Memotivasi Pegawai Menerapkan Birokrasi yang Good Governance

0
168
Khairul Ikhsan

Oleh: Khairu Ikhsan
Mahasiswa, IlmuAdministrasi Negara, FISIP, UMRAH

Apabila berbicara mengenai motivasi, maka akan selalu kita hubungkan dengan setiap kegiatan yang dilakukan oleh seseorang yang tidak terlepas dari daya dorong dan sikap yang membuat seseorang itu melakukan suatu kegiatan. Khususnya pada suatu organisasi formal, motivasi merupakan pekerjaan seorang pimpinan untuk membuat bawahannya melakukan apa yang harus mereka lakukan. Salah satu yang menjadi fungsi pimpinan terhadap aspek pentingnya motivasi pegawai menjadi porsi yang sangat diperhitungkan.

Dalam perbendaharaan kata, motivasi itu sendiri berasal dari bahasa latin yaitu movere yang berarti dorongan dan atau menggerakan. Akan tetapi diantara para ahli psikologi, ahli manajemen dan ilmuan sosial lainnya belum menemukan kesepakatan yang pasti tentang pengertian motivasi. Pendekatan intelektual tersebut pada umumnya berkisar pada “Apakah motivasi hanya berasal dari dalam diri seseorang atau semata-mata karena pengaruh eksternal, ataukah ada konsidensi dan kesepakatan pengaruh diantara keduanya?”

Dapat kita ketahui bersama kemampuan untuk menyatukan aspek-aspek manusia menjadi kesulitan tersendiri dalam suatu organisasi dan seorang pimpinan tentu harus dapat membuat bawahan agar mempunyai motivasi yang tinggi untuk bekerja demi mencapai tujuan dari suatu organisasi. Pimpinan dapat memotivasi bawahan dengan berbagai macam cara diantaranya. Menginspirasi, yaitu dengan menusukkan dan menanamkan semangat kesediaan seseorang untuk berbuat efektif dimana orang tersebut di inspirasi melalui kepribadian pemimpin, keteladannya, karismatiknya dan pekerjaan yang dilakukannya.

Berikutnya mendorong, yaitu dengan merangsang seseorang untuk melakukan apa yang harus dilakukan melalui sanjungan, pujian, persetujuan dan bantuan. Lalu yang terakhir, mendesak, yaitu membuat seseorang merasa harus melakukan apa yang harus dilakukan dengan cara yang perlu, termasuk paksaan, ketegasan dan ancaman.

Mengingat peran, fungsi maupun posisi pegawai dalam rangka membangun produkstivitas, efisiensi dan efektivitas untuk mencapai kinerja yang baik, maka program motivasi memiliki peran sebagai bagian integral. Persoalan motivasi dalam birokrasi yang good governance perlu kita garap dengan serius, oleh karena itu ranah motivasi dalam birokrasi yang good governance harus disusun secara jelas dan terprogram. Apabila program motivasi disampaikan secara adil, maka otomatis merupakan energi baru yang memberikan daya gerak atau karsa pegawai semakin tinggi.

Semangat yang demikian ini tentu diperlukan supaya semua tugas pokok dan fungsi dapat dilaksanakan disamping pemenuhan kebutuhan internal pegawai yang tidak terpuaskan. Dengan demikian ada hubungan resiprokal antara lembaga dengan cara pegawainya yang dapat berlangsung seimbang. Pentingnya nilai keseimbangan relasi tersebut agar semakin tinggi, terlebih-lebih karena birokrasi pemerintah bergerak di bidang pelayanan masyarakat.

Diskursus tentang pelayanan, bagaimanapun hal itu tidak dapat mengesampingkan figure dari pelayannya itu sendiri. Berbicara hal pelayanan public yang kebanyakan di Negara Indonesia dewasa ini masih dilakukan oleh pemerintah, maka figure dari pelayan tersebut adalah aparatur sipil negara (ASN) dan atau sering kita sebut Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dapat dikatakan bahwa pelayanan public yang dilakukan masih menjadi monopoli pemerintah, hal tersebut dapat mengakibatkan pelayanan yang diberikan belum juga memuaskan bahkan bisa dikatakan tidak ada kemajuan yang berarti dalam hal kualitas pelayanan dari tahun ke tahun.

