Mencari Alasan oleh Exist

0
176

JIKA harus menyebut tokoh paling inspiratif bulan ini, satu dan tidak lain bukan adalah Edy Rahmayadi. Gubernur Sumatra Utara cum Ketua Umum PSSI cum Pemilik PSMS Medan ini mengajarkan pada kita tentang keberanian. Berani untuk tegas sekalipun di depan kamera. Tidak perlu banyak cingcong, apalagi pencitraan. Manusia semstinya tidak butuh itu. Kalau tidak suka, ya tinggal bilang. Kalau cinta, ya tinggal katakan. Jangan kalau tak suka lantas mencari-cari alasan yang manis di bibir … memutar kata … malah kau tuduh akulah segala penyebabnya.

Ini memang sudah lama menjadi penyakit laten pejabat kita hari ini. Ketika kamera sedang terarah padanya, segala kalimat yang terucap serba manis, serba luar biasa. Seolah-olah, mereka adalah sosok paling mumpuni dalam segala bidang yang ditanyakan. Memang di sisi lain, masih ada karena ketakcakapan wartawan dalam menyusun pertanyaan, tetapi yang lebih sering terjadi adalah karena hasrat ingin dikenal paling bisa yang membuat pejabat selaku narasumber ingin menjawab semuanya. Mereka berharap, dari ucapannya masyarakat akan semakin percaya akan kapasitasnya. Padahal, siapa terlena pasti ‘kan terpana … bujuknya … rayunya … suaranya … yang menyimpang simpati dan harapan.

Maka dari itu, beri aplaus tinggi-tinggi kepada Edy Rahmayadi yang berani lantang menentang wartawan dengan hardikan: apa urusan ada menanyakan itu?. Lugas. Antimultitafsir. Terserah orang lain mau berkata apa, bagi Edy, bukan urusan wartawan untuk bertanya padanya.

Di Tanjungpinang, saya belum melihat ada sosok yang seberani Edy Rahmayadi. Pertanyaan dari wartawan dirasanya sebagai panggung mencari simpati publik. Kemudian yang tercetak di koran bukan memberikan jawaban malah terlihat seperti parade ketololan. Saran saya, jika tak menguasai konteks pertanyaan yang diajukan, baiknya mengaku tak tahu atau sadar kapasitas. Bukan malah mencari sebab … serta mencari alasan … supaya tercapai hasratmu.

Hal-hal semacam ini biasanya terjadi di kalangan anggota legislatif. Beradasarkan pengalaman lebih dari setahun meliput di area Tanjungpinang, saya kemudian mengelompokkan mereka berdasarkan kapabilitasnya dalam melayani wartawan dalam tiga golongan.

Pertama, adalah mereka yang punya kapasitas dan mampu menjawab pertanyaan secara sistematis dan terstruktur. Walau memang masih ada hasrat pencitraan yang dikedepankan, itu bukan persoalan. Asal, jawaban yang diberikan memberikan kepuasan bagi wartawan dan menjawab persoalan bagi masyarakat. Sayangnya, di Senggarang tidak banyak orang yang bisa dimasukkan dalam golongan ini.

Kedua, adalah mereka yang ditanya apa dan menjawab apa. Setiap wartawan yang bertanya, akan selalu diiyakan dan dijawab. Semua pertanyaan. Seolah-olah mereka tergabung dalam komisi serba-tahu. Mereka akan menjawab semua pertanyaan tanpa sekali pun peduli kontekstual dan koherensi antara permasalahan dan jalan keluar. Cas-cis-cus berpanjang-lebar tapi tak satu poin pun bisa ditangkap. Golongan ini jumlahnya lumayan banyak dan biasanya menjadi idola sebagian wartawan yang setiap jelang jam deadline kekurangan stok berita.

Golongan ketiga, adalah mereka yang ada tapi tidak ada. Namanya termasuk dalam susunan anggota legislatif untuk lima tahun tetapi ketika disodori pertanyaan selalu memeragakan kelihaian ulung Luka Modric: mengoper bola kepada pemain lain. Biasanya terbungkus dalam kalimat: “coba saja tanya si A,” atau “wah itu si B lebih tahu, sama dia saja,” sampai “maaf saya harus buru-buru.” Sehingga tak heran selama lima tahun menjawab, masyarakat tidak pernah melihat kontribusinya paling nyata selain wajahnya yang dipampang di baliho di tepi jalan.

Pembagian golongan ini bisa jadi panduan bagi wartawan lain sebelum melakukan peliputan ke Senggarang. Sehingga mereka bisa tangkas dalam memilih narasumber dan bukan malah menjajakan pencitraan yang pada bulan-bulan ini semakin terlihat amat beringas. Lalu yang tidak kalah penting, setiap wartawan yang akan pergi meliput juga harus menyiapkan diri dengan pemahaman terbaik.

Kalau narasumber bisa terlihat tolol dari jawaban yang disampaikan. Pun wartawan, akan terlihat ketakcakapannya dari pertanyaan yang diajukan. Tidak ada solusi paling jitu bagi wartawan selain memperbanyak bacaannya. Tanpa kecakapan teknis semacam ini, wartawan harus bisa legawa jikalau narasumbernya berpaling muka bila saling bertatap mata … berlalu pergi dengan kelukaan ini … dan tidak ada yang bisa dilakukan selain kumengalah … kubersabar ….

Karena itu, menuju pemilihan umum tahun depan untuk mengocok kembali komposisi anggota legislatif, sudah menjadi tugas kita bersama untuk mengurangi pertambahan populasi golongan dua dan ketiga. Tugas kita menjadi semakin lebih berat lantaran di dua golongan ini banyak petahana yang rasa-rasanya dari kalkulasi kasar punya peluang besar kembali duduk di Senggarang. Jangan lagi mau tertipu janji-janji manis yang selalu digaungkan tapi nihil bukti. Satu periode yang keliru sudah cukup. Biarkan saja mencari pekerjaan lain yang lebih cocok dan berguna buat hajat orang banyak. Kepada mereka, katakan apa yang kau ingin … selagi kau dapat berkata … memang begini sikapmu semenjak dahulu.

Dengan begitu, selama lima tahun ke depan, engkau pastinya tersenyum.***

OLEH: FATIH MUFTIH
Sayap Kiri Jembia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here