Mendobrak Kembali Diskriminasi Agama

0
3313
Zaharatul Aini

Oleh: Zaharatul Aini
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH

Diskriminasi agama berarti pembedaan perlakuan terhadap seseorang atau sekelompok tertentu karena agama mereka, dan karena apa yang mereka percaya atau tidak percaya.

Seseorang dapat mengalami diskriminasi agama karena mereka adalah pengikut agama yang berbeda. Berbeda dalam agama tertentu karena keyakinan agama mereka, karena praktik keagamaan mereka, dan juga karena aksi-aksi yang terinspirasi dari ajaran agama. Menurut pasal 1 ayat 3 Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Diskriminasi adalah “Setiap pembatasan, pelecehan, pengucilan yang langsung ataupun tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengutangan, penyimpangan, atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan Hak Asasi Manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya”.

Indonesia adalah negara yang memiliki banyak suku bangsa, bahasa, dan agama. Agama di antaranya ada Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu, yang berdasarkan pada falsafah Pancasila, dimana asas Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sila pertamanya. Hal ini jelas menunjukkan bahwa bangsa Indonesia harus menempatkan asas ketuhanan atau prinsip luhur keagamaan sebagai acuan dasar menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Hidup bersama dengan beragam perbedaan tentunya diperlukan integritas, solidaritas. Karena tanpa itu semua tentunya akan mengakibatkan konflik berkepanjangan. Konflik akan merusak hubungan sesama manusia serta akan menambah permasalahan di Indonesia, salah satunya akan memicu timbulnya konflik agama.

Meskipun memiliki keberagaman agama dengan segala aturan yang telah ditetapkan, diharapkan tidak memecah belah kehidupan bermasyarakat. Biasanya pertentangan agama itu timbul ketika mencampurkan urusan agama dengan hubungan sosial terhadap yang berbeda agama. Semua agama memiliki keyakinan masing-masing. Diskriminasi akan mengakibatkan keengganan dan sifat sensitif terhadap kelompok yang memiliki perbedaan dengan kelompoknya, hal tersebut akan menimbulkan dampak yang berkepanjangan sehingga menyebabakan pertikaian antar kelompok.

Baca Juga :  Sudah Dapat Hati, Malah Minta Jantung

Namun kenyataannya, keragaman beragama yang dijamin negara dan UUD kemudian justru banyak menjadi penyebab dari berbagai kasus kekerasan dan diskriminasi yang merenggut korban dan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Tentu tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kekerasan dan perilaku diskriminatif, namun penganutnya yang tidak secara mendalam dan menyeluruh mempelajari ajaran agama yang dianutnya kemudian terjebak dalam jeratan fanatisme agama.

Meski Indonesia telah 72 tahun merdeka dan era reformasi telah terlewati, tetapi tetap masih ada kasus-kasus diskriminasi terjadi, diskriminasi terjadi dilatarbelakangi oleh beberapa hal seperti agama, suku, budaya, gender, dan lainnya. Dari banyaknya kasus diskriminasi yang terjadi, diskriminasi paling sering terjadi yaitu diskriminasi agama. Contoh pada awal Februari 2018 terjadi kasus persekusi terhadap biksu Mulyanto Nurhalim dan pengikutnya di Desa Caringin Kecamatan Legok Kabupaten Tangerang. Kemudian terjadi serangan di Gereja St. Ludwina Desa Trihanggo Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman yang menyebabkan seorang pastor dan pengikutnya mengalami luka berat akibat sabetan senjata tajam. Kemudian terjadi dua serangan terhadap dua tokoh agama yaitu ulama tokoh NU dan pengasuh Pondok Pesantern Al-Hidayah Cicalengka Bandung, KH. Umar Basri dan Ulama sekaligus Pimpinan Pusat Persis, H.R. Prawoto. Prawoti dianiaya orang tak dikenal.

Kasus diskriminasi agama bukan hanya terjadi di lingkungan besar saja, namun juga terjadi di lingkungan kecil seperti lingkungan sekolah. Kasus diskriminasi agama yang sering terjadi di lingkungan sekolah seperti si A beragama budha bersekolah di SMA dengan mayoritas agama islam. Ketika waktu istirahat ia tidak memiliki teman seorang pun, bahkan sekelompok temannya yang beragama islam mengejek, menghina, dan membeda-bedakannya dengan siswa lain karena ia dianggap aneh, asing, dan hanya dia sendiri yang beragama budha. Jadi, dari kasus yang terjadi di lingkungan kecil seperti ini harus bisa dijadikan sebuah pelajaran agar kita tidak membeda-bedakan agama lain. Pada hakikatnya manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama, setiap orang bebas memeluk agama, beribadah, dan meyakini kepercayaannya.

