Menanti Bidari

0
268
CINDAI - Bidari Rehelina

ESOK, hujan turun. Siapkan dirimu, Bidari. Tidak ada siapa pun di sana, kecuali dirimu sendiri. Bersedia tentu boleh, takut jangan. Sungguh air dari langit itu membawa segala. Berkah iya, kenangan juga. Siapkan dirimu untuk keduanya. Maka, air mata bisa punya makna ganda.

Jika hendak menangis, kata orang-orang bijak itu, menangislah di tengah rinai hujan. Ia akan mengaburkan batas tipis antara duka dan suka. Setelahnya, engkau bisa menulis puisi. Tentang apa saja yang kausuka.

Tapi ingat, ada banyak hal di luar sana ketika kau sedang bermain dengan segala yang dibawa hujan. Mungkin, rindu. Rasa semacam ini amat mudah bergelayut ketika bumi menguarkan aroma khas ketika hujan tiba. Nun, di seberang sana, Bidari, barangkali ada yang diam-diam menanti. Tanpa kata. Kepada hujan menitip segala rasa.

“Ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu hela napas. Mereka senang sekaligus cemas menunggu hari esok. Benarkah?” tanyamu.

Bisa jadi, Bidari. Mungkin saja. Seperti bumi dan langit yang setia menjaga titik temu. Jarak berupa kolong yang kita tinggali ini ruang tatap keduanya. Pada masa yang paling tepat, lewat mendung sekelabat, dan petir berkilat-kilat, rindu itu usai pada titik temu. Menjelma hujan agar mengerti rindu. Dalam diam sebenarnya ada yang menanti dirimu.***

Nama : Bidari Rehelina
TTL : Batam, 4 Desember 1997
Alamat : Jalan Istana Laut, Penyengat
Pekerjaan : Karyawati Swasta
Hobby : Membaca
Instagram : bidarirehelinaa
Buku Bacaan : Novel Hujan Karya Tere Liye

Foto : Nurfatilla
Narasi : Fatih Muftih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here