Memimpikan Tegaknya Negara Pancasila

0
815
Rikson Pandapotan Tampubolon

Oleh: Rikson Pandapotan Tampubolon
Dosen Universitas Putera Batam

Situasi kebangsaan kita hari ini, benar-benar cukup menguras energi besar bangsa ini. Tensi politik yang kian meninggi, sehingga menciptakan keresahan sosial yang kian memanas. Pemicunya jelas, kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan mantan Gubernur Basuki Tcahaya Purnama alias Ahok, berbuntut panjang dan runyamnya polarisasi di masyarakat. Ditambah lagi, kasus teror yang masih terus terjadi membuat kecemasan dalam kerukunan yang terjaga kembali diuji.

Pertanyaannya, masihkah kita bersumpah setia kepada ideologi negara kita yaitu Pancasila? Pertanyaan ini menemukan relevansinya mengingat situasi kebangsaan kita dewasa ini. Apalagi pada tanggal 1 Juni ini kita akan memperingati kembali hari lahir Pancasila.

Kita patut berterima kasih kepada pemerintah yang dipimpin oleh Joko Widodo telah menetapkan 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila dan merayakannya sebagai hari libur nasional. Sehingga Pancasila mendapatkan tempatnya di bangsa ini dan dapat bersaing dengan ideologi-ideologi bangsa lainnya.
Kehadiran Negara

Judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia: “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan”) pada tanggal 1 Juni 1945adalah “Lahirnya Pancasila”. Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal “Pancasila” pertama kali dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan “Lahirnya Pancasila” oleh mantan Ketua BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPK tersebut.

Baca Juga :  Perlu Cara Inovatif Basmi Narkoba

Kita diingatkan kembali mengenai dasar dan falsafah kita sebagai negara bangsa. Toleransi dan kerukunan merupakan modal dasar negara ini ditengah anugerah keberagaman yang diterima bangsa ini. Modal dasar inilah yang dibangun dengan semangat gotong-royong yang akan membawa bangsa ini maju mengantarkannya kepada cita-cita luhur bangsa ini.
Pengingkaran terhadap konsensus dasar kita ini, akan membawa kita kepada malapetaka bagi masa depan bangsa ini. Pancasila adalah konsepsi dasar kita berbangsa dan bernegara kita yang sudah final. Kilasan waktu yang membuat kita masih berdiri sebagai negara bangsa ini adalah bukti bahwa Pancasila adalah ideologi penyatu/penghimpun dari keberagaman kompleks (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) yang ada.

Untuk itu, ide atau wacana yang menginginkan mengganti dasar negara kita jelas merupakan potensi ancaman yang sangat serius. Negara—dalam hal ini pemerintah kita—harus bertindak sigap dan menunjukkan ketegasan dalam menjaga dan mengawal dasar negara kita. Negara tidak boleh kalah, bahkan tunduk terhadap tuntutan kelompok mayoritas (sekalipun) di negara ini dalam persoalan fundamental dan hakiki dasar kita berbangsa dan bernegara.

Negara harus hadir dalam melindungi setiap unsur kepentingan—bahkan kelompok minoritas sekalipun—untuk tetap bisa hidup dan berkarya tanpa diskriminasi. Hikmat kebijaksanaan dalam memimpin bangsa ini mutlak diperlukan (refleksi sila keempat Pancasila). Jangan sampai ada tirani mayoritas, menindas minoritas. Filosofi negara hukum yang selalu dikumandangkan harus selalu menempatkan sistem meritrokrasi sebagai modal bangsa ini menjadi negara maju dan model negara di dunia pewaris keberagaman kompleks.

Baca Juga :  Mana Tanah Perkuburanku?

Untuk itu, sudah tepat ketika negara diperhadapkan dengan adanya kelompok yang menginginkan mengganti sistem dasar negara kita harus disikapi secara cepat dan serius. Memberikan ruang kepada kelompok yang anti-pancasila—walaupun negara kita menganut paham demokrasi—hanya akan menambah potensi ancaman kita berbangsa.
Media (Pertempuran) Sosial

Ekskalasi polarisasi di masyarakat pasca kasus Ahok di media sosial belum juga surut dan cenderung meningkat. Media sosial ibarat medan pertempuran wacana. Masyarakat keburu terbelah menyikapi fenomena kepemimpinan Ahok yang penuh kontroversi. Sialnya, politik menjual SARA dalam kompetisi pilkada terbilang sukses. Ibarat membakar api dalam sekam. Kobaran api kebencian dan hoax kini membara di masyarakat—tidak terlepas media sosial sebagai penanda jaman.

Masyarakat kita harus belajar untuk memilah dan memilih berita untuk dikonsumsi. Terpaan gelombang informasi di jaman ICT (Information, Communication and Technology) membuat kegamangan bagi para penggunanya (user). Tanpa pendidikan yang memadai, gelombang informasi hanya akan membawa bencana bagi peradaban kita. Perlu kearifan untuk tetap bijak berdiri ditengah gelombang informasi yang menjadi kehendak jaman (globalisasi).

Kesadaran dalam pemahaman jati diri kita yang berbudaya Pancasila, otomatis akan menjadi filter (penyaring) tersendiri bagi kita dalam mengekpresikan kehendak kita. Persatuan adalah kata kuncinya. Saling menjaga, hormat-menghormati dan memelihara semangat persaudaraan sebagai saudara sebangsa dan setanah air akan menjadi bagian dari jati diri kita.

Baca Juga :  Kita Butuh Capres yang Visioner

Generasi muda sebagai penerus tongkat estafet kepemimpinan bangsa harus mendapatkan perhatian lebih. Penting untuk menguatkan dan memperkenalkan ulang dasar-dasar Pancasila dan untuk menarik minat para generasi muda terhadap Pancasila. Pancasila sudah teruji melintasi setiap jaman dalam setiap jaman peralihan. Kebanggaan terhadap jati diri Pancasila yang tiada duanya—dan satu-satunya di dunia—inilah yang harus terus di gelorakan.

Kerapuhan pembangunan tanpa didasari fondasi yang benar, hanya akan membawa pencapaian semu. Pancasila yang selama ini terpinggirkan dan hanya dianggap pemanis bibir (slogan) sudah selayak dikembalikan ketempatnya (revitalisasi). Memasyarakatkan kembali Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara kita dalam momen hari lahir Pancasila adalah sebuah keharusan (sense of urgency).

Mari kita lihat kembali dunia pendidikan yang mulai sepi dengan pendidikan kewarga-negaraan yang menempatkan Pancasila sebagai ideologi pemersatu kita selama ini. Kita harus move on (bergerak). Menatap kedepan dan tidak berpikir mundur membahas hal-hal yang sudah bersifat final (ahistoris). Sudah saatnya energi bangsa ini digunakan untuk hal-hal yang produktif mengejar cita-cita kita yang terbengkalai.

Kita (silent mayority) merindukan tegaknya Negara Pancasila. Keteladanan dalam mengejahwantakan adalah oase bagi kepemimpinan nasional dewasa ini. Sampai pada akhirnya kita bisa berkata seperti yang dikampanyekan pemerintah kita hari ini dalam Pekan Pancasila “Saya Indonesia, Saya Pancasila”.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here