tugas mereka. Diantaranya tugas untuk tetap melakukan pembinaan kepada masyarakat.

Pembinaan terhadap masyarakat harus senantiasa dilakukan, agar masyarakat benar-benar paham bahwa hidup memang mempunyai tujuan, yaitu ibadah kepada Allah.

Kemudian, aktivis tidak lupa dengan tugas utama bila masuk ke dalam jajaran pemerintahan, bahwa sejatinya mereka adalah pelayan masyarakat.

Pembinaan terhadap masyarakat sangat diperlukan, karena banyak terjadi fenomena Islam KTP. Tatkala memasuki usia dewasa, tanpa melalui proses yang berliku, kita tiba-tiba telah mendapati diri kita seorang Muslim.

Orangtua, suasana rumah, dan lingkungan sekitar, telah membawa kita kepada suasana batin yang penuh iman dan larut dalam tradisi beribadah.

Ini patut disyukuri. Hanya saja, jika potensi keimanan dasar ini tidak dikembangkan dengan wawasan pengetahuan keislamanan lebih lanjut, keimanan kita menjadi stagnan dan pasif. Dan fenomena ini banyak dijumpai di tengah komunitas umat Islam.

Padahal, ajaran Islam diturunkan oleh Allah untuk ditegakkan di muka bumi. Ia tidak hanya berisi tuntunan individu manusia dalam menjalin hubungan dengan Tuhannya dalam aktivitas ibadah ritual, namun juga berisi sistem kehidupan untuk menjadi panduan bagi seluruh umat manusia dalam menata kehidupan.

Untuk misi yang demikian ini, dan sebagai sebuah nilai yang harus diperjuangkan, Islam memerlukan komitmen penuh dari para pemeluknya. Komitmen dalam memegang prinsip keyakinan, komitmen dalam memegang teguh nilai, dan komitmen dalam memperjuangkannya.

Karakteristik yang harus dimiliki oleh muslim sejati diantaranya adalah:

Pertama, harus mengislamkan aqidah. Konsekuensinya adalah harus meyakini bahwa pencipta alam ini ada Allah. Dan Allah merupakan satu-satunya yang berhak disembah.

Kedua, harus mengislamkan ibadah. Konsekuensinya yaitu hanya beribadah kepada Allah secara berkesinambungan, harus khusyuk.

Ketiga, harus mengislamkan akhlak. Akhlak mulia merupakan tujuan pokok dari hadirnya risalah Islam.

Keempat, harus mengislamkan keluarga dan rumah tangga. Dimulai dari lingkup terkecil untuk membina masyarakat agar mengenal Allah.

Kelima, harus mengalahkan nafsu. Jangan sampai kita yang dikuasai oleh nafsu, melainkan kita harus melawan nafsu tersebut.

Keenam, harus yakin bahwa masa depan adalah milik Islam. Namun, kita tidak boleh hanya berpangku tangan. Harus ada usaha untuk mewujudkan keyakinan tersebut.

Karakteristik tersebut diharapkan dapat tertanam kuat pada setiap individu muslim. Ditambah dengan adab yang menghiasi para Muslim, maka Islam dapat berdiri kokoh dan terasa indah.

Adab sangat penting untuk diperhatikan dalam segala hal. Percuma memiliki intelektual yang tinggi jika tak punya adab. Diyakini membawa keberkahan untuk pelakunya. Jika tak mempunyai adab seakan tak ada harganya dan orang lain pun enggan menghargai.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here