Mengapresiasi Perguruan Tinggi Daerah

0
377
Meliyana Saputri

“Dulu, nama besar kampus disebabkan oleh karena kehebatan mahasiswanya. Sekarang, mahasiswa ingin hebat karena nama besar kampusnya.”  Pidi Baiq

Oleh: Meliyana Saputri
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH

Ungkapan tersebut sesuai untuk mengungkapkan fenomena yang terjadi di kalangan mahasiswa saat ini. Mahasiswa kini lebih bangga akan almamater yang telah bernama daripada menciptakan almamater yang akan bernama.

Sebelum masuk ke dunia mahasiswa ada proses yang harus dilalui oleh siswa yaitu penentuan perguruan tinggi mana yang akan dipilih untuk melanjutkan pendidikannya. Dengan pelanjutan ini, maka status mereka yang awalnya seorang siswa akan berubah menjadi mahasiswa. Namun banyak dari siswa yang sudah “terdoktrin” untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang sudah terakreditasi namanya. Seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, dan sebagainya. Pada dasarnya dalam pikiran mereka tertanam anggapan bahwa akan jadi suatu prestasi besar saat mereka bisa diterima di perguruan tinggi yang telah memiliki nama besar, goals dari mereka selama ini mengikuti kursus dan pemantapan materi selama sekolah adalah untuk bisa duduk di perguruan tinggi yang didambakan. Bahkan banyak calon mahasiswa yang rela menunda kuliah demi mempersiapkan untuk bisa kuliah di perguruan tinggi yang diinginkan. Padahal setiap perguruan tinggi memiliki keunggulannya masing-masing.

Berbicara mengenai perguruan tinggi yang telah “besar”, maka akan mengantarkan kita pada anggapan bahwa sudah pasti perguruan tinggi itu memiliki segudang keunggulan dan dapat menjamin menghasilkan lulusan yang berkualitas. Namun faktanya, sudah jelas bahwa perguruan tinggi ternama pun tidak dapat menjamin kesuksesan seseorang di masa depan. Walaupun banyak juga lulusan perguruan tinggi ternama bisa langsung mendapat pekerjaan mapan dan menjadi orang sukses namun, banyak juga lulusan kampus ternama yang hanya menjadi orang biasa-biasa saja, bahkan cenderung madesu yaitu masa depan suram. Terlebih saat ini perusahaan semakin selektif dalam memilih calon pegawai, jadi perusahaan tidak memandang calon pegawai dari almamater kampusnya. Berdasarkan hasil studi Willis Towers Watson tentang Talent Management and Rewards, sejak tahun 2014, 8 dari 10 perusahaan di Indonesia kesulitan mendapat lulusan perguruan tinggi yang siap pakai, meski dari perguruan tinggi ternama sekalipun.

Sebaliknya, banyak juga lulusan perguruan tinggi “biasa” yang lebih sukses. Lulusan perguruan tinggi “biasa” juga bukan berarti tidak memiliki kemampuan bersaing dengan lulusan perguruan tinggi ternama. Terdapat juga perusahaan-perusahaan dalam negeri maupun multinasional yang tidak semuanya diisi oleh lulusan perguruan tinggi ternama, ada juga yang berasal dari perguruan tinggi yang biasa.

Kesuksesan bukan hanya masalah tempat dimana kita menimba ilmu, tetapi bagaimana karakter yang harus ada dan dikembangkan didalam diri. Sehebat apapun perguruan tinggi, jika kita tidak memiliki keinginan untuk maju maka tidak akan ada kesuksesan yang bisa kita raih. Memiliki IPK tinggi saja tidak menjamin kesuksesan, apalagi jika hanya mengandalkan gelar dari perguruan tinggi ternama. Karena jika IPK tinggi tetapi tidak dibarengi dengan pengalaman organisasi ataupun kreativitas maka hal itu hanya akan sia-sia.

Membicarakan tentang mahasiswa maka muncullah pengertian yaitu sekelompok orang yang sedang menekuni bidang ilmu tertentu dalam lembaga pendidikan formal baik melalui universitas, sekolah tinggi, institut, maupun politeknik. Kelompok ini juga disebut sebagai “golongan intelektual muda” yang penuh bakat dan potensi. Terdapat empat peran yang dimiliki mahasiswa yakni sebagai agen perubahan, kekuatan moral, kontrol sosial, dan cadangan potensial.

Sebagai agen perubahan, mahasiswa dituntut bersifat kritis. Diperlukan implementasi yang nyata. Dalam posisi ini, mahasiswa adalah aset yang sangat berharga. Harapan tinggi suatu bangsa terhadap mahasiswa adalah menjadi generasi penerus yang memiliki loyalitas tinggi terhadap kemajuan bangsa.

Sebagai kekuatan moral, masyarakat akan memandang tingkah laku, perkataan, cara berpakaian, cara bersikap, dan sebagainya yang berhubungan dengan moral sebagai acuan dasar mereka dalam berperilaku. Disinilah mahasiswa harus di tuntut keintelektualannya dalam kekuatan moralnya di masyarakat.

Sebagai kontrol sosial, mahasiswa berperan untuk mengontrol kondisi-kondisi sosial yang berhubungan langsung dengan masyarakat dengan memanfaatkan media yang tersedia. Jadi mahasiswa adalah pemuda harapan masyarakat dan bukan sekadar penganut hedonistik.

Sebagai cadangan potensial, bahwa sebagai mahasiswa yang nantinya akan memiliki suatu keahlian dalam bidang ilmu tertentu maka ia harus menerapkannya didalam masyarakat. Disinilah tingkat rasa kedaerahan seorang lulusan mahasiswa akan di pertanyakan. Karena banyak lulusan-lulusan mahasiswa yang melupakan daerahnya dan membiarkan daerahnya tertinggal, karena mereka sudah dilupakan oleh uang dan jabatan yang mereka dapat di daerah lain. Seharusnya kita sebagai putra-putri daerah adalah cadangan potensial untuk memajukan daerah kita, dan menjadi titik terang atau solusi untuk mengatasi persoalan di daerah. Kuliah di perguruan tinggi ternama memang impian banyak anak muda. Namun, tidak semua orang bisa mendapatkan tempat di perguruan tinggi ternama walaupun telah berusaha semaksimal mungkin. Oleh karena itu, jangan ada rasa minder jika kita hanya bisa kuliah di perguruan tinggi yang biasa-biasa saja.

Mungkin di perguruan tinggi “biasa” tidak terdapat fasilitas yang semewah dan sehebat perguruan tinggi lain. Inilah konsekuensi dari perguruan tinggi yang sedang berkembang, jadi wajar saja jika fasilitasnya juga tidak semewah perguruan tinggi yang notabene sudah maju. Namun, hal ini bukan alasan untuk kita lantas menyerah. Jika sudah masuk di sini maka inilah yang kita punya dan sekarang tugas kita untuk memaksimalkannya. Selain itu ada harapan jika di perguruan tinggi kita memiliki lebih banyak dosen ahli. Saat itu masih jadi mimpi dan keinginan, maka kita harus mengasah otak untuk berpikir lebih mandiri. Memiliki banyak dosen ahli atau tidak, sebenarnya kita mempunyai kapasitas berpikir sendiri. Justru ini saatnya kita berusaha keras untuk mencari informasi dari berbagai sumber secara mandiri karena seorang mahasiswa harus memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here