Mengangkat Dendam Tak Sudah

0
2043
Mohammad Endy Febri SE, MH

Mohammad Endy Febri SE, MH
Warga Kota Tanjungpinang

Hal – hal kecil selalu menarik. Di situlah letak sebuah kesempurnaan bersemayam. Langit dan bulan sabit di kala malam tak perlu diperjuangkan, sudah haknya. Tetapi ,kala muncul gerombolan bintang pada sisi gelapnya, lengkaplah sudah semua keindahan malam.

Baru – baruini, ada hal kecil yang tentunya juga menarik bagi saya. Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah menginstruksikan jajaran perangkat daerahnya agar menggunakan tanjak saban Jumat bagi seluruh pegawai laki – laki, sebagai pelengkap penggunaan baju daerah (baju kurung) di ruang lingkup Pemerintah Kota Tanjungpinang.

Surat Kabar Tanjungpinang Pos, Selasa (7/2) secara tersurat menyampaikan cita – cita Walikota terkait kebijakan dimaksud. Disebutkan bahwa, ia berharap dan mengimbau masyarakat juga mulai dan mau memakai tanjak, sebagai suatu gerakan memperkenalkan budaya Melayu.

Tanjak dalam literatur Melayu dikenal pula dengan istilah tengkolok atau destar. Penggunaan tanjak dengan segala lambang bagi status pemakainya, menurut banyak ahli sejarah Melayu, bermula sejak zaman kesultanan Melayu Melaka. Seyogyanya laki – laki Melayu sejak dulu sudah kerap melilitkan kain di atas kepalanya sebagai penahan sengat mentari semasa bekerja.

Bentuk tengkolok atau tanjak pun beragam, sesuai nama dan maksud sipemakai mencerminkan jati dirinya sebagai sebuah simbol. Tentunya, gelinding zaman juga mempengaruhi reka bentuk tanjak sekaligus pola ‘kepakeman’penggunaannya.

Masa lalu, cara mengikat tengkolok mengikut status seseorang. Makin tinggi kedudukannya, semakin indah dan banyak lipatan kain pada tanjaknya. Jikalau golongan bangsawan, kain tanjak dari kualitas terbaik lalu ujung tanjaknya meninggi dan tajam; melambangkan derajat dan kekuasannya. Apa bila ia seorang jawara atau pendekar, ikatannya lebih kemas dan seolah duduk tegap (rendah) mencerminkan kegagahannya.

Satu yang ternama di antaranya, (jenis lipatan) Tanjak Dendam Tak Sudah. Karakter ini menyimbolkan tanjak para raja diraja, tanjaknya Seri Paduka Baginda Yang DipertuanAgung.

Diperkirakan motif ini awalnya berasal dari Negeri Sembilan Malaysia. Masih banyak lagi jeni stanjak yang dikenal dalam budaya Melayu, di antaranya Belalai Gajah, Setanjak Balung Raja, Sarang Kerengga, Pucuk Pisang, Buana, Elang Menyusur Angin, Elang Melayang, Cogan Daun Kopi dan masih banyak lainnya.

Efek Domino Tengkolok
Imbauan yang disampaikan Walikota tersebut hemat saya merupakan sebuah langkah besar, entahlah bagi orang lain. Instruksi tersebut akan berimbas seperti efek domino. Dua hal besar terjadi; yang sudah pasti adalah, memperkuat identitas budaya di provinsi bunda tanah Melayu ini. Sisanya, menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Minimal, warga Tanjungpinang akan mempelajari kembali bentuk – bentuk tanjak tradisi yang cocok dengan seleranya. Semakin banya kreferensi, originalitas akan lebih tergali dan keinginan untuk terus mengeksplorasi budaya Melayu akan semakin tinggi. Syukur – syukur bermuara pada keinginan untuk belajar sejarah Melayu dalam skala yang lebih luas.

Perantau yang bermukim di Tanjungpinang akan lebih memahami budaya tempatan. Selama baju kurung dikenakan kala terlibat dalam momen tertentu, wawasan budaya Melayu juga akan terserap dengan sendirinya, secara perlahan. Dapat saja pembuka perkenalan dimulai dengan basa – basi perbedaan jenis tanjak, nama dan sejarahnya.

Kemudian, pembuat tanjak eksis di mana–mana, mewujudkan teori pasar. Mengimbangi permintaan yang terus bertambah lalu menaikkan harga dengan jaminan kualitas. Selain meningkatkan penghasilan warga, para pengrajin ini akan lebih ketat belajar budaya, khususnya adat Melayu Semenanjung, yang secara tak sadar menjadikan mereka pamong–pamong pelestari budaya dengan ilmu yang telah dipelajarinya dan menularkannya pada konsumen.

Rasanya suatu hari nanti, sebagian besar laki–laki di pulau ini akan memiliki lebih dari satu tanjak, menyesuaikan sarung atau songketnya. Peluang ini sangat menjanjikan untuk mereka yang terus belajar.

Sangat mudah menapak bisnis baru ini. Kain dan motif yang dikehendaki dapat dibawa oleh konsumen sedangkan produsen hanya menghimpun kreativitas. Modal awalnya sangat terjangkau.

Intinya, jangan pandang sebelah mata sesuatu yang terlihat kecil ini. Kreativitas pembuat pin atau bros berbahan kuningan dan besi juga dapat terpacu akibat instruksi ini. Wujud keris, cogan, bulan bintanga taus imbol gelombang bahkan siluet sampan layar dapat saja direkatkan pada sang tanjak.

Akhirnya, budaya Melayu menjadi atap yang meneduhi seluruh keberagaman di Kepulauan Riau dan bila ada event budaya yang mempertemukan masyarakat seprovinsi ini, dengan melihat tengkolok atau tanjak semata, kita dapat tahu siapapun berasal dari mana, karena tiap kabupaten – kota memiliki identitas tanjak khas daerah. Semoga saja. Mau membantu ekonomi tempatan? Mari bertanjak! ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here