Mencari Pemimpin Pemersatu

0
171
DRS.Nazaruddin,MH

Oleh: Nazaruddin
Dosen STAI Miftahul Ulum, Tanjungpinang
Ketua Koperasi Cendikia Cemerlang Negeri ORDA ICMI Tanjungpinang

Indonesia sebagai bangsa yang giat berpolitik menjadikan 2018 tahun politik, dan 2019 sebagai puncaknya, tepatnya tanggal 17 April 2019. Mungkin saja kita tengah giat mengekspresikan diri sebagai makhluk politik, sebagaimana kata Ariestoteles bahwa manusia adalah zoon politicon. Namun, suhu politik sudah sudah mulai memanas diawal 2018 yang lalu. Dalam system demokrasi, perbedaan adalah sebuah keniscayaan dan tidak ada yang salah dengan itu. Perbedaan itulah yang merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang apabila dapat dikelola dengan baik akan menjadi pendorong bagi peradaban bangsa Indonesia.

Demokrasi menghendaki adanya kompetisi politik yang berasaskan kejujuran dan tanggungjawab, ajaran rasi sepertinya sebatas normatif, sedangkan praktiknya jauh panggang dari api. Pemilihan umum (pemilu), baik ditingkat kabupaten / kota, provinsi, maupun tingkat nasional, sepatutnya dilihat sebagai cara untuk menggapai kekuasaan yang berorientasi pada unity diversity, kebinekaan dalam kesatuan, sehingga pembangunan haruslah menyentuh dan berdampak positif bagi kemakmuran dan kesejahteraan seluruh elemen anak bangsa Indonesia. Dengan demikian, tidak ada rakyat yang hanya sebagai penonton dalam pesta demokrasi. Semua elemen anak bangsa haruslah menjadi peserta aktif dalam demokrasi, baik dalam soal memilih ataupun dipilih.

Sayangnya kita masih sering gagal mengelola perbedaan dalam berdemokrasi ini, dan malah cendrung memainkan sentiment agama, suku, ras dan etensitas untuk memenangkan hawa nafsunya untuk meraih kekuasaan dalam konteslasi pemilahan umum (pemilu) 1 tahun sekali. Dampak dari akibat itu, kita meletakkan bangsa Indonesia yang begitu bhineka dalam segala hal ini, dalam sebuah kotak yang bersekat-sekat, kita mengkotak-kotakan suku, ras, agama budaya tertentu yang dianggap layak ataupun tidak layak untuk ikut andil berpartisipasi dalam pembangunan bangsa ini.

Soal agama dan etnis acapkali dijadikan senjata ampuh untuk menjatuhkan lawan-lawan politik untuk meraup keuntungan dan simpati sensitive kebangsaan, tentu penggunaan simbol agama dan suku sebagai latar belakang menolak seseorang bukanlah pertimbangan yang tepat. Apalagi jika mengingat Negara ini didirikan dari berbagai macam perbedaan, namun para pendiri bangsa (the founding fathers), snagatlah yakin bahwa hanya semangat persatuan dan kesatuan yang dapat menjembatani berbagai macam perbedaan yang ada tersebut.

Karena itu janganlah bangsa ini kembali terkotak-kotak dalam persoalan agama dan suku di dalam demokrasinya, malahan haruslah lebur dalam suatu nasionalisme, patriotism yang sama untuk berjuang demi mengentaskan musuh bersama. Seperti korupsi, kolusi, nepotisme, kemiskinan, kebodohan, pelanggaran hokum dan hak asasi manusia, narkoba, prostitusi, gaya hidup mewah yang berlebihan, krisis moral, dan isu-isu social yang madaratnya dirasakan oleh semua rakyat dan bangsanya.

Untuk dapat mencapai hal ini , rakyat Indonesia dididik untuk tidak bermain-main apalagi menggunakan agama didalam politik. Di butuhkan tokoh-tokoh agama yang bisa menyejukkan nurani sehingga ketika ada percikan konflik-konflik justru menjadi pemadam konflik dan bukan pemantik masalah. Juga, dibutuhkan tokoh-tokoh politik yang punya akal sehat, nurani dan prinsip yang teguh dalam soal nasionalisme bangsa. Singkatnya, kita perlu tokoh-tokoh bangsa yang berwatak pemersatu, bersemangat dalam mencapai kemakmuran bersama, dan tidak lupa akan cita-cita para pendiri bangsa ini.

Pemimpin yang taat hukum, yang pasti kita membutuhkan pemimpin yang berkompeten, berkepemimpinan baik, serta taat pada hukum. Apabila suatu negara dipimpin orang yang baik, maka dapat dipastikan hukum akan berjalan dengan baik pula. Sebab, jika pemimpin kita takluk pada hukum, maka ia akan berusaha semaksimal mungkin menjalankan kebijakan demi tegaknya hokum. Aristoteles mengatakan “pemimpin yang baik adalah pemimpin yang adil, tegas, bijak serta takluk pada hukum yang berlaku. Dengan demikian, negara akan mudah untuk suatu kemajuan”.

Dari perkataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pemimpin harus menaati hukum dan begitu, pemimpin akan lebih mudah mencapai tujuan negara. Pemimpin merupakan sosok yang menjadi teladan bagi orang yang dipimpin. Seorang pemimpin harus selalu berbuat kebajikan karena hal itu sangat berpengaruh terhadap rakyat. Apabila pemimpin selalu taat terhadap hukum yang berlaku, maka rakyatpun akan demikian. Dengan demikian, tidak aka nada masyarakat yang melakukan pelanggaran.

Namun, terlepas dari semua itu, kita jangan hanya mengandalkan kinerja dari pemerintah. Sebab, segala sesuatu akan sulit dicapai jika hanya dilakukan satu elemen. Harus ada kerjasama dan saling sinergi antara rakyat dan pemimpin. Sehingga akan terwujud hubungan yang harmonis, baik masyarakat dengan masyarakat, maupun masyarakat dengan pemerintah. Mulai saat ini, kita harus menghidupkan kembali persaudaraan kita terhadap sesama umat dan bangsa. Selain itu, kita juga harus meningkatkan sikap toleransi, baik terhadap suku, ras, agama dan budaya. Hilangkan rasa benci, permusuhan diantara kita. Sehingga nilai persatuan dan kesatuan akan semakin kokoh dan kuat. Yang paling penting, pemimpin harus benar-benar serius, konsisten, serta bertanggungjawab dalam menjalankan tugasnya. Sebab pemimpinlah yang menjadi pemeran utama dalam mewujudkan ketertiban serta keamanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bangsa kita didirikan dalam sebuah kondisi yang memprihatinkan, namun beruntung memiliki pemimpin dan tokoh-tokoh cerdas dan berjiwa patriot dan berlapang dada dalam menyikapi perbedaan yang ada, sehingga dapat diteladani generasi berikutnya. Saat ini banga kita dalam kondisi jauh lebih baik. Semoga saja, sistem demokrasi yang kita pilih dapat menghasilkan pemimpin-pemimpin yang mampu menjadi pemersatu bangsa yang majemuk ini yang syarat dengan berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan, serta menghasilkan wakil rakyat yang lebih baik dan peduli dengan masyarakatnya, rakyat yang cerdas dalam memilih kinerja, bukan malah mempermasalahkan soal suku, ras, agama, namun semua itu kita butuh pemimpin pemersatu bngsa ini, rakyat dan anak bangsa yang berjiwa Pancasila yang mampu merangkul semua dan mengingat bahwa yang berbeda dengannya adalah saudara sebangsa.

Semoga bermanfaat … ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here