Mencari Penantang Walikota Lis Darmansyah

0
1393
Raja Dachroni

Oleh: Raja Dachroni
Direktur Gurindam Research Centre (GRC)

Melihat cuitan status media sosial tim yang selama ini loyal kepada Walikota Lis Darmansyah dapat dipastikan Walikota Tanjungpinang Lis Darmansyah dipastikan akan maju kembali pada Pilkada Tanjungpinang yang bakal diselenggarakan sekitar bulan Juni atau September 2018 mendatang. Artinya ada calon petahan dan dengan sumberdaya yang dimiliki calon petahan agak berat bagi calon lainnya untuk bersaing, sehingga wajar kemudian kita bertanya siapa calon penantangnya?

Beberapa nama sempat muncul ke muka sebut saja Wakil Walikota Tanjungpinang saat ini H. Syahrul dan beberapa politisi dari lintas partai politik. Sebut saja Golkar yang mewacanakan Dewi Ansar, Ade Angga, Teddy Jun Askara dan bahkan Ketua DPD Golkar Kepri Ansar Ahmad juga sempat mengemuka. Partai Demokrat juga sempat meluncurkan nama anggota legislatifnya di DPRD Kota seperti Peppy Chandra dan Maskur Tilawahyu serta calon eksternal Wakil Walikota Tanjungpinang H. Syahrul.

Partai lainnya tidak juga mau kalah untuk melemparkan tawaran kadernya. Gerindra menggadang-gadangkan Ketua DPC Gerindra Tanjungpinang Endang Abdullah dan bahkan nama Ilimar aleg DPRD Tanjungpinang juga digadang-gadang untuk maju pada Pilkada Tanjungpinang.

Sementara partai politik berbasis agama, PKS juga punya empat calon yang lolos penjaringan sebut saja Alfin Ketua DPD PKS Tanjungpinang, Ismiyati Anggota DPRD Tanjungpinang, Ing Iskandarsyah dan Hanafi Ekra yang juga merupakan anggota DPRD Kepulauan Riau. Muncul juga sejumlah nama calon independent. Pertanyaannya, sejauh mana keseriusan, popularitas dan elektabilitas politisi yang namanya bermunculan saat ini? Apakah bisa menyaingi calon petahan atau malah sebaliknya.

Mengukur Kepuasan Masyarakat
Nama-nama yang sudah bermunculan itu harus menyadari benar jika memang ingin menjadi penantang Walikota Lis Darmansyah pada Pilwako mendatang. Paling tidak, mereka harus tahu terlebih dahulu bagaimana tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpin Lis Darmansyah dan pasangannya saat ini H. Syahrul yang keberadannya masih teka-teki apa masih berduet kembali atau tidak.

Baca Juga :  Waspadai Isu Pemindahan Ibukota Bisa Jadi Upaya Pengalihan Isu

Suka atau tidak ini hal yang pertama sekali harus diketahui kalau masyarakat masih puas dengan kinerja Walikota Lis Darmansyah tentu tidak mudah menyainginya kalau tidak ada hal-sal yang sifatnya personal tentu ada peluang bagi politisi lainnya untuk bersaing dalam Pilwako Tanjungpinang mendatang sembari melihat tingkat elektabilitasnya. Hal yang kedua juga bisa juga melihat bagaimana perilaku pemilih di Tanjungpinang apakah cenderung status quo atau menginginkan perubahan atau perbaikan terhadap bagian-bagian yang selama ini belum tersentuh oleh Walikota Lis Darmansyah untuk diperbaiki.

Studi prilaku pemilih atau survey prilaku pemilih harus dilakukan. Sehingga, keputusan maju atau tidaknya nama-nama yang sudah bermunculan tidak hanya modal semangat tapi bisa lebih realistis. Jika selisih surveynya baik tingkat popularitas maupun elektabilitas (tingkat keterpilihan) dibawah lima persen artinya peluang untuk menyaingi Walikota Lis Darmansyah tentu ada. Hanya saja, jika diatas itu tentunya tidak mudah melawan atau menjadi penantang Lis Darmansyah.

Ini bisa terlihat dari fenomena persaingan politik di Pilkada Batam pada 2011 atau 2016. Tahun 2011 misalnya persaingan antara Ahmad Dahlan – Rudy dan Ria Saptarika – Zainal Abidin. Saat itu, selisih tingkat popularitas dan elektabilitas tidak begitu jauh diantara jarak 3-5 persen. Ahmad Dahlan adalah Walikota yang memilih bertarung untuk periode kedua, sementara Ria Saptarika adalah Wakil Walikota yang juga memutuskan juga ikut bersaing. Disamping mereka ada tiga pasangan calon yang juga tidak memiliki suara yang maksimal. Wakil Walikota Tanjungpinang H. Syahrul mungkin bisa mengambil pelajaran dari sini.