Baca Juga :  Pendidikan Seksualitas yang Komprehensif

Indonesia sebagai negara kesatuan yang memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika artinya “walaupun berbeda-beda namun tetap satu jua” juga harus mengedepankan dan mengimplementasikan semboyan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, mengapa? Karena semboyan tersebutlah yang menjadi akses menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik. Negara Indonesia memiliki kekayaan akan keberagaman, jadi sudah sepatutnya kita untuk menjaga keberagaman tersebut dengan saling menghormati, menghargai, dan hidup rukun antar umat beragama.

Jika kita membiarkan diskriminasi agama terus terjadi di negara ini, maka akan memicu terjadinya disintegrasi bangsa. Kita harus konsisten dalam melaksanakan dan menghargai penegakan hukum serta pengajaran Hak Asasi Manusia demi mewujudkan kehidupan masyarakat yang rukun, damai, dan harmonis. Tak lupa juga mengimplementasikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara karena nilai-nilai pancasila dapat mengatur kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

Menyikapi permasalahan diskriminasi agama yang banyak terjadi di negara ini, kita harus bisa menepis dan menghilangkan diskriminasi dari kehidupan bermasyarakat agar negara kita tidak dicap sebagai negara yang buruk karena tidak hidup rukun dan menghormati antar umat beragama, maka sebaiknya mulai dari sekaràng kita harus bisa menunjukkan pada dunia bahwa negara Indonesia tidak lagi seperti yang mereka fikirkan seperti dulu. Jadi, perubahan harus segera dilaksanakan agar Indonesia menjadi negara yang tenteram, sejahtera, harmonis dan disegani oleh negara-negara lain. Rasa persaudaraan setanah air harus ditanamkan dalam diri masing-masing agar kita selalu ingat bahwa zaman sebelum kemerdekaan dahulu para pejuang rela berkorban mati-matian demi melepaskan Indonesia dari tangan penjajah dan mewujudkan Indonesia merdeka, jadi kita harus menghargai perjuangan mereka dengan cara meneruskan perjuangan mereka dalam mewujudkan Indonesia yang merdeka seutuhnya.

Baca Juga :  Hukum untuk Keadilan dan Bukan untuk Pertentangan

Bangsa Indonesia tidak memerlukan adanya diskriminasi agama yang tidak membawa keuntungan sedikitpun bagi kemajuan dan keharmonisan suatu negara.

Diskriminasi agama harus dienyahkan dari negara tercinta ini, dan tidak pantas berada di negara yang kaya akan keberagaman suku, bahasa, agama, dan lainnya. Sudah jelas bahwa negara indonesia ini adalah negara kesatuan yang berarti apapun itu agama, suku, bahasa dan lain-lainnya tetap harus membentuk kesatuan yang padu demi mewujudkan negara yang sejahtera. Jadi ini sudah saatnya kita harus melangkah bergerak melakukan perubahan yang pasti, perubahan yang mengarah pada suatu kondisi yang lebih baik dan mengarah pada kemajuan kehidupan bermasyarakat.

Jadi, solusi yang tepat untuk mengatasi maraknya kasus diskriminasi agama di Indonesia yaitu pertama kita harus mengubah pola fikir yang dulu nya mengira bahwa agama lain itu ancaman bagi agama kita menjadi pola fikir yang jernih, terima akan perbedaan dan menjadikan perbedaan itu suatu hal yang harus kita syukuri karena dengan perbedaan Tuhan menguji kita untuk tetap saling menjalin persaudaraan, saling menghormati, dan saling menghargai karena manusia adalah adalah makhluk sosial yang hidup saling bergantungan atau membutuhkan bantuan orang lain.

Yang kedua yaitu tingkatkan rasa nasionalisme tanah air, memahami dan mengimplementasikan Semboyan Bhineka Tunggal Ika serta nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai ideologi negara dalam kehidupan sehrai-hari. Jadi di sini sangat diharapkan masyarakat antar umat beragama saling memiliki sikap toleransi, hidup rukun, dan sejahtera. *** 

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here