Mencintai Profesi Guru

0
1532

(Sebuah Refleksi Sempena Hari Guru 2017)

Oleh: Artina Eka Desvita Siregar, S.Pd, Gr
Guru SDN 010 Kundur, Karimun Alumni Universitas Riau

Mengutip kalimat Imam Sufyan Ats-Tsauri, “Tak ada yang lebih agung di bawah derajat kenabian, selain belajar dan mengajarkan.” Artinya, ada dua komponen penting dalam kalimat tersebut yang menyebutkan tentang posisi menarik setelah kenabian yaitu belajar dan mengajar. Dua kegiatan yang posisinya sama-sama mulia. Dua kegiatan yang hendaknya selalu kita jadikan motivasi dalam hidup.

Gulo (2005) dalam bukunya Strategi Belajar Mengajar, mengatakan bahwa kegiatan belajar ialah kegiatan siswa dan mengajar adalah kegiatan guru.Sementara itu, Slameto (2003) dalam bukunyaBelajar dan Faktor Yang Mempengaruhinya, belajar adalah kegiatan untuk memperoleh ilmu dan mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam pembelajaran.

Secara umum, kita memaknai bahwa siswa harus banyak belajar dari guru dan guru harus senantiasa mengajar. Padahal sesungguhnya, bukan hanya siswa saja yang harus belajar. Jika kita korelasikan dengan konteks kehidupan yang sesungguhnya, maka kegiatan belajar dan mengajar ini sejatinya berjalan dua arah. Bukan hanya di lingkungan sekolah saja, tetapi juga di lingkungan sekitar.

Guru juga harus senantiasa belajar. Belajar menemukan cara terbaik dalam mengajar, belajar mencintai siswa sebagaimana mencintai anak sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihannya, belajar mencintai profesinya sebagai guru di sekolah dan di masyarakat umum.

Baca Juga :  Ibu dalam Paradigma Patriarki

Benar juga sebuah kalimat bijak bahwa guru yang berhenti belajar harus berhenti mengajar. Mengapa? Guru yang baik adalah guru yang senantiasa berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari ke hari. Apakah itu dalam hal cara mengajar kepada siswa, apakah itu sebagai teladan dalam sikap kepada siswa dan rekan guru, apakah itu sebagai guru yang pintar dan berprestasi, dan lain-lain. Ada target-target perbaikan yang ia buat secara pdibadi dan harus dicapai. Sehingga sekolah benar-benar menjadi tempat menuntut ilmu kehidupan yang sesungguhnya baik bagi siswa maupun guru.

Jika seorang guru mulai berhenti belajar karena mungkin ia mulai merasa bosan dengan profesinya, terlebih ketika ia hanya berorientasi pada materi pelajaran dan nilai siswa, saat itulah kejenuhan dalam menjalankan amanah besarnya mulai terkikis. Ia mulai datang terlambat ke sekolah, mulai cuek pada siswa yang memiliki daya tangkap yang lemah dan mulai bersikap kasar pada siswanya, juga mulai memikirkan dirinya sendiri. Tak peduli apakah kelas rekan guru lainnya kosong dan membuat siswa hanya bermain-main, tanpa inisiatif mengatasi keadaan sekolah. Tak peduli apakah siswanya telah belajar dengan baik dan benar di dalam kelasnya. Bahkan tak peduli apa alasan yang menyebabkan siswanya sering malas belajar dan tidak masuk sekolah. Orientasinya pun akhirnya berubah. Sehingga muncullah anggapan-anggapan bahwa anak A bodoh, anak B nakal dan anak C frontal. Meksipun usia siswa tersebut barangkali masih sangat dini.

Baca Juga :  Memaknai dan Menyikapi Pertumbuhan Ekonomi Kepri yang Menggeliat

Guru harus kembali mengingat betul di dalam memorinya, kenapa ia menjadi guru dan apa pentingnya menjadi guru.Jika ada diantara guru yang menjadi guru hanya terjebak sebatas pada kerjaan, atau memang sudah menjadi cita-citanya. Marilah sama-sama kita senantiasa meluruskan niat kita menjadi guru. Bayangkan hasil-hasil kerja yang indah, membanggakan dan memuaskan nantinya. Kelak, ketika kita sudah tua dan tak lagi menjadi guru di sekolah, sementara siswa kita masih ingat dan berkenan mengunjungi kita yang sudah sepuh, itu semua tak kan menjadi apa-apa. Bayangkan pula bagaimana nasib bangsa dan negara ini jika guru tidak menjalankan peran dengan sebaik-baiknya? Bagaimana pertanggungjawabannya kelak di akhirat kepada Sang Pencipta? Profesi menjadi guru ini bukan semata-mata profesi di dunia. Ialah ibadah yang akan menjadi amal jariyah kelak. Bak pepatah lama mengatakan, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Guru menjadi panutan, contoh dan yang ditiru.

Baca Juga :  Lumpuhnya Perekonomian di Indonesia

Di samping itu, guru juga menjadi motivator, sahabat dan orang tua bagi siswa di sekolah. Jadikanlah ia sebagai profesi yang dicintai. Profesi yang sangat disenangi. Profesi yang sangat dibanggakan. Profesi yang sangat dikasihi. Dialah guru yang senantiasa mengasihi dan menyayangi. Guru yang tak pernah bosan untuk menyemangati. “Ayo, Nak. Bangkit! Masa depan Indonesia ada di tangan kalian!” Katakan itu setiap hari pada siswa. Sembari menyemangati diri sendiri dengan mengatakan, “Aku adalah Guru. Pekerjaanku adalah ibadah. Profesiku mulia.” Terus afirmasikan kalimat-kalimat positif yang akan membangkitkan gairah belajar dan mengajar. Sehingga tidak ada lagi kata, aku lelah, aku bosan dan aku malas.

Profesi sebagai guru dilakukan dalam rangka menjalankan kewajibannya sebagai individu yang merasa memliki tanggungjawab akan masa depan bangsa ini. Dipundaknyalah tergenggam arah bangsa. Sempena hari guru tahun 2017 ini, marilah hendaknya kita sama-sama saling mendukung dan mengingati satu sama lain, agar menjadi guru yang lebih baik lagi ke depannya. Dicintai dan mencintai siswanya.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here