Mendongkrak Pertumbuhan Ekonomi Kepri Melalui Kekuatan Konsumen

0
747
Panusunan Siregar

Oleh: Panusunan Siregar
Bekerja di BPS Provinsi Kepri

Kondisi perekonomian Kepri yang kurang menggembirakan selama Semester I/2017 telah menarik perhatian banyak kalangan mulai dari eksekutif, legislatif, dan para pengamat hingga masyarakat luas terutama para pelaku bisnis. Seiring dengan hal tersebut, Gubernur Kepri secara persuasif dalam berbagai kesempatan, telah mengajak para stakeholders, kepala daerah, dan masyarakat untuk bahu membahu, bergotongroyong secara sinergis dalam membangkitkan kembali kejayaan ekonomi Kepri. Beliau juga menghimbau dan mendorong para kepala daerah untuk membuat terobosan-terobosan baru agar perekonomian di wilayahnya masing-masing dapat tumbuh lebih kencang dan berkualitas. Artinya, pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja untuk menampung para penganggur dan sekaligus mengurangi jumlah penduduk miskin yang pada Maret 2017 angkanya sebesar 6,06 persen.

Industri Sebagai Penyelamat
Badan Pusat Statistik Provinsi Kepri baru saja merilis performa perekonomian Kepri kondisi terkini. Pada rilisnya terungkap bahwa pertubuhan ekonomi (PE) Kepri pada triwulan III/2017 sudah menampakkan tanda-tanda pemulihan yang ditunjukkan dengan pertumbuhan sebesar 2,41 persen bila dibandingkan triwulan yang sama pada 2016 (year on year basis). Capaian ini sudah meningkat lebih dua kali lipat dibandingkan pertumbuhan triwulan II yang angkanya 1,04 persen yoy.

Pertumbuhan ekonomi triwulan III yang relatif signifikan tersebut tidak terlepas dari mulai bangkitnya industri manufaktur yang tumbuh 2,88 persen. Dan bila ditelisik lebih jauh, ternyata faktor pendorong utamanya adalah subsektor industri barang dari logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik yang notabene memiliki kontribusi 20,25 persen terhadap total PDRB Kepri, telah tumbuh secara signifikan, yaitu sebesar 7,49 persen. Kemudian, didukung oleh subsektor industri logam dasar yang tumbuh 4,13 persen dimana pada triwulan-triwulan sebelumnya kedua subsektor tersebut mengalami kontraksi. Dari sini terlihat bahwa industri manufaktur telah berperan sebagai “penyelamat” perekonomian Kepri pada Triwulan III/2017.

Dongkrak Kekuatan Konsumen
Ketika kita berbicara pembangunan, itu artinya membicarakan dan memikirkan peningkatkan taraf hidup rakyat. Dalam konteks ini ada 6 aspek yang menjadi pusat perhatian Bapak Presiden Joko Widodo dalam melaksanakan dan mengukur keberhasilan pembangunan, yaitu pertumbuhan eknomi, tingkat inflasi, tingkat kemiskinan, ketimpangan pendapatan (rasio gini), pengangguran, dan indeks pembangunan manusia (IPM).

Dari keenam indikator di atas, pertumbuhan ekonomi adalah yang paling vital karena merupakan mesin penggerak utama untuk memutar roda perekonomian dalam rangka mengurangi pengangguran, mengentaskan kemiskinan, dan meminumkan kesenjangan pendapatan serta peningkatan kesejahteraan. Itulah sebabnya ketika menetepkan target PE itu harus dihitung secara cermat dan mendalam serta berbasis pada potensi/kekuatan ekonomi wilayah agar perputaran roda perekonomian sebagaimana yang diharapkan dapat terwujud. Dan bilamana target yang ditetapkan tidak tercapai, itu artinya ada masalah yang sudah barang tentu harus dicari solusinya agar dampak yang lebih luas terhadap indikator-indikator strategis yang disebutkan di atas tidak terjadi.