Baca Juga :  Kendalikan Inflasi untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Kepri

Pilgub Kepri, Pilkada Jakarta dan Kekuatan PDIP
Kendati penilaian masyarakat terhadap partai politik cenderung negatif karena relatif banyaknya para kader yang menjabat di jabatan publik tertentu terindikasi korupsi, namun tidak bisa dipungkiri partai merupakan elemen terpenting dan memiliki pengaruh besar dalam setiap Pilkada. Walaupun besarnya partai politik dan besarnya koalisi partai politik belum tentu memberikan kemenangan kepada calon yang diusungnya. Tidak berbanding lurus. Bicara Pilkada tentu identik juga dengan figur, mesin parpol dan popularitas figur calon dua-duanya punya peran yang sangat penting. Sesuai situasi dan kondisi politik yang ada serta prilaku pemilihnya.

Terbukti pada Pilkada Kepri yang lalu PDIP mengusung Soeryo – Ansar Ahmad (SAH) dengan koalisi partai politik yang memiliki jumlah kursi yang dominan juga berhasil dikalahkan dengan pasangan Almarhum Sani – Nurdin (Sanur).

Kekalahan PDIP di lumbung suaranya Tanjungpinang pada Pilkada Kepri Rabu 9 Desember 2015 lalu, tentunya menjadi indikator tersendiri dan signal bahwa kesolidan partai ini dan kepemimpinannya walikotanya mulai tidak mendapatkan kepercayaan publik. Ada semacam kekecewaan dan ketidakmampuan untuk meyakinkan publik walaupun mungkin sudah banyak hal yang dibuat tapi ternyata belum mampu mengena di hati pemilih Tanjungpinang.

Kita juga bisa melihat nanti bagaimana Pilkada Jakarta jika pasangan yang diusung PDI-P yang memiliki kursi terbanyak bisa memenangkan Ahok – Djarot tentu mesin PDI P mungkin teruji kesolidannya hanya saja sebaliknya jika tidak sadar atau tidak secara psikologis ini bisa menjadi tanda-tanda bagi PDIP untuk berpikir kembali dan bahan evaluasi. Sedikit banyak ini akan berpengaruh pada Pilkada di daerah lainnya termasuk Tanjungpinang.

Baca Juga :  Penganggur Kepri Menurun, Apakah Berkualitas?

Dari sekian banyak partai politik yang ada hanya PDI P yang bisa mencalonkan sendiri pasangan calon yang akan diusungnya. Ini membuat PDI P tidak perlu risau dan bisa lebih bebas dalam melakukan manuver-manuver politiknya.

Kendati PDI P juga membuka pendaftaran calon walikota dan wakil walikota bisa diyakini ini merupakan bagian dari basa-basi politik. PDI P juga tidak bisa jemawa dalam hal ini karena Pilkada serentak 2017 yang lalu PDIP kalah di 44 daerah dari 101 Pilkada.

Padahal, PDIP adalah partai pemenang Pileg 2014 lalu dan yang paling telak adalah Pilkada Banten dimana Rano Karno yang sempat memimpin Gubernur Banten menggantikan Atut justru kalah.

Bisa jadi ini bukan karena figur yang diusung oleh PDIP, tetapi ini efek dari kepemimpinan nasional Presiden Jokowi yang diusung PDIP yang belum memberikan efek apapun kecuali barang-barang kebutuhan pokok dan beragam tarif yang semakin naik.

Tentunya, Pilkada Tanjungpinang ini pertaruhan politik terakhir PDIP di Kepulauan Riau. Mesti punya kursi yang relatif banyak dan memiliki sejarah historis memenangkan setiap pertarungan Pileg dan berhasil di setiap mengusung pasangan calon tentu membuat partai berlambang banteng bermoncong putih ini tetap saja harus berhati-hati.

Pilkada kali ini sangat tergantung dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap PDIP dan pasangan calon yang diusungya. Nah, partai politik mana yang siap mengusung pasangan calon dan menantang Walikota Lis Darmansyah pada Pilkada Tanjungpinang 2018 mendatang. Kita tunggu saja. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here