Bila kita melihat kondisi pegawai negeri dewasa ini maka kita perlu melihat motivasi kerja mereka. Sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, motivasi merupakan penggerak bagi seseorang supaya berusaha mencapai tujuan organisasi secara optimal. Namun apabila motivasi itu kita kaitkan dengan rasa cemas atas kegagalan ternyata menunjukkan hasil yang negative. Hal ini berarti bahwa meskipun motif prestasi pegawai negeri tergolong tinggi namun dikarenakan ada rasa cemas atas kegagalan yang cukup tinggi maka tidak akan tercapailah upaya peningkatan prestasi kerja.

Misalkan kondisi lingkungan kerja yang tidak kondusif untuk membangkitkan motif prestasi pegawai. Rasa cemas terhadap kegagalan juga sangat erat kaitannya dengan balas jasa dan bentuk gaji namun yang juga tidak kalah pentingnya lagi adalah adanya penghargaan yang sifatnya bukan uang seperti kenaikan pangkat dan jenjan karier yang pasti melalui kompetisi yang sehat.

Akan tetapi jika kita melihat kondisi yang ada di lapangan sekarang ini belum mendukung peningkatan prestasi pegawai negeri secara signifikan. Sistem penilaian, kenaikan pangkat serta jenjang karir belum menunjukkan tingkat kompetisi yang sesungguhnya. Istilah mekanisme “tangga berjalan” untuk menggambarkan sistem penilaian, kenaikan pangkat serta jenjang karir masih tetap berlaku. Sebagaimana layaknya tangga berjalan, jika kita berdiri tanpa berbuat apapun di ujung tangga maka kita akan sampai pada puncak tangga pada waktunya. Justru hal ini dapat mengakibatkan prestasi pegawai negeri pada akhirnya hanya berjalan di tempat sehingga tidak dapat kita temukan perbedaan antara pegawai yang bekerja dengan giat dan serius dengan pegawai yang bekerja semaunya bahkan cenderung suka-suka.

Hal yang perlu kita lakukan untuk mengatasi situasi seperti ini adalah dengan melakukan perubahan secara mendasar dalam hal pembinaan pegawai negeri. Upaya pembinaan yang saat ini mengarah pada carier service and merit system merupakan upaya yang tepat sehingga jenjang karir tidak lagi ditentukan secara ‘urut kacang’ tetapi betul-betul karena prestasi kerja dan kompetensi yang tertanam dalam setiap birokrat sehingga birokrasi tidak lagi dikonotasi sebagai cara kerja yang rutin, kaku dalam penerapan aturan, cenderung menunda pekerjan dan enggan memikul tanggung jawab. Prinsip-prinsip seperti “kalau dapat dipercepat mengapa diperlambat?” atau “kalau dapat dipermudah mengapa harus dipersulit?” mesti tertanam di setiap batin para pegawai.

Kiat-kiat lain yang bisa dilakukan dalam motivasi kerja pegawai adalah adanya upaya bagi pengembangan pegawai yang memiliki jiwa pelayan sejati dan kepekaan atau rasa empati tehadap permasalahan yang ada di masyarakat. Paradigma yang harus diwujudkan pemerintah yaitu konsep dilayani menjadi konsep melayani seharusnya tumbuh dalam mental dan jiwa aparatur sipil negara itu sendiri. Sikap sebagai pelayan sejati dan peka terhadap situasi yang berkembang dalam masyarakat seharunya dimiliki oleh setiap aparatur sipil Negara. Mereka diharapkan cepat tanggap terhadap segala aspirasi yang beredar dan berkembang di masyarakat sehingga berbekal model ini konsep birokrasi yang good governance dapat kita terapkan seoptimal mungkin. Kita harapkan begitu! ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here