Provinsi Kepri dalam menetapkan target pertumbuhan, tentunya mengacu pada empat kekuatan ekonominya, yaitu sektor industri manufaktur, konstruksi, pertambangan, dan perdagangan yang notabene menyumbang hampir 80 persen terhadap total PDRB Kepri dengan industri manufaktur mengambil porsi sebesar 38 persen. Tat kala eksplorasi migas sudah mulai menurun makakekuatan ekonomi Kepri menjadi tertumpu pada sektor industri manufakturyang notabene memiliki pengaruh sebesar 91 persen terhadap geliat perekonomian Kepri.

Menggantungkan kekuatan ekonomi pada sektor manufaktur, memang bagus dan terbukti cukup dahsyat baik dalam pembentukan nilai tambah maupun dalam penyerapan tenaga kerja. Namun demikian, bukan berarti tanpa kelemahan atau masalah bilamana industri manufaktur tersebut terlalu menggantungkan bahan baku dan/atau bahan penolong/setengah jadi yang berasal dari impor. Muncul masalah ketika nilai kurs mata uang negara lokasi industri, merosot terhadap dollar AS dan hal inilah salah satu penyebab terpuruknya sektor industri manufaktur di Indonesia dan Batam secara khusus.

Berdasarkan hasil pendataan BPS Provinsi Kepri, sekitar 45 s/d 60 persen Industri Manufaktur di Batam masih tergantung pada impor. Ketika rupiah terpuruk nilai tukarnya terhadap dollar AS, sontak performa industri manufaktur di Kepri pun mengalami perlambatan sebagaimana telah diuraikan di atas.

Mengingat “kondisi kesehatan” perekonomian Kepri belum begitu pulih, maka diperlukan strategi jangka pendek untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kepri. Memang, upaya mendatangkan investasi ke Kepri adalah strategi jitu dan bahkan sudah mulai dilakukan sejak periode triwulan III/2017. Tetapi, itu masih membutuhkan tenggat waktu minimal 2 tahun untuk dapat memberikan dampak terhadap perkonomian Kepri. Oleh karena itu, pemberdayaan kekuatankonsumen untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kepri adalah strategi instan yang dapat dilihat dan dirasakan hasilnya.

Argumentasi yang mendukung thesis di atas berbasis pada fakta empiris yang menunjukkan bahwa terhindarnya Kepri dari pertumbuhan negatif tidak terlepas dari masih kuatnya daya beli masyarakat untuk membelanjakan uangnya. Hal ini ditandai dengan masih tumbuhnya konsumsi rumah tangga (share 40,56 persen terhadap total PDRB) yang relatif signifikan, yaitu 6,72 persen pada Semester I/2017. Kekuatan daya beli ini juga ditunjukkan oleh indikator indeks tendensi konsumen (ITK) yang relatif optimis, yaitu 106,02 pada triwulan II/2017 yoy.

Oleh karena itu, sambil menunggu kekuatan industri manufaktur bisa kembali menunjukkan kedigdayaannya under management baru BP Batam yang dinakhodai Pak Lukita D. Tuwo, kita harus dorong kekuatan konsumen itu untuk menjadi mesin penggerak perekonomian Kepri terutama pada sisa waktu 3 bulan terakhir 2017. Dalam konteks ini, program aksi yang harus dirancang dan disegrekan adalah menjaga stabilitas harga yang berarti meredam inflasi, agar daya beli uang masyarakat tetap kuat. Dengan demikian, permintaan akan barang dan jasa dapat terus mengalir dan para produsen akan bisa berproduksi secara stabil yang tentunya akan mendorong pertumbuhan sektor industri manufaktur.

Lebih jauh, efek dominonyaadalah terdorongnya pertumbuhan sektorperdagangan yang merupakan kekuatan terbesar ke 4 perekonomian Kepri dengan share sebesar 8,85 persen selama Januari-September 2017. Untuk itu, tim pengendali inflasi daerah (TPID) provinsi dan kabupaten/kota, sudah perlu bergegas untuk melakukan high level meeting dalam rangka untuk menjaga level inflasi yang stabil dan rendah pada bulan November dan Desember yang cenderung meroket. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here