Memperkokoh Toleransi Menjaga Kebhinekaan

0
696
Budi Sartono

Budi Sartono
Praktisi Pendidikan

Kondisi perpolitikan nasional saat ini bak panggung sandiwara pewayangan. Munculnya tokoh-tokoh yang saling lapor, saling kritik, saling cemooh, mengingatkan kita pada tokoh antagonis Durna dan Sengkuni, yang selalu hadir di setiap episode konflik.

Fitnah, hujat, intrik dan, adu domba, menjadi demikian dominan sebagai alat pemecah kerukunan, kesatuan dan persatuan bangsa. Media sosial pun menjadi wahana dan senjata yang sangat efektif bagi seseorang atau sekelompok orang untuk menebar kebencian kepada pihak lain. Hajat besar nasional pilkada serentak 15 Februari 2017 lalu seakan menjadi target utama mereka.

Kekuasaan yang seharusnya menjadi cara dan alat yang paling bermartabat bagi seorang pemimpin untuk membahagiakan rakyatnya, nampaknya hanya sebatas impian.

Isu SARA, senantiasa menjadi tema sentral dalam kancah perebutan pengaruh dan kekuasaan. Ironisnya, manuver politik dilakukan dengan sangat rapih yang dikemas dalam berbagai bingkai keyakinan, yang berpotensi mencerai beraikan persatuan dan kesatuan bangsa.

Bangsa ini sudah diambang perpecahan, jika kita semua tak segera menyadari kekhilafan di dalam menjaga kerukunan hidup antar umat beragama, berbangsa dan bernegara. Bayang-bayang kelam masa lalu kita terhadap ikon politik orde lama Nasakom (Nasionalis Agama Komunis) hadir kembali setelah melihat situasi politik seperti sekarang ini. Isu Nasakom secara perlahan diangkat ke permukaan untuk kepentingan-kepentingan politik “Devide Et Impera, politik memecah belah.

Sifat dan sikap kenegarawanan para pemimpin negeri ini sedang diuji. Sifat saling menghargai, tenggang rasa, toleransi di antara sesama, saat ini menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk kita temukan lagi. Intoleransi marak dan berkembang di mana-mana. Semua pihak merasa paling benar dan paling berhak atas negeri ini.

Keberagaman, kebhinekaan, tak dipedulikan lagi. Semua lupa, bahwa kemerdekaan negeri ini bisa kita raih dan kita genggam karena adanya kebhinekaan. Perbedaan suku, agama, ras dan aliran, seharusnya menjadi perekat persatuan dan kesatuan, bukan alat untuk memecah belah, dan saling menjatuhkan.

Kelompok mayoritas dan dominan cenderung ingin menuntut lebih. Empat pilar kebangsaan negeri ini : UUD 45, Pancasila, NKRI, Bhineka Tunggal Ika sedang dalam ancaman serius. Berita bohong, berita “Hoax”, ujaran-ujaran kebencian melalui media sosial, dengan muatan SARA dan pencemaran nama baik, merebak ke mana-mana.

Keinginan dan nafsu untuk memaksakan kehendak satu terhadap yang lain nampak semakin kental. Agama, sebagai sesuatu yang sakral dalam peri kehidupan manusia, berpotensi tergegradasi oleh perilaku-perilaku politik tak terpuji segelintir orang atau kelompok.. Toleransi sebagai kata kunci untuk kita bisa hidup berdampingan secara damai, rukun dan saling menghargai, semakin jauh dari harapan.

Kehidupan masyarakat menjadi terbelah, terkotak-kotak dalam sekat-sekat kehidupan karena perbedaan pendapat dan pandangan politik.. Tak ada ruang lagi bagi kita untuk saling memahami. Toleransi indah hanya sebatas wacana dan retorika.

Dalam teori humanisme, toleransi senantiasa memberi ruang bagi yang lain untuk hadir dengan segala batas-batasnya. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary oleh AS Hornby, toleransi, “Tolerance”, didefinisikan dan dimaknai sebagai. “Quality of tolerating opinions, beliefs, customs, behavior etc. different from one’s own, atau, “Allow or endure without protest”.

Kebersediaan untuk menerima suatu perbedaan dengan ketulusan. Toleransi dalam opini, pendapat atau pandangan, dalam konteks keyakinan atau kepercayaan, adat isitiadat atau kebiasaan, tidak akan menimbulkan gesekan dan benturan manakala senantiasa disampaikan secara santun serta saling menghormati.

Di negara dengan beragam suku, agama, keyakinan dan bahasa ini, toleransi mutlak ada dan tidak bisa dinihilkan oleh siapapun atau kelompok manapun. Hegemoni atau pemaksaan kehendak satu kelompok terhadap yang lain, adalah sikap dan perilaku yang jauh dari nilai-nilai toleransi. Kebhinekaan dan keberagaman bangsa ini harus selalu dijaga dan dipelihara dengan Platform yang sama, yakni toleransi dan tenggang rasa.

Perbedaan suku, agama, ras, dan aliran, jika selama masih dalam kerangka kebangsaan, justru akan menjadi pengikat persatuan dan kesatuan bangsa ini. Semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, akan senantiasa hidup dan menyala di dada anak bangsa ini jika didasari oleh satu pemahaman yang sama akan makna toleransi.

Di era keperkasaan dan totalitas kekuatan media saat ini, ancaman besar sudah di depan mata apabila kita tak pandai-pandai mengelola toleransi, tenggangrasa, dan saling menghormati.

Peristiwa politik hanya sesaat dan momental sifatnya. Perebutan pengaruh dan kekuasaan dengan mengorbankan keberagaman dan perbedaan, merupakan tindakan pemimpin yang jauh dari sifat dan sikap kenegarawanan. Rakyat jangan dijadikan kelinci percobaan untuk menggapai suatu tujuan politik yang sangat sempit dan dngkal, jauh dari nilai-nilai kebangsaan.

Bangsa yang sudah kokoh dan menyatu ini, yang penuh dengan keberagaman, jangan dikorbankan hanya untuk dan demi kepentingan politik sesaat.. Mempertaruhkan keutuhan bangsa demi tujuan jangka pendek adalah perbuatan amoral dan tak berkeadaban.

Dan ironisnya, justru yang seperti ini yang sekarang banyak bercokol di sekitar kehidupan kita. Toleransi bisa menjadi ukuran dan indikator akan sifat kenegarawanan seorang pemimpin. Dan ini yang sudah sangat sulit ditemukan lagi di negeri ini. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here