Memilih yang Terbaik

0
440
Robby Patria

Oleh: Robby Patria
Pengurus ICMI Tanjungpinang

Setiap partai mengajukan 30 caleg untuk memperebutkan 30 kursi di tiga dapil Tanjungpinang. Maka 30 kursi x16 partai mendapatkan angka 480 orang.Walaupun ada beberapa partai yang tidak full pencalonan.Jika 30:480, maka kemungkinan terpilih per orang 0,06 persen.

Hanya mereka yang serius melakukan kampanye, kedekatan emosional antarcaleg dengan pemilih, kompetensi yang dimiliki, kemampuan akademik, komunikasi yang baik, kemampuan finansial yg memadai dan yang sudah berbuat untuk publik kemungkinan mungkin akan dipilih oleh rakyat menjadi wakil rakyat mengisi dan mengawal demokrasi lokal Tanjungpinang.

Menurut hasil survei Litbang Kompas yang dirilis seminggu lalu, sebanyak 43 persen warga akan memilih caleg yang bersih dari indikasi korupsi.Kemudian sebanyak 36,a9 caleg yang dipilih memiliki kualitas dan kemampuan.Sisanya sebanyak 10 persen setia kepada partainya dan pemilih, faktor populer hanya 2 persen, bersih dari kejahatan 5,6 persen dan sisanya tidak tahu atau tidak menjawab 1,6 persen.

Dengan melihat hasil survei tersebut, pemilih di Indonesia yang jumlahnya nomor tiga terbanyak di dunia hampir 190 juta terlihat menginginkan caleg yang mewakili rakyat betul betul bersih dari korupsi, dan berkualitas. Karena demokrasi yang diperjuangkan dengan tetesan darah dan nyawa akan mengalami penurunan kualitas demokrasi jika lembaga parlemen baik di pusat hingga daerah diisi figur figur yang tidak berkualitas.

Ingat pesan tokoh pejuang Indonesia, Agus Salim yang sangat terkenal menjadi pesan bagi siapapun yang mau jadi pemimpin yakni “leiden is lijden” memimpin adalah menderita. Jangan dibalik jadi “memimpin adalah menikmati yang menyebabkan mereka jadi kaya. Andai para pejabat dan politisi di Tanah Air menghayati ucapan Agus Salim, maka Komisi Pemberantasan Korupsi KPK tidak terlalu berkerja keras menangkap koruptor.

Kembali kepada wakil rakyat, DPR sebagai lembaga perwakilan rakyat harus menjadi rumah bagi rakyat dan membela kepentingan rakyat. Setiap anggota DPR maupun DPRD dibayar besar oleh rakyat melalui anggaran pendapatan negara yang dipungut dari pajak rakyat harus benar benar dapat dipercaya bekerja sepenuh hati untuk memperjuangkan aspirasi rakyat yang diwakili. Bukan memperjuangkan aspirasi kelompok untuk mengisap sendi sendi kekayaan negara.

Sejak demokrasi dikenal abad ke-5 sebelum masehi di Athena, Yunani, adalah untuk kepentingan rakyat. Demokrasi berasal dari kata Demos yang memiliki arti rakyat, dan kratos atau cratein yang memiliki arti pemerintahan. Dengan begitu dapat diartikan bahwa demokrasi merupakan pemerintahan rakyat, atau juga dapat disebut sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Dalam pidato Gettyburgnya, Presiden Amerika Serikat yang ke-16 Abraham Lincoln menyatakan bahwa demokrasi merupakan suatu sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dari pengertian tersebut bisa disimpulkan bahwa rakyat merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam suatu pemerintahan, dimana masing-masing dari mereka memiliki hak dalam memperoleh kesempatan serta hak dalam bersuara yang sama dalam upaya mengatur kebijakan pemerintahan.

Juga diingatkan oleh Samuel Hutington bahwa, Demokrasi akan tercipta apabila para pemberi keputusan yang kuat dalam suatu sistem pemerintahan dipilih melalui suatu proses pemilihan umum yang jujur dan adil secara berkala.

Di dalam sistem tersebut, para kandidat atau calon pemimpin bebas untuk melakukan persaingan guna memperolah suara. Selain itu, negara yang telah berusia dewasa berhak untuk memberikan suara dalam sistem tersebut.

Inilah saat yang tepat pada 17 April 2019 rakyat sebagai pemegang kedaulatan menentukan wakil wakil rakyat yang memiliki kualitas sehingga gedung wakil rakyat dipenuhi dengan figur figur yang berjuang mati matian membela kepentingan rakyat. Bukan bersekongkol membela kepentingan pemilik modal dan cukong cukong politik.

Kampanye
Setelah KPU menetapkan Daftar Calon Tetap atau DCT, maka ribuan caleg boleh melakukan kampanye mulai 23 September 2018 hingga 13 April 2019. Di masa itulah pemilih yang sudah terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap dapat menggunakan haknya memilih atau menseleksi siapa yang pantas untuk dipilih sesuai dengan kepentingan orang banyak.

Bukan tidak mungkin, bahkan sangat mungkin terjadi dalam melakukan kampanye, caleg yang memiliki kemampuan finansial yang lebih mendekati pemilih dengan sebaik baiknya.Bahkan memberikan bantuan sembako, duit yang dianggap pengganti transportasi, dan menjanjikan pelbagai program.

Hal itu dianggap bisa mencuri hati pemilih.Namun ketika yang bersangkutan terpilih, sang wakil rakyat hilang bagai ditelan bumi. Dan kembali muncul jelang pencalonan kembali di pemilu mendatang. Ada istilah seperti formasi tim sepak bola, 1 banding 4. Artinya satu tahun muncul baik setelah terpilih dan menjelang pemilihan baru menampakkan batang hidung. Tetapi selama empat tahun menghilang dengan kesibukan kerja yang tinggi.

Ada juga wakil rakyat yang serius mendekati pemilih bukan hanya saat kampanye tiba, tetapi setiap minggu atau bulan turun ke tengah tengah rakyat untuk mencari masalah yang bisa dia perjuangkan guna mengurangi beban masyarakat.

Figur caleg model kedua ini biasanya disenangi rakyat sehingga peluang untuk terpilih kembali sangat besar.

Menurut Samuelson dalam Anderson dan Glomm (1992), menyatakan bahwa salah satu alasan incumbent cenderung untuk terpilih kembali dibanding penantang, karena mereka telah terbukti dipilih pada pemilihan sebelumnya sebagai kandidat yang lebih baik. Sehingga kinerja incumbent menjadi kiat untuk pencitraan diri.

Para caleg incumbent berupaya menunjukkan kinerjanya selama menjabat sebagai kiat pencitraan diri yang membedakan mereka dengan caleg penantang. Hal ini relevan bahwa salah satu alasan incumbent cenderung terpilih kembali dibanding penantang, karena mereka telah terbukti dipilih pada periode sebelumnya sebagai kandidat yg lebih baik.

Bagi mereka yang sadar pentingnya menjaga hubungan emosional dengan warga menyebabkan keterpilihan caleg seperti itu lebih besar daripada menemui pemilih di saat kampanye tiba.

Pemilih tentu menentukan pilihan kepada figur yang dianggap mereka bisa dengan mudah dijumpai dan dihubungi kapanpun dan di manapun bisa utk menyampaikan aspirasi.

Dan keberhasilan caleg terpilih itu tentunya berdasarkan program kampanye yang mereka buat. Dan itu akan tampak kepada program program dan karakter di dalam diri caleg selama masa kampanye.

Program kampanye misalnya seperti, penetapan juru kampanye, penggunaan media kampanye, penyusunan pesan yang khas, serta khalayak sasaran yang sama. Kemudian faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan dan kegagalan para kandidat terdiri atas: citra diri, jaringan keluarga, dana Kampanye, kinerja sesama caleg.

Menurut Cangara (2014), kampanye dengan menggunakan money politics merupakan metode pelatuk atau pemicu (trigger) semacam ini merupakan tindakan yang tidak elegan dan tidak beretika, sebab memilih bukan karena hati nurani, melainkan kerena mengharapkan sesuatu dalam bentuk pemberian materi.

Dengan kondisi tersebut, maka kampanye memanfaatkan sahabat, keluarga dan kesukuan, teman kerja, menjadi lebih efektif.

Sedangkan menurut Firmanzah (2008), “ada garis primordial dalam masyarakat yang merupakan pemilih tradisional.” Mereka memilih kandidat yang memiliki garis sedarah ataupun ikatan emosional dengan pemilih tanpa melihat faktor lainnya.

Menjadi tugas utama dari para kandidat untuk bisa membaca arah prilaku pemilih di waktu dan tempat yang tepat.(Jurnal Komunikasi KAREBA,Wirawan Jaya, Hafied).

Pilihan sekarang di tangan pemilih.Caleg seperti apa yang mereka inginkan.Apakah yang serius mendengarkan aspirasi rakyat kemudian memperjuangkan sampai terpenuhi atau caleg yang datang menjumpai warga ketika masa kampanye tiba dan pergi setelah terpilih?Selamat menyeleksi calon wakil rakyat terbaik 2019 mewakili kita.